YOGYAKARTA, POPULI.ID – Di usia yang bahkan belum genap 23 tahun, Safira Nur Aini mengukir prestasi akademik yang sangat membanggakan.
Dia menjadi lulusan termuda Program Magister pada wisuda Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (23/7) lalu.
Perempuan asal Temanggung ini menyelesaikan studi Magister Agronomi pada usia 22 tahun 7 bulan 18 hari—hampir enam tahun lebih muda dari rata-rata usia lulusan magister periode ini yang mencapai 28 tahun 6 bulan.
Lahir di lingkungan agraris di lereng Gunung Sumbing, Desa Ngaditirto, Kabupaten Temanggung, Safira tumbuh dengan kedekatan alami pada dunia pertanian.
Sejak kecil, ia terbiasa bersentuhan langsung dengan tanah, tanaman, dan dinamika hidup petani.
“Saya melihat sendiri bagaimana petani berjuang dengan berbagai keterbatasan. Dari sanalah keinginan saya muncul: ingin jadi bagian dari solusi,” tuturnya.
Perjalanan intelektualnya dimulai dari bangku S-1 Agronomi UGM pada tahun 2020.
Tak butuh waktu lama bagi Safira menunjukkan kegigihannya.
Pada 2023, ia mendapat tawaran mengikuti program fast track ke jenjang magister, mempercepat langkahnya menjadi akademisi muda dengan visi besar.
“Saya ingin membawa perubahan nyata. Prodi Agronomi membekali saya dengan teknologi, inovasi, dan pendekatan berkelanjutan yang bisa menjawab tantangan pertanian hari ini,” ujarnya.
Tak hanya berprestasi di kelas, Safira juga aktif bekerja paruh waktu di lingkungan Akademik Fakultas Pertanian UGM.
Pengalaman ini membuka wawasannya tentang dunia pendidikan tinggi, bahkan menginspirasi cita-citanya menjadi dosen di masa depan.
Tesis yang ia teliti pun mencerminkan kepekaannya terhadap isu lingkungan: Potensi Tanaman untuk Bioherbisida pada Aktivitas Pertanian.”
Bersama pembimbing Dr. Dyah Weny Respatie, S.P., M.Si., dan Prof. Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc., Safira meneliti alternatif alami pengganti herbisida kimia yang selama ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem.
“Saya percaya solusi terbaik sering kali datang dari alam itu sendiri,” ujarnya yakin.
Langkah cepat Safira di dunia pendidikan tak lepas dari dukungan keluarganya.
Ia memulai pendidikan dasar pada usia 5,5 tahun, membuatnya selalu lebih muda dari teman seangkatannya di setiap jenjang sekolah.
Meski begitu, prestasi dan semangat belajarnya justru semakin menonjol.
Sebagai perempuan muda di bidang yang kerap didominasi laki-laki, Safira tak gentar.
Baginya, pertanian bukan hanya soal hasil panen, tapi juga soal keberlanjutan dan tanggung jawab terhadap alam.
“Ilmu pertanian adalah kunci masa depan. Kita tak hanya bicara efisiensi, tapi juga bagaimana menjaga bumi untuk generasi selanjutnya,” tegasnya.
Safira berharap apa yang ia pelajari bisa memberi dampak langsung bagi para petani, khususnya di kampung halamannya.
Ia juga menyuarakan harapannya agar semakin banyak perempuan yang berani menempuh pendidikan tinggi dan mengambil peran strategis dalam isu-isu krusial seperti ketahanan pangan.
“Pendidikan adalah bentuk pengabdian untuk negeri. Setiap anak muda punya tanggung jawab untuk ikut memajukan Indonesia. Kita tidak harus jadi pejabat untuk berkontribusi; cukup mulai dari bidang yang kita tekuni,” katanya.