SLEMAN, POPULI.ID – Bahasa tubuhnya tenang, tutur katanya selalu santun, dan perawakannya tinggi besar—itulah kesan pertama dari seorang Shodiqul Qiyar. Banyak orang mengenalnya sebagai salah satu tokoh politik berpengaruh di DIY.
Namun tak banyak yang tahu, perjalanan Qiyar menuju dunia politik tidak dibangun dari ruang ber-AC atau keluarga berada. Justru dimulai dari debu gipsum dan perjuangan panjang seorang anak petani.
Dari Ladang Grobogan ke Kota Pelajar
Lahir di Grobogan pada 1982, Qiyar tumbuh dalam keluarga sederhana. Ibunya meninggal saat ia masih sekolah, meninggalkan beban dan tanggung jawab besar pada pundak muda Qiyar. Ayahnya, seorang petani dengan ekonomi pas-pasan, tak mampu membiayai pendidikan seluruh anak-anaknya.
“Saya harus mandiri. Saya menyekolahkan adik-adik saya sampai kuliah, itu tekad saya sejak kecil,” kenangnya.
Berbekal niat kuat dan keberanian merantau, Qiyar menuju Yogyakarta. Tanpa sanak saudara, tanpa modal besar, hanya tekad bahwa pendidikan adik-adiknya tidak boleh terhenti.
Menghidupkan Asa dari Sebilah Gergaji Gipsum
Pekerjaan pertama Qiyar bukan di kantor, melainkan sebagai tukang pasang gipsum. Dari sinilah ia belajar arti kerja keras, konsistensi, dan kejujuran. Hari-harinya dihabiskan mengukur, memotong, memasang, dan mengantarkan pesanan.
Perjalanan itu tidak mudah, namun ia menjalani setiap proses dengan penuh syukur. Usaha kecil itu perlahan berkembang, hingga akhirnya Qiyar berhasil mendirikan jaringan usahanya sendiri.
Terhitung saat ini politisi Partai Gerindra tersebut telah memiliki tujuh cabang toko gipsum di berbagai penjuru DIY—sebuah bukti bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Langkah Masuk Politik: Dari Pengungsian Gempa 2006
Guncangan besar yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 meninggalkan cerita tersendiri bagi Qiyar. Dari aktivitas sosial di masa pemulihan itulah ia kemudian diajak masuk ke Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).
“Saya satu-satunya anggota dewan dari PDP di DIY waktu itu,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia pertama kali terpilih dari Dapil Gamping–Mlati. Pernah tidak terpilih, namun ia tidak berhenti. Qiyar bangkit lagi, maju lagi, dan menang lagi. Keteguhan itu lahir dari prinsip hidup yang sejak dulu ia junjung: konsisten, jujur, dan bekerja keras.
Peran Saat Ini: Pengabdian yang Terus Ia Jaga
Kini, Shodiqul Qiyar mengemban amanah sebagai:
- Wakil Ketua Komisi C DPRD Sleman,
- Ketua Fraksi Gerindra Sleman,
- Sekretaris DPC Gerindra Sleman.
Di balik jabatan yang ia sandang, Qiyar selalu mengingat dua hal: pesan orang tua dan teladan dari sosok yang menginspirasinya, Toni Wijaya, yang mengajarkan arti komitmen dan integritas.
“Prinsip saya sederhana: komitmen dan jujur, kapan pun itu”
Sosok yang Tidak Lupa Akar
Perjalanan Qiyar bukan sekadar kisah sukses; ini adalah kisah tentang keberanian merangkai harapan dari keadaan yang serba terbatas. Dari desa kecil di Grobogan, dari pekerjaan sebagai tukang pasang gipsum, hingga ruang rapat DPRD—Qiyar tidak pernah melupakan akar atau alasan ia berjuang: keluarga, amanah, dan niat mengabdi pada masyarakat.











