AUSTRALIA, POPULI.ID – Tragedi berdarah yang terjadi di Pantai Bondi, Sydney, Australia menghentak dunia.
Peristiwa memilukan yang terjadi akhir pekan kemarin tersebut terjadi kala ratusan orang memadati kawasan Pantai Bondi merayakan festival Hanukkah selama delapan hari.
Berikut sederet fakta tentang tragedi berdarah di penghujung tahun 2025 tersebut.
1. Serangan kilat
Mengutip dari berbagai sumber, peristiwa memilukan tersebut terjadi pukul 18.47 waktu setempat.
Dari video singkat yang beredar terlihat sejumlah pengunjung pantai Bondi berhamburan menyelamatkan diri setelah tembakan meletus di tengah kerumunan.
Menurut informasi dari saksi, aksi keji tersebut berlangsung selama 10 menit.
2. Korban Bertambah
Korban tewas setelah penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, Australia bertambah menjadi sedikitnya 16 orang dan 40 lainnya masih dirawat di rumah, kata Kepolisian New South Wales (NSW) pada Minggu (14/12/2025).
“Informasi lebih lanjut akan segera disampaikan,” kata polisi dalam pernyataan di platform media sosial X.
Komisioner Kepolisian NSW Mal Lanyon secara resmi menyatakan penembakan massal tersebut sebagai insiden terorisme.
3. Menyasar Komunitas Yahudi
Perdana Menteri NSW Chris Minns mengatakan insiden itu dirancang untuk menargetkan komunitas Yahudi.
Polisi NSW, melalui pernyataan resminya, mengonfirmasi bahwa seorang pria yang diyakini sebagai salah satu pelaku penembakan termasuk di antara korban tewas. Sementara itu, terduga pelaku kedua berada dalam kondisi kritis.
Dua petugas polisi termasuk di antara mereka yang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Polisi juga menyatakan bahwa sejumlah barang mencurigakan yang ditemukan di sekitar lokasi sedang diperiksa oleh petugas spesialis, dan zona larangan masuk telah diberlakukan.
“Lokasi kejadian perkara yang luas telah ditetapkan, dan penyelidikan kini sedang berlangsung. Tidak ada laporan mengenai insiden lain di Sydney yang terkait dengan kejadian ini,” tambah pernyataan Kepolisian NSW.
4. Pelaku Ayah dan Anak
Polisi New South Wales (NSW) mengungkapkan bahwa para terduga pelaku penembakan di Pantai Bondi, Sydney, merupakan ayah dan anak.
Insiden penembakan terjadi pada Minggu (14/12/2025), ketika beberapa pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah warga di Pantai Bondi. Kepolisian NSW melaporkan 16 orang tewas dan 40 lainnya terluka.
“Para pelaku adalah seorang pria berusia 50 tahun dan seorang pria berusia 24 tahun, yang merupakan ayah dan anak. Pria berusia 50 tahun telah meninggal dunia, sementara pria berusia 24 tahun saat ini dirawat di rumah sakit,” kata Komisaris Kepolisian NSW Mel Lanyon dalam konferensi pers.
5. Perhatian Dunia
Amerika Serikat, Prancis, hingga Iran mengecam keras penembakan yang terjadi di Pantai Bondi, Sydney, Australia, yang berlangsung pada hari raya umat Yahudi, Hanukkah pada Minggu (14/12/2025).
“Amerika Serikat dengan tegas mengutuk serangan teroris di Australia yang menargetkan perayaan Yahudi. Antisemitisme tidak memiliki tempat di dunia ini. Doa kami menyertai para korban serangan mengerikan ini, komunitas Yahudi, serta rakyat Australia,” Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam pernyataannya di platform X.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk juga menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga para korban.
“Antisemitisme, di mana pun ia muncul, selalu berujung pada tindakan kriminal. Hari ini, Polandia berdiri bersama Australia dalam masa duka ini,” kata Tusk di X.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menghubungi Perdana Menteri Australia Anthony Albanese untuk menyampaikan dukungan, lapor penyiar BFMTV. Dalam pernyataannya, Macron mengatakan Prancis turut berduka atas para korban dan yang terluka.
“Prancis menyampaikan simpati kepada para korban, mereka yang terluka, serta orang-orang terkasih mereka. Kami turut merasakan duka rakyat Australia dan akan terus berjuang tanpa henti melawan kebencian antisemit, di mana pun ia terjadi,” ucap Macron.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic turut mengutuk serangan teroris tersebut dan menegaskan bahwa negaranya menolak antisemitisme serta mendukung komunitas Yahudi.
Presiden Lebanon Joseph Aoun juga mengutuk keras serangan itu.
Ia menuturkan tragedi tersebut merupakan akibat dari sistem yang menyebarkan gagasan kebencian, ekstremisme, dan permusuhan terhadap pihak lain, serta menggunakan kekerasan untuk memonopoli agama, etnis, atau politik.
Iran, yang hubungannya dengan Australia memburuk setelah Canberra pada November menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran sebagai organisasi teroris, juga mengecam penembakan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menekankan penolakan terhadap kekerasan terhadap warga sipil.
“Sebagai prinsip, Iran mengutuk serangan kekerasan terhadap warga sipil di Sydney, Australia. Terorisme dan pembunuhan massal harus dikutuk, di mana pun itu dilakukan, karena merupakan tindakan ilegal dan kriminal,” kata Baghaei di X.








