YOGYAKARTA, POPULI.ID – Upaya pengelolaan sampah melalui inovasi pirolisis atau pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar dinilai dapat menjadi solusi alternatif persoalan sampah di Kota Yogyakarta.
Inovasi tersebut lahir dari kreativitas masyarakat Kampung Tompeyan yang tergabung dalam Bank Sampah Berlian RW 02 Tompeyan. Dengan memanfaatkan peralatan bekas seperti tabung freon dan drum, mereka merancang alat pirolisis sederhana yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar cair.
Pengelola Bank Sampah Berlian RW 02 Tompeyan, Eka Yulianta, mengatakan bahan bakar yang dihasilkan memiliki kualitas setara bensin premium.
“Sebenarnya ini masuknya RON 87 atau bensin super premium. Kalau nanti kita destilasi, bisa ditingkatkan ke RON 94, di atas Pertamax,” ujar Eka saat ditemui dalam uji coba alat, Minggu (14/12/2025).
Namun demikian, bahan bakar hasil pirolisis tersebut saat ini masih terbatas penggunaannya.
“Yang jelas, hasilnya baru bisa digunakan untuk kendaraan motor dua tak,” katanya.
Meski begitu, Eka menilai inovasi ini dapat menjadi salah satu alternatif nyata untuk mengurangi permasalahan sampah plastik di Kota Yogyakarta.
Proses pirolisis dilakukan dengan memanfaatkan uap hasil pembakaran plastik yang kemudian dikondensasikan hingga menjadi cairan. Bahan baku plastik berasal dari sampah warga yang telah melalui proses pemilahan.
“Sampah yang kami terima dicuci dan dikeringkan terlebih dahulu, seperti kemasan deterjen dan sachet kopi,” jelasnya.
Selain itu, styrofoam juga dapat diolah menggunakan alat tersebut, meski proses pembakarannya harus dilakukan secara terpisah. Suhu pembakaran dalam proses pirolisis ini berkisar antara 400 hingga 600 derajat Celsius.
Saat ini, kapasitas alat mampu menampung sekitar 10 kilogram plastik dalam sekali proses. Ke depan, pihaknya berencana meningkatkan kapasitas pembakaran.
“Tinggal nanti kapasitas alatnya kami tingkatkan, apakah dengan memodifikasi ruang pembakar atau sistem pemanasnya,” ujarnya.
Tak hanya menghasilkan bahan bakar, residu pembakaran berupa arang aktif juga dinilai bermanfaat bagi lingkungan.
“Arang aktifnya bisa membantu mengembalikan unsur hara tanah dan mengurangi bakteri E. coli. Ini bisa jadi alternatif selain tawas atau kaporit,” kata Eka.
Ia menambahkan, penggunaan arang aktif pada lubang biopori juga dapat mempercepat penguraian sampah organik di tanah, termasuk di area sekitar septic tank.
Eka menegaskan pihaknya tidak keberatan apabila inovasi tersebut dikembangkan dan diproduksi secara massal, terutama untuk membantu mengurangi beban sampah di Kota Yogyakarta.
Menurutnya, alat pirolisis berbasis komunitas sangat relevan di tengah penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan serta sembari menunggu berjalannya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
“Ke depan ini sangat dibutuhkan masyarakat, terutama dalam tiga sampai empat tahun sebelum PLTSa benar-benar berjalan,” katanya.
“Kalau proyek besar orientasinya bisnis, sementara pemerintah harus fokus mengatasi masalah. Setelah TPA Piyungan ditutup, sampah tidak bisa lagi dikirim ke sana, sehingga perlu dikelola dengan cara-cara seperti ini,” imbuhnya.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Oleg Yohan, mengapresiasi keseriusan Bank Sampah Berlian RW 02 Tompeyan dalam menghadirkan inovasi pengelolaan sampah.
Ia menilai alat pirolisis tersebut berpotensi dikembangkan secara massal, meski masih memerlukan penyempurnaan dari sisi teknis dan kajian ekonomi.
“Perlu diteliti secara ekonomi dan teknis. Kalau nanti dikembangkan di tingkat RT atau RW, tentu harus ada penyempurnaan. Ini masih uji coba, jadi perlu pendampingan ahli,” jelasnya.
Oleg menambahkan, pemerintah daerah memiliki ruang untuk mendukung pengembangan inovasi tersebut.
“Kalau nanti dikembangkan secara massal, biayanya tentu bisa lebih murah. Soal sampah plastik ini tanggung jawab pemerintah juga, dan kami punya anggaran untuk membantu,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)








