SLEMAN, POPULI.ID – Di antara tebing-tebing kapur Tebing Breksi, Prambanan, Sleman, Sutrisno (48), atau yang akrab disapa Bang Pello, berdiri sambil mengamati pengunjung yang mengantre wahana kamera 360 yang ia kelola.
Musim Libur Natal dan tahun baru menjadi berkah bagi pria asal Keraton, Kota Yogyakarta ini. Keramaian tersebut telah berlangsung sekitar satu minggu ke belakang dan diperkirakan masih akan berlanjut hingga awal tahun 2026 mendatang.
“Alhamdulillah ramai. Sejak libur sekolah hari Jumat kemarin sudah mulai penuh, dan kemungkinan terus ramai sampai tanggal 1,” ujar Bang Pello saat ditemui, Senin (29/12/2025).
Ia menjelaskan, setiap harinya wahana foto dan video 360 derajat dapat melayani hampir 100 pengunjung.
Minat wisatawan cukup tinggi karena hasil rekaman bisa langsung diterima dan disimpan melalui ponsel milik masing-masing pengunjung.
“Dalam sehari nyaris 100 orang. Karena menggunakan HP pengunjung sendiri, hasilnya bisa langsung dinikmati,” tuturnya.
Terkait tarif, Bang Pello menyebutkan biaya yang dikenakan relatif murah. Pengunjung cukup membayar Rp5.000 per orang atau Rp10.000 untuk dua orang. Sementara itu, anak-anak kecil, khususnya balita usia tiga tahun, tidak dikenakan biaya.
“Durasi putarannya satu menit. Dulu sempat ada atraksi burung hantu, tapi sekarang sudah tidak ada karena terkendala izin dari BKSDA,” tambahnya.
Dari usahanya inilah, ia bisa memeroleh pendapatan yang melebihi upah minimum di Yogyakarta.
Mencari Kebebasan
Pello bercerita usahanya tersebut bermodal alat tongkat berputar yang direkayasa supaya wisatawan bisa mengabadikan momen lewat rotasinya.
Sebelum terjun sebagai pelaku wisata di Breksi, siapa sangka, ia pernah menjalani hari-hari panjang sebagai cleaning service di sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“Saya resign karena saya suka kebebasan,” kata Sutrisno saat ditanya.
Keputusan itu tidak mudah. Setiap hari dulu ia berangkat pukul enam pagi dan baru pulang saat petang. Pekerjaan harus sempurna, tekanan dari atasan tak terelakkan.
Di balik rutinitas itu, Bang Pello pun menyimpan keinginan sederhana, bekerja tanpa tekanan dan dekat dengan keluarga.
Tahun 2013 menjadi titik balik. Saat Tebing Breksi masih sepi dan belum dikenal luas sebagai destinasi wisata, Bang Pello justru melihat peluang.
“Waktu itu masih sepi banget. Tapi saya lihat ke depannya bagus,” ujarnya.
Ia mulai datang sendiri, berkeliling, dan memotret pengunjung yang datang.
Modalnya nyaris tak ada. Kreativitaslah yang menjadi senjata. Ia menukar burung hantu peliharaannya agar bisa digunakan sebagai properti foto. Kadang ia meminjam kostum badut dari teman kos.
Pelan tapi pasti, pengunjung mulai tertarik. Foto-foto unik menjadi daya tarik tersendiri.
Awalnya, banyak yang meremehkan. Teman-temannya bersikap cuek, bahkan apatis.
“Belum lihat hasilnya, ya direndahkan,” katanya sambil tersenyum.
Namun setelah penghasilan mulai terlihat, satu per satu ikut terjun. Tebing Breksi pun berkembang, dari yang dulu dipandang sebelah mata hingga kini mampu menghidupi banyak orang.
Bang Pello masih ingat betul masa-masa awal. Pendapatan pertamanya hanya Rp23 ribu sehari.
“Masih ingat banget waktu itu ya cuma Rp23 ribu aja sehari,” katanya.
Momentum datang saat Lebaran 2014, ketika Breksi mulai dikenal. Puncaknya terjadi pada 2016, masa keemasan.
“Sehari bisa sampai Rp1 juta,” kenangnya.
Lalu pandemi Covid-19 datang. Kawasan wisata ditutup, penghasilan terhenti. Masa itu menjadi ujian terberat. Untuk bertahan hidup, Sutrisno berjualan ayam warna-warni.
Setelah pandemi mereda, Breksi kembali dibuka dengan aturan ketat seperti menggunakan masker wajib, pengunjung dibatasi. Perlahan, roda ekonomi kembali berputar.
Kini Bang Pello tak lagi membawa-bawa burung hantu untuk foto. Hewan-hewan itu sudah dijual. Ia masih memelihara ayam dan ular, meski bukan lagi untuk jasa foto.
Fokusnya beralih ke inovasi lain, yakni wahana video 360 derajat yang belakangan viral di media sosial, terutama TikTok.
“Ide 360 itu karena lihat di TikTok. Di ruang aja bagus, apalagi di alam,” ujarnya. Ia berdiskusi dengan teman, mencoba konsep baru, dan menyesuaikan dengan tren.
Musik pun dipilih dari lagu-lagu viral, termasuk lagu-lagu timur yang sedang naik daun. Pengunjung bebas memilih lagu karena sistemnya fleksibel, terhubung ke YouTube.
Soal penghasilan, Bang Pello mengaku bersyukur. Dalam sehari, ia bisa melayani hingga 80 orang, dengan pendapatan yang jika dirata-rata sudah melampaui UMR Yogyakarta.
Dari hasil itu, ia hanya membayar 10 persen untuk kebersihan kepada pengelola Breksi, skema yang menurutnya jauh lebih manusiawi dibanding tempat wisata lain.
Budaya saling mengawasi antarpedagang juga membuat harga tetap terkendali. Jika ada yang menaikkan harga terlalu tinggi, pedagang lain tak segan mengingatkan atau melapor.
Bagi Sutrisno, yang paling berharga bukan hanya uang, tetapi waktu dan kebebasan. Ia bisa mengantar anak sekolah, pulang kapan saja, bahkan memilih hari libur sendiri.
“Rasanya kayak punya perusahaan sendiri,” ujarnya.
Dari empat anaknya, satu di antaranya sudah bisa membeli motor dari hasil keringatnya sendiri, ikut membantu usaha foto di Breksi sejak kecil.
“Motor itu hasil kerja dia sendiri,” katanya dengan nada bangga.
Meski ada fasilitas kuliah gratis bagi warga sekitar, Bang Pello tak memaksakan anaknya melanjutkan pendidikan tinggi. Baginya, setiap anak punya jalan sendiri.
“Yang penting dia bisa mandiri dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Tebing Breksi Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata
Tebing Breksi, yang kini dikenal dengan nama resmi Tebing Breksi Piroklastik, mengalami transformasi luar biasa.
Dari kawasan pertambangan rakyat yang dulu hanya dipenuhi debu dan alat berat, kini berubah menjadi salah satu destinasi wisata terkemuka di Yogyakarta.
Di balik perkembangan ini, ada peran besar masyarakat lokal, yang terlibat langsung dalam pengelolaan dan ekonomi wisata.
Kholik Widayanto, pengelola wisata Tebing Breksi, menjelaskan bahwa konsep pariwisata yang diusung adalah berbasis masyarakat, di mana masyarakat lokal wilayah Sambirejo, Prambanan menjadi pelaku utama dalam semua aspek pengelolaan.
“Lebih dari 95% karyawan dan pengelola adalah warga lokal. Hanya ada dua orang dari luar yang bekerja di sini,” katanya.
Menurut Kholik, pengelolaan wisata tersebut dilaksanakan melalui BUMDES (Badan Usaha Milik Desa), yang membentuk berbagai unit usaha.
“Semua warga yang ingin terlibat dalam ekonomi wisata di sini, baik itu membuka warung, menjadi guide, atau membuat wahana foto, harus melalui satu pintu, yaitu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau unit usaha yang ada di bawahnya,” tambahnya.
Di antara prioritas utama dalam pemberdayaan ekonomi wisata adalah memberikan kesempatan kepada mantan penambang yang sebelumnya bekerja di tambang batu kapur Breksi.
Transformasi ini tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga memberikan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan destinasi wisata.
“Ekonomi wisata di Breksi ini sangat menguntungkan bagi warga sekitar. Selain wahana foto, ada juga usaha lain seperti jip wisata, warung makan, dan penginapan yang dikelola langsung oleh warga. Ini menjadi roda penggerak ekonomi lokal yang saling mendukung,” jelas Kholik.
Bagi Bang Pello dan banyak pelaku wisata lainnya, keberhasilan Tebing Breksi bukan hanya soal keuntungan materi. Lebih dari itu, ini adalah simbol perubahan.
Dari sekadar pekerja biasa menjadi pelaku wisata yang menghidupi diri dan keluarga, mereka kini memiliki peran penting dalam menjadikan Breksi sebagai salah satu destinasi wisata yang diperhitungkan di Yogyakarta. (populi.id/Hadid Pangestu)












