SLEMAN, POPULI.ID – Direktur RSJ Grhasia Yogyakarta, Akhmad Akhadi, menyampaikan bahwa risol mayo merupakan jenis makanan yang paling berpotensi menjadi penyebab keracunan yang dialami mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) saat mengikuti kegiatan Early Clinical Exposure (ECE).
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh beberapa jenis makanan ringan, yakni risol mayo, tahu sarang burung, dan banana cake. Namun berdasarkan alur kejadian serta proses pengolahan makanan, risol mayo dinilai memiliki risiko paling tinggi.
“Dari cara pengelolaan dan penanganannya, risol mayo menjadi makanan yang paling patut dicurigai,” kata Akhmad Akhadi saat konferensi pers di RSJ Grhasia, Sleman, Senin (5/1/2025).
Hasil penelusuran epidemiologis menunjukkan bahwa risol mayo tersebut dibuat pada Minggu, 28 Desember. Karena baru akan didistribusikan keesokan harinya, makanan tersebut disimpan di dalam freezer terlebih dahulu. Pada Senin pagi, risol kemudian digoreng dan dikirim ke RSJ Grhasia sekitar pukul 07.00 WIB.
Konsumsi untuk kegiatan ECE disediakan oleh salah satu perusahaan jasa boga besar yang terdaftar dalam marketplace pengadaan elektronik M-Biz (Mbizmarket). Akhmad menjelaskan bahwa sesuai kebijakan pemerintah, pengadaan barang dan jasa dengan nilai di atas Rp2 juta wajib dilakukan melalui sistem elektronik.
“Tidak semua penyedia jasa boga bisa bergabung di Mbiz karena harus memenuhi sejumlah persyaratan,” jelasnya.
Selama pelaksanaan ECE tahun ini yang dibagi dalam tujuh gelombang, rumah sakit selalu menggunakan jasa perusahaan yang sama. Kasus keracunan ini terjadi pada gelombang ketujuh, yang berlangsung pada 28–29 Januari 2025, sekaligus menjadi dua hari terakhir rangkaian kegiatan.
Secara medis, Akhmad menerangkan bahwa lama perawatan pasien keracunan makanan bergantung pada tingkat keparahan. Umumnya membutuhkan waktu antara lima hingga tujuh hari, meskipun ada yang pulih lebih cepat dalam satu hingga dua hari.
“Faktor jenis kuman, jumlah mikroorganisme, serta kondisi tubuh masing-masing sangat berpengaruh. Jika jumlah kuman terlalu banyak, tentu risikonya lebih besar,” ujarnya.
Hingga hari ketujuh setelah paparan, masih ada pasien yang belum diperbolehkan pulang, namun kondisi tersebut masih tergolong normal. “Paparan terjadi hari Selasa, dan hari ini sudah hari ketujuh. Mudah-mudahan segera sembuh,” tambahnya.
Untuk memastikan penyebab pasti, sampel makanan telah dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Dinas Kesehatan DIY. Proses pemeriksaan diperkirakan memakan waktu sekitar tujuh hari dan hasilnya dijadwalkan keluar pada hari Rabu.
Pihak rumah sakit juga telah memanggil penyedia konsumsi untuk dimintai pertanggungjawaban secara moral atas kejadian tersebut.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Dewi Rokhanawati, menyampaikan bahwa dari 22 mahasiswa yang sempat dirawat, sebanyak 20 orang telah diperbolehkan pulang dalam kondisi membaik. Dua mahasiswa lainnya masih menjalani perawatan di RS Sakinah Idaman dan RS PKU Muhammadiyah Gamping.
“Pemantauan terus kami lakukan, dan insyaallah kondisi mahasiswa semakin membaik,” ujarnya.
Dekan juga menegaskan bahwa peserta ECE pada gelombang ketujuh berjumlah 40 mahasiswa, dan tidak semuanya mengalami keluhan. Ada yang mengonsumsi seluruh snack, ada yang hanya mencicipi, bahkan ada yang membawa pulang.
“Efeknya berbeda-beda. Ada yang makan tapi tetap sehat, ada pula yang mengalami keluhan. Waktu munculnya gejala juga bervariasi, mulai sore hari, tengah malam, hingga keesokan harinya,” jelasnya.
Pihak fakultas melakukan pemantauan selama 24 jam dengan membentuk grup koordinasi yang melibatkan pimpinan fakultas dan rumah sakit. Mahasiswa yang mengalami keluhan langsung diarahkan untuk mendapatkan penanganan medis.
Kegiatan ECE merupakan bagian dari kurikulum keperawatan, khususnya pada mata kuliah keperawatan jiwa, yang bertujuan memberikan pengalaman praktik lapangan bagi mahasiswa.
Program ini telah berjalan selama bertahun-tahun dan tahun ini dilaksanakan dalam tujuh gelombang untuk mahasiswa reguler semester lima.
“Kegiatan ini bukan kali pertama dilaksanakan dan sebelumnya berjalan lancar. Kami mengapresiasi RSJ Grhasia atas kerja sama serta respons cepat dalam penanganan kasus ini,” tutup Dekan. (populi.id/Hadid Pangestu)












