SLEMAN, POPULI.ID — Sebanyak 22 mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengalami keracunan pangan saat mengikuti kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia, Pakem, Sleman.
Dugaan keracunan muncul setelah para mahasiswa mengalami mual dan muntah usai mengonsumsi paket snack yang disediakan dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (29/12/2025). Seluruh mahasiswa yang terdampak diketahui berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta. Beberapa mahasiswa mengalami keluhan cukup berat hingga memicu situasi darurat dan harus segera dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis.
Direktur RSJ Grhasia, dr Akhmad Akhadi, menjelaskan kegiatan ECE tersebut merupakan bagian dari kerja sama pendidikan antara RSJ Grhasia dengan institusi pendidikan tinggi kesehatan dan telah difasilitasi oleh Instalasi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) rumah sakit.
“Sebagai bagian dari fasilitas kegiatan, rumah sakit menyediakan konsumsi berupa snack, yang snack tersebut berasal dari perusahaan boga yang ada di Kabupaten Sleman. Mekanisme pengadaan konsumsi ini selama ini telah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku,” ujar Akhmad, Senin (5/1/2026).
Menurut Akhmad, laporan gangguan kesehatan mulai diterima rumah sakit pada malam hari hingga dini hari setelah kegiatan berlangsung. Sejumlah mahasiswa mengeluhkan gejala seperti mual, muntah, diare, demam, dan pusing dengan waktu kemunculan keluhan yang bervariasi pada masing-masing peserta.
Adapun makanan ringan yang dikonsumsi para peserta berupa risoles mayo, tahu sarang burung, dan banana cake. Akhmad menyebut dari ketiga bahan makanan itu, yang paling rentan menyebabkan keracunan adalah risoles mayo.
“Secara kronologis dari ketiga bahan pangan itu atau ketiga snack itu, yang paling rentan ditinjau dari aspek perlakuan pengelolaan itu adalah adalah (risoles) mayo,” ujarnya.
Dugaan itu diperkuat dari penelusuran epidemiologi yang dilakukan rumah sakit. Diketahui bahwa risol mayo itu diproduksi sehari sebelum dikirim ke rumah sakit.
“Karena kemudian itu baru dikirim besok, maka disimpan di dalam freezer. Paginya, hari Senin pagi atau subuh itu baru digoreng dan kemudian pukul 08.00 WIB itu sudah sampai ke rumah sakit. Itu yang patut diduga ya,” ucap Akhmad.
Menindaklanjuti laporan tersebut, RSJ Grhasia segera melakukan respons cepat sesuai standar prosedur operasional pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.
RSJ Grhasia kemudian melakukan sejumlah langkah penanganan dan tindak lanjut. Di antaranya memberikan pelayanan medis secara cepat dan profesional baik melalui rawat jalan maupun rawat inap, melakukan penjemputan dan pemeriksaan terhadap mahasiswa yang berada di luar area rumah sakit, serta berkoordinasi secara internal dengan Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) serta Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Selain itu, rumah sakit juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Balai Laboratorium Kesehatan untuk pemeriksaan sampel makanan, muntahan, dan feses. Sisa makanan yang belum dikonsumsi turut diamankan untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
“Komunikasi dengan institusi pendidikan asal mahasiswa juga terus kami lakukan untuk pemantauan kondisi kesehatan dan kelanjutan proses pendidikan,” kata Akhmad.
Berdasarkan pemantauan terakhir hingga 4 Januari 2026, kondisi seluruh mahasiswa yang terdampak menunjukkan perbaikan secara klinis dan tidak terdapat laporan kegawatan lanjutan.
Rinciannya, seluruh mahasiswa yang sempat dirawat di RSJ Grhasia telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Di RS Queen Latifa, terdapat delapan mahasiswa yang dirawat, dengan empat orang telah pulang, dua direncanakan pulang dalam waktu dekat, dan dua lainnya masih menjalani rawat inap dengan kondisi stabil.
Sementara itu, di RS PKU Gamping terdapat dua mahasiswa yang masih menjalani perawatan rawat inap dalam pemantauan medis. Di RS Condongcatur ada satu mahasiswa telah diperbolehkan pulang. Sedangkan di RS Sakinah Idaman ada satu mahasiswa masih menjalani perawatan rawat inap dengan kondisi terpantau.
Akhmad menegaskan bahwa hingga saat ini penyebab kejadian masih dalam proses penelusuran dan pihaknya menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari instansi berwenang.
“RS Jiwa Grhasia tidak menetapkan penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab sebelum adanya hasil pemeriksaan resmi. Fokus kami adalah keselamatan, kesehatan, dan pemulihan kondisi mahasiswa,” tegasnya.
Terkait tanggung jawab pihak katering, Akhmad menyatakan rumah sakit tidak membawa persoalan tersebut ke ranah hukum. Namun demikian, pihak katering tetap diminta bertanggung jawab secara moral dan kekeluargaan.
“Jadi tetap dimintai pertanggungjawaban. Pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban moral dan kekeluargaan, bukan pertanggungjawaban hukum,” pungkasnya.












