YOGYAKARTA, POPULI.ID — Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat inflasi pada Desember 2025 sebesar 0,65 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Sepanjang 2025, DIY mengalami delapan kali inflasi dan empat kali deflasi.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Herum Fajarwati, mengatakan inflasi Desember 2025 menjadi inflasi bulanan tertinggi ketiga selama tahun 2025. Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan atau year on year (yoy) maupun tahun kalender atau year to date (ytd) DIY pada Desember 2025 tercatat sebesar 3,11 persen.
“Angka ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional, yaitu 2,5 persen dengan toleransi plus minus satu persen,” kata Herum, Selasa (6/1/2026).
Herum menjelaskan, inflasi Desember 2025 terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,47 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua dengan andil 0,13 persen.
Sejumlah komoditas pangan tercatat menjadi pendorong utama inflasi bulanan. Cabai rawit memberikan andil terbesar sebesar 0,14 persen, disusul emas perhiasan 0,13 persen, daging ayam ras 0,06 persen, bensin dan cabai merah masing-masing 0,04 persen, serta bawang merah dan telur ayam ras masing-masing 0,03 persen. Selain itu, tomat, cabai hijau, dan wortel turut menyumbang inflasi dengan andil masing-masing 0,02 persen.
Secara umum sepanjang 2025, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor paling dominan terhadap inflasi di DIY. Dari 15 komoditas utama penyumbang inflasi yang dipantau BPS, sebanyak 12 komoditas berasal dari kelompok tersebut.
“Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi bulanan selama 10 bulan pada 2025. Sementara bawang merah mengalami inflasi selama sekitar tujuh bulan, dan cabai hijau serta bayam masing-masing tiga bulan,” ujar Herum.
BPS DIY juga mencatat inflasi tahunan Desember 2025 sebesar 3,11 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2024 yang sebesar 1,28 persen. Inflasi tahunan tersebut terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,39 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,92 persen.
“Berdasarkan wilayah, Kabupaten Gunungkidul mencatat inflasi tahunan sebesar 2,93 persen dengan inflasi bulanan 0,74 persen. Sementara Kota Yogyakarta mengalami inflasi tahunan sebesar 3,33 persen dan inflasi bulanan 0,53 persen,” papar Herum.












