YOGYAKARTA, POPULI.ID – Manajemen PSIM Yogyakarta akhirnya memberikan penjelasan terkait keputusan memensiunkan nomor punggung 91 yang identik dengan sosok Rafinha.
Kebijakan tersebut sebelumnya memantik perdebatan di kalangan suporter, terutama karena striker asal Brasil itu belum mengakhiri kariernya sebagai pesepakbola profesional dan kini masih aktif bermain bersama PSIS Semarang dengan nomor yang sama.
Manajer tim PSIM, Razzi Taruna, mengakui bahwa manajemen belum sempat menyampaikan penjelasan kepada publik saat pengumuman perpisahan Rafinha. Padatnya agenda klub pada saat itu membuat klarifikasi tertunda.
Meski demikian, Razzi menegaskan keputusan mempensiunkan nomor 91 bukan diambil secara gegabah. Ia menyebut kebijakan itu terinspirasi dari praktik serupa yang lazim dilakukan klub-klub sepak bola luar negeri.
Ia mencontohkan klub asal Inggris, Birmingham City, yang memensiunkan nomor Jude Bellingham meskipun sang pemain masih aktif bermain.
“Kiblat saya juga banyak nonton liga luar. Contoh yang saya lihat itu kejadian di Birmingham, Jude Bellingham. Dia berkontribusi besar, klubnya di ambang bangkrut, lalu dijual ke Dortmund dengan nilai puluhan juta euro sehingga klub terselamatkan secara finansial,” jelasnya.
Menurutnya, meski konteksnya tidak sepenuhnya sama, dampak yang ditinggalkan Rafinha bagi PSIM dinilai sepadan. Razzi menyebut Rafinha sebagai figur kunci di balik keberhasilan Laskar Mataram promosi ke kasta tertinggi setelah 18 tahun berkutat di kasta kedua.
“Tanpa dia, kita tidak akan ada di posisi sekarang,” tegas Razzi.
Rafinha sendiri mencetak 20 gol dari 22 pertandingan pada Liga 2 musim 2024/2025 dan terpilih sebagai pemain terbaik kompetisi tersebut.
Razzi menilai kontribusi Rafinha melampaui aspek teknis di lapangan. Bagi manajemen, sosok Rafinha dinilai tidak tergantikan, baik dari sisi kualitas permainan maupun karakter personalnya.
Kedekatan Rafinha dengan suporter juga menjadi pertimbangan penting. Selebrasi khas, interaksi dengan pendukung, serta kehadirannya di ruang publik membuat Rafinha menjadi figur ikonik di mata suporter PSIM.
“Buat kami itu sangat mahal. Seluruh manajemen merasa kami tidak akan menemukan Rafinha lagi yang lain. Bukan hanya kualitas, tapi sosok seperti Rafinha itu enggak akan kita temukan lagi,” ujar Razzi.
Razzi memastikan keputusan memensiunkan nomor 91 murni sebagai bentuk penghormatan, bukan untuk meredam kritik suporter. Ia menegaskan hubungan antara klub dan Rafinha tetap terjaga dengan baik.
“Jadi itu juga bukan karena ada tekanan dari suporter biar suporter diam saja, bukan begitu. Tapi memang murni itu adalah bentuk terima kasih kepada Rafinha,” kata Razzi.
Sebagai catatan, PSIM memutuskan memensiunkan nomor 91 yang dikenakan Rafinha selama Liga 2 2024/2025 dan Super League 2025/2026 karena jasanya dianggap abadi. Salah satu momen penting Rafinha adalah gol penentu kemenangan PSIM atas Bhayangkara pada partai final Liga 2.
Meski kontribusinya monumental, Rafinha kesulitan mendapatkan menit bermain reguler di level tertinggi musim ini. Dari 15 laga Super League, ia baru tampil tiga kali, itu pun sebagai pemain pengganti. Situasi tersebut mendorong Rafinha hijrah ke PSIS Semarang demi mendapatkan kesempatan bermain lebih banyak.
“Saya rasa saya tidak akan pernah merasakan momen seperti ini lagi. Perasaan saya campur aduk antara sedih dan senang,” ujar Rafinha.












