GRESIK, POPULI.ID – Laga sengit tersaji pada pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026 saat PSIM Yogyakarta bertandang ke markas sementara Persik Kediri di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jumat (13/2/2026) sore WIB. Laga ini berakhir dengan skor imbang 2-2, di mana Laskar Mataram harus berjuang ekstra keras mengejar ketertinggalan sebanyak dua kali.
Persik Kediri sempat memimpin melalui gol Jon Toral (31′) dan penalti Ezra Walian (57′), namun Ezequiel “Pulga” Vidal tampil sebagai penyelamat lewat dua gol balasan pada menit ke-37 dan ke-62.
Di balik hasil satu poin tersebut, terdapat beberapa poin penting yang patut menjadi sorotan:
1. Alarm Bahaya: Empat Laga Tanpa Kemenangan
Hasil imbang di Gresik ini secara otomatis memperpanjang tren negatif PSIM yang belum mampu meraih poin penuh dalam empat pertandingan terakhir di putaran kedua. Sebelum laga ini, tim asuhan Jean-Paul van Gastel tersebut menderita kekalahan dari Persebaya Surabaya (0-3) dan Borneo FC (1-2), serta bermain imbang tanpa gol melawan Persis Solo.
Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi manajemen dan tim pelatih. Meskipun masih bertahan di posisi ketujuh klasemen dengan 32 poin, kegagalan meraih kemenangan secara beruntun bisa membuat posisi mereka terancam terlempar dari persaingan sepuluh besar jika tidak segera melakukan evaluasi menyeluruh.
2. Debut Menjanjikan dan Adaptasi Jop van der Avert
Pertandingan ini menjadi momen spesial bagi Jop van der Avert, bek tengah asal Belanda yang baru saja direkrut PSIM pada bursa transfer paruh musim. Sebagai satu-satunya rekrutan baru, Van der Avert langsung dipercaya tampil sebagai starter dan bermain penuh selama 90 menit.
Meski sempat diganjar kartu kuning pada menit ke-24, kehadirannya dinilai memberikan warna baru pada lini pertahanan Laskar Mataram. Van der Avert sendiri mengakui bahwa dirinya masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan dinamika dan atmosfer sepak bola Indonesia yang berbeda dengan pengalamannya di Eropa.
3. Assist Ciamik dari Cahya Supriadi
Salah satu momen paling menarik dalam laga ini adalah proses terjadinya gol pertama PSIM yang dicetak oleh Ezequiel Vidal. Gol tersebut berawal dari umpan panjang yang sangat presisi dari penjaga gawang muda, Cahya Supriadi.
Umpan matang dari kiper berusia 23 tahun ini menjadi catatan unik karena jarang terjadi seorang penjaga gawang mencatatkan assist langsung. Hal ini membuktikan bahwa Cahya tidak hanya tangguh dalam menjaga gawang, tetapi juga memiliki kemampuan distribusi bola yang sangat baik untuk memulai serangan balik yang mematikan.
4. Gambaran Statistik: Duel Taktis yang Alot
Secara keseluruhan, jalannya pertandingan berlangsung sangat ketat dengan keunggulan tipis bagi tuan rumah dari sisi penguasaan bola. Persik Kediri tercatat menguasai 52 persen aliran bola, sementara PSIM memegang 48 persen sisanya.
Dari sisi agresivitas, Persik melepaskan 6 tembakan tepat sasaran dan 8 tembakan melenceng. PSIM sendiri tidak kalah mengancam dengan catatan 4 tembakan ke gawang serta 6 tembakan yang tidak menemui sasaran.
Persik juga unggul dalam perolehan tendangan sudut dengan total 5 kali, berbanding 3 milik PSIM.
Intensitas tinggi laga ini juga tercermin dari jumlah pelanggaran, di mana PSIM melakukan 14 kali pelanggaran, sedikit lebih banyak dibandingkan Persik yang melakukan 12 kali pelanggaran
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, menyebut bahwa hasil imbang ini adalah pencapaian maksimal mengingat Persik bermain sangat taktis sejak awal laga.
Dengan tambahan satu angka ini, PSIM tetap berada di peringkat ketujuh, sementara Persik Kediri tertahan di posisi ke-11 dengan koleksi 26 poin. Perjuangan Laskar Mataram untuk memutus rantai tanpa kemenangan akan kembali diuji pada laga selanjutnya menghadapi Bali United.












