YOGYAKARTA, POPULI.ID – PSIM Yogyakarta menunjukkan daya juang luar biasa saat bertamu ke markas Semen Padang FC pada pekan ke-24 BRI Super League 2025/2026. Meski harus bermain dengan 10 orang sejak babak pertama, tim berjuluk Laskar Mataram tersebut berhasil memaksakan hasil imbang 0-0 di Stadion GOR Haji Agus Salim, Rabu (4/3/2026) malam.
Hasil ini tidak hanya mengamankan satu poin bagi tim tamu, tetapi juga menjadi laga terakhir bagi pelatih tuan rumah, Dejan Antonic, yang resmi dipecat tak lama setelah pertandingan usai.
Petaka Kartu Merah dan Perubahan Strategi
Pertandingan awalnya berjalan terbuka dengan kedua tim saling melakukan jual beli serangan. Namun, situasi berubah drastis bagi PSIM pada menit ke-38 ketika gelandang Fahreza Sudin diganjar kartu merah langsung oleh wasit Naufal Adya Fairuski.
Insiden bermula saat Fahreza mencoba melakukan tendangan akrobatik di kotak penalti lawan. Namun kakinya justru mengenai kepala bek Semen Padang, Samuel Simanjuntak, yang akhirnya harus ditarik keluar karena cedera.
Kehilangan satu pemain memaksa pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, melakukan penyesuaian taktik yang cepat. Ia memasukkan dua pemain bertipe defensif, Andy Setyo dan Rio Hardiawan, untuk menggantikan Riyatno Abiyoso serta Raka Cahyana demi memperkuat lini belakang. Meski lebih banyak bertahan, PSIM sempat mengancam lewat peluang emas Ezequiel Vidal pada menit ke-75 dan tembakan tepat sasaran Savio Sheva semenit kemudian.
Dominasi Tuan Rumah yang Sia-sia
Secara statistik, Semen Padang sebenarnya sangat mendominasi jalannya laga, terutama setelah unggul jumlah pemain. Tuan rumah mencatatkan penguasaan bola mencapai 63 persen, sementara PSIM hanya 37 persen. Tim berjuluk Kabau Sirah juga membombardir pertahanan Laskar Mataram dengan melepaskan 22 tembakan. Namun, PSIM tampil sangat efektif di mana kedua tim sama-sama hanya mencatatkan dua tembakan tepat sasaran.
Dominasi Semen Padang juga terlihat dari jumlah operan yang mencapai 472 kali dengan akurasi 85 persen, berbanding 317 operan milik PSIM dengan akurasi 76 persen. Tuan rumah tercatat menciptakan 14 peluang (chances created) dan melakukan 51 kali sentuhan di kotak penalti lawan.
Sebaliknya, PSIM yang fokus bertahan hanya mencatatkan 6 peluang dan 12 kali sentuhan di kotak penalti Semen Padang. Namun, kokohnya tembok pertahanan Laskar Mataram terbukti dari statistik 25 kali sapuan (clearances), jauh mengungguli tuan rumah yang hanya melakukan 9 kali sapuan.
“Kemenangan Kecil” Bagi Laskar Mataram
Pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengaku sangat bangga dengan semangat juang anak asuhnya yang mampu mencuri poin dalam situasi sulit.
“Kemudian ketika kami mendapatkan kartu merah, permainan pun berubah. Kami pada dasarnya hanya bertahan. Saya mengagumi tim saya atas semangat juang yang kami tunjukkan,” ujar Van Gastel.
Ia menambahkan bahwa bagi timnya, hasil ini terasa sedikit seperti sebuah kemenangan.
Winger PSIM, Riyatno Abiyoso, juga memberikan apresiasi tinggi kepada rekan-rekan setimnya yang telah berjuang habis-habisan.
“Setelah kartu merah, kami mengubah strategi sesuai instruksi dari head coach untuk lebih fokus bertahan dan lebih kerja keras lagi. Ini patut disyukuri, kami bermain dengan 10 orang di babak pertama dan dapat poin di kandang lawan,” tutur Abiyoso.
Pemecatan Dejan Antonic
Kegagalan menaklukkan 10 pemain PSIM menjadi puncak kesabaran manajemen Semen Padang. Pada Kamis (5/3/2026) dini hari, manajemen resmi mengumumkan pemutusan kerja sama dengan pelatih asal Serbia tersebut.
“Keputusan ini diambil manajemen Semen Padang FC, setelah melakukan pertimbangan dan diskusi dengan Komisaris dan Penasehat Tim. Terima kasih coach Dejan,” bunyi pernyataan resmi klub di akun Instagram @semenpadangfcid.
Selama 16 pertandingan di bawah asuhan Dejan, Semen Padang hanya mampu meraih tiga kemenangan.
Hasil imbang ini membuat Semen Padang masih terpuruk di zona merah pada posisi ke-17 dengan 17 poin. Sementara itu, PSIM masih tetap bertahan di urutan kedelapan klasemen sementara dengan koleksi 37 poin.












