POPULI.ID – Kabar mengejutkan datang dari kancah sepak bola internasional. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) pada Rabu (secara resmi menyatakan bahwa Timnas Iran, yang dikenal dengan julukan Team Melli, mundur dari putaran final Piala Dunia 2026. Keputusan besar ini diambil hanya tiga bulan sebelum turnamen akbar tersebut dimulai di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Penyebab utama mundurnya Iran adalah eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat (salah satu tuan rumah Piala Dunia) dan Israel. Ketegangan memuncak setelah serangan udara pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah petinggi militer lainnya.
Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menegaskan bahwa partisipasi dalam turnamen yang digelar di wilayah lawan adalah hal yang mustahil dalam kondisi saat ini.
“Mengingat rezim korup ini telah membunuh pemimpin kami, dalam keadaan apa pun kami tidak bisa berpartisipasi di Piala Dunia,” tegas Donyamali kepada televisi pemerintah Iran seperti dilansir dari Reuters.
Selain alasan politik, faktor keamanan pemain juga menjadi landasan keputusan tersebut. Ketua FFIRI, Mehdi Taj, juga menyatakan sentimen serupa.
“Setelah serangan ini [terhadap Iran], kami tidak bisa berharap menantikan Piala Dunia dengan penuh harapan,” ujarnya dalam wawancara dengan media Iran pada 1 Maret.
Bayang-bayang Sanksi Berat FIFA
Langkah Iran ini tidak lepas dari konsekuensi hukum. Berdasarkan Pasal 6 regulasi Piala Dunia 2026, ada dua sanksi utama yang mengintai Iran. Sanksi pertama yang bisa diterapkan adalah denda 250 ribu Franc Swiss atau Rp5,4 mililar. Ini karena Iran mengundurkan diri dari Piala Dunia 2026 saat turnamen belum genap tersisa 30 hari.
“Asosiasi anggota yang mundur dari Piala Dunia 2026 lebih dari 30 hari sebelum laga pertama dari putaran final akan dibebankan denda 250 ribu Franc Swiss oleh Komite Disiplin FIFA,” tulis regulasi FIFA.
Denda lebih besar yaitu 500 ribu Franc Swiss atau Rp10,8 miliar akan diterapkan jika satu federasi mundur saat Piala Dunia 2026 tersisa 30 hari lagi. Kini, pesta sepak bola dunia itu masih 91 hari mendatang jelang pembukaan.
Hukuman kedua yang bisa dijuruskan ke Iran adalah ganti rugi biaya persiapan tim menuju Piala Dunia 2026. Besaran uang yang harus dibayar masih belum diketahui.
“Asosiasi anggota yang seharusnya ikut serta namun mengundurkan diri dari Piala Dunia 2026 kapanpun wajib mengganti uang yang jadi biaya persiapan dari turnamen yang dibiayai oleh FIFA,” demikian pernyataan regulasi FIFA.
Sanksi tambahan juga bisa dikenakan kepada Iran dengan ancaman mengusir keikutsertaan di kompetisi berikutnya. Ini jadi hak prerogatif FIFA sebagai payung hukum tertinggi sepak bola dunia.
“Sanksi disipliner dapat mencakup pengusiran Asosiasi Anggota peserta yang bersangkutan dari kompetisi FIFA berikutnya dan/atau penggantian dengan Asosiasi Anggota lain,” bunyi regulasi Piala Dunia 2026.
Siapa yang Akan Menggantikan Iran?
Posisi Iran di Grup G Piala Dunia 2026, yang juga diisi oleh Belgia, Mesir, dan Selandia Baru, kini kosong. Berdasarkan Pasal 6.7 regulasi FIFA, Dewan FIFA memiliki wewenang penuh untuk menentukan tim pengganti sesuai kebijakan mereka sendiri.
Mantan Direktur Regulasi Sepak Bola FIFA, James Kitching, menjelaskan bahwa pengganti tidak harus berasal dari benua yang sama (Asia/AFC).
“Artinya, misalnya jika ada tim yang mengundurkan diri maka tidak perlu digantikan oleh tim dari konfederasi yang sama, atau bahkan tidak perlu digantikan sama sekali,” ungkap Kitching kepada Reuters.
Secara teknis, beberapa kandidat terkuat adalah:
- Irak: Negara Asia dengan posisi terdekat karena sedang berjuang di babak playoff interkontinental.
- Uni Emirat Arab (UEA): Tim yang dikalahkan Irak di fase keempat kualifikasi zona Asia.
- Italia: Kandidat non-Asia yang dijagokan karena menempati peringkat 13 dunia, ranking tertinggi di antara negara yang belum lolos.
Apakah Timnas Indonesia Bisa Masuk?
Nama Timnas Indonesia sempat ramai diperbincangkan di media sosial sebagai pengganti potensial. Peluang ini secara teoritis muncul karena Indonesia adalah satu-satunya negara non-Asia Barat yang berhasil menembus fase keempat kualifikasi zona Asia.
Saat ini, negara-negara Asia Barat seperti Irak, UEA, dan Oman sedang mengalami kendala logistik serius akibat penutupan wilayah udara dan kesulitan pengurusan visa Meksiko di tengah konflik. Jika FIFA tetap ingin memberikan jatah kepada wakil Asia dan negara-negara Timur Tengah tersebut tidak bisa berangkat, Indonesia bisa menjadi opsi alternatif.
Namun, secara administratif, peluang Indonesia tergolong sangat berat karena Skuad Garuda mengakhiri kualifikasi fase keempat sebagai juru kunci Grup B. Pada akhirnya, keputusan sepenuhnya berada di tangan Dewan FIFA yang akan menimbang berbagai aspek, termasuk aspek politis dan kualitas tim pengganti.











