SLEMAN, POPULI.ID – Ruas Tol Jogja–Solo pada segmen Purwomartani–Prambanan mulai beroperasi secara fungsional selama masa arus mudik Lebaran. Meski sudah dapat dilintasi kendaraan, jalur tersebut untuk sementara belum dikenakan tarif.
Direktur Utama PT Jasa Marga Jogja-Solo, Rudi Hardiansyah, menyampaikan bahwa pembukaan jalur fungsional ini bertujuan untuk membantu mengurangi kepadatan lalu lintas menuju wilayah Yogyakarta maupun Solo.
“Pagi ini kita melaksanakan pembukaan fungsional Jalan Tol Jogja–Solo segmen Purwomartani–Prambanan. Jalur ini dibuka satu arah mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB dan hanya diperuntukkan bagi kendaraan golongan I non-bus,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, pembatasan jenis kendaraan dilakukan karena pembangunan ruas tol tersebut belum sepenuhnya rampung.
“Penggunaannya memang dibatasi untuk kendaraan kecil karena kondisi jalan masih belum selesai 100 persen. Pembatasan ini dilakukan demi menjaga keselamatan pengguna jalan,” jelasnya.
Segmen tol yang dibuka secara fungsional ini memiliki panjang sekitar 12 kilometer, membentang dari Purwomartani hingga Prambanan. Selama melintas di jalur tersebut, kendaraan juga dibatasi dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.
Dengan dibukanya ruas ini, waktu tempuh diperkirakan lebih singkat dibandingkan melalui jalur arteri.
“Perjalanan dari Purwomartani ke Prambanan diperkirakan hanya sekitar 10 menit. Jika melalui jalur biasa, bisa memakan waktu sekitar 30 hingga 40 menit,” kata Rudi.
Dalam operasionalnya, pengelola menyediakan tiga gardu tol serta enam unit mobile reader guna mengantisipasi lonjakan kendaraan.
Meskipun belum dikenakan tarif, pengendara tetap diwajibkan melakukan tapping kartu tol.
“Memang belum bertarif, tetapi pengguna jalan tetap harus melakukan tapping karena berkaitan dengan sistem transaksi tertutup yang terintegrasi dengan ruas tol lain di jaringan Trans Jawa,” tambahnya.
Berdasarkan pemantauan sementara, volume kendaraan di ruas Jogja–Solo masih berada di bawah kondisi normal, meski mulai menunjukkan peningkatan. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026 dengan jumlah kendaraan sekitar 17 ribu unit. Sedangkan puncak arus balik diprediksi berlangsung pada 24 Maret dengan volume mencapai sekitar 24 ribu kendaraan.
“Biasanya pemudik meningkat setelah sahur atau menjelang waktu berbuka. Kendaraan dari arah barat maupun timur umumnya tiba di kawasan ini pada sore hari, sehingga pada waktu tersebut arus lalu lintas cenderung lebih padat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktorat Lalu Lintas Polda DIY juga menyiapkan rekayasa lalu lintas di jalur arteri untuk mendukung kelancaran arus kendaraan selama pelaksanaan Operasi Ketupat.
Dirlantas Polda DIY, Arie Prasetya Syafa’at, mengatakan pihaknya akan menutup sebagian titik putar balik di sepanjang Jalan Solo.
“Di Jalan Solo sepanjang kurang lebih delapan kilometer terdapat 12 titik U-turn. Selama Operasi Ketupat, sembilan titik akan ditutup sehingga hanya tiga U-turn yang tetap digunakan,” terangnya.
Tiga titik putar balik yang masih difungsikan berada di kawasan AU, Telkom, dan Sendang Ayu. Namun kebijakan tersebut bersifat situasional dan dapat berubah menyesuaikan kondisi lalu lintas.
Selain itu, kepolisian juga menyiapkan skema pengalihan arus apabila antrean kendaraan di Gerbang Tol Purwomartani sudah mencapai jalan arteri.
“Jarak antara gerbang tol dengan jalan arteri sekitar 350 meter. Jika antrean sudah sampai ke arteri, maka arus kendaraan akan kami alihkan menuju Prambanan,” jelasnya.
Apabila kondisi lalu lintas kembali normal dan antrean mulai terurai, akses menuju gerbang tol akan dibuka kembali.
Untuk memantau kondisi tersebut, petugas juga menyiapkan pos pantau di ujung jalan arteri yang terhubung dengan Gerbang Tol Purwomartani.
“Pos pantau ini digunakan untuk memonitor panjang antrean dari gate tol hingga arteri sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan jika terjadi kepadatan,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












