KULON PROGO, POPULI.ID – Dunia militer Indonesia kembali diselimuti awan duka setelah salah satu putra terbaiknya, Praka Farizal Rhomadhon, gugur saat menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon (UNIFIL).
Prajurit muda asal Kulon Progo ini mengembuskan napas terakhirnya di tengah berkecamuknya konflik di wilayah perbatasan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, dan bangsa Indonesia.
Tragedi di Sektor Timur Lebanon
Peristiwa ini terjadi pada Minggu (29/3/2026) malam sekitar pukul 20.44 waktu setempat.
Di tengah eskalasi ketegangan antara militer Israel dan milisi Hizbullah, sebuah proyektil artileri meledak hebat menghantam posisi penjagaan UNIFIL di dekat desa Adshit al-Qusayr, Lebanon Selatan.
Wilayah tersebut dikenal sebagai zona berisiko tinggi karena lokasinya yang sangat dekat dengan garis depan perbatasan atau Blue Line.
Saat insiden terjadi, Praka Farizal tengah bertugas melakukan patroli rutin dan pemantauan perbatasan guna menjaga stabilitas kawasan.
Meski tim medis reaksi cepat UNIFIL segera melakukan evakuasi darurat ke Rumah Sakit Level 2, luka fatal akibat hantaman proyektil membuat nyawanya tidak tertolong.
Selain Praka Farizal, serangan tersebut juga menyebabkan personel TNI lainnya mengalami luka-luka serius dan kini tengah dalam perawatan intensif.
Serangan ini diduga berasal dari rangkaian baku tembak yang melibatkan militer Israel Defense Forces (IDF) dengan kelompok bersenjata di Lebanon selatan.
Proyektil artileri tersebut jatuh di dekat atau mengenai area tempat Farizal dan rekan-rekannya bertugas.
Akibat serangan itu, Farizal Rhomadhon gugur di lokasi, sedangkan tiga personel lainnya mengalami luka-luka dan segera mendapatkan penanganan medis.
“Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya satu personel pemelihara perdamaian Indonesia dan tiga personel lainnya terluka saat bertugas di United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), setelah serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr pada tanggal 29 Maret 2026,” tulis Kementerian Luar Negeri RI di akun X @Kemlu_RI.
Profil Sang Penjaga Perdamaian
Praka Farizal Rhomadhon lahir pada 3 Januari 1998 di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di usianya yang menginjak 28 tahun, ia dikenal sebagai prajurit berprestasi dengan dedikasi luar biasa.
Sebelum dikirim ke Lebanon, Farizal bertugas di kesatuan Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda, Aceh.
Dalam misi internasionalnya, ia tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-T/UNIFIL dan menjabat sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima (Kompi Markas).
Sebagai personel Provost, Farizal memegang tanggung jawab krusial dalam menjaga kedisiplinan dan keamanan internal di lingkungan markas.
Atas pengabdiannya selama hampir satu dekade, ia telah menerima penghargaan bergengsi seperti Satyalancana Dharma Nusa dan Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, negara memberikan kenaikan pangkat anumerta menjadi Sersan Satu (Sertu) Anumerta.
Sisi Lain: Ayah dan Suami yang Penyayang
Di balik seragam militernya yang gagah, Farizal adalah sosok keluarga yang hangat. Kepergiannya meninggalkan luka yang teramat dalam bagi istrinya, warga Kebumen, Jawa Tengah, dan seorang putri kecilnya yang baru berusia dua tahun.
Selama ini, keluarga kecilnya menetap di rumah dinas di Bireuen, Aceh, menanti kepulangan sang pahlawan yang sayangnya kini harus kembali dalam balutan bendera Merah Putih.
Warga di tempat kelahirannya, Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, mengenang Farizal sebagai pemuda yang santun.
Saat ini, suasana di rumah duka dipenuhi oleh warga yang bergotong royong menyiapkan penyambutan jenazah sang pahlawan perdamaian.
“Farizal sering bantu-bantu. Meskipun bertugas jauh di Aceh, dia rajin berkomunikasi dengan warga di sini,” ungkap Dukuh Ledok, Wakidi.
Reaksi Internasional dan Desakan Penyelidikan
Gugurnya prajurit Indonesia ini memicu reaksi keras dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyampaikan kutukan keras atas insiden yang merenggut nyawa penjaga perdamaian ini.
Guterres menekankan bahwa tidak boleh ada seorang pun yang kehilangan nyawa dalam melayani tujuan perdamaian.
“Saya mengutuk keras insiden hari Minggu yang menewaskan seorang penjaga perdamaian Indonesia dari @UNIFIL_ di tengah permusuhan antara Israel & Hizbullah. Seorang penjaga perdamaian Indonesia lainnya mengalami luka serius dalam insiden yang sama,” tulis Guterres di akun X miliknya.











