YOGYAKARTA, POPULI.ID – Gubernur DIY Sri Sultan HB X turut berduka cita atas meninggalnya prajurit TNI Praka Farizal Rhomadhon akibat eskalasi perang yang memanas di Lebanon saat bertugas dalam misi perdamaian internasional.
Hal tersebut ia sampaikan saat diwawancarai wartawan usai mengikuti syawalan di Balai Kota Yogyakarta, Muja-Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (31/3/2026).
“Ya, saya ikut prihatin tapi yang namanya penugasan itu memang dari awal juga sudah bisa dari pasti ada pengorbanan,” katanya saat diwawancarai.
“Jadi resiko itu ada, tapi harapan saya ini yang terakhir jangan ada korban lagi. Tapi bisanya kan itu, tapi kan itu juga sudah diperhitungkan dari awal,” imbuh Ngarsa Dalem.
Ia menyampaikan bahwa lokasi konflik memiliki konsekuensi dan potensi yang lebih besar menimbulkan korban jiwa.
Gugurnya prajurit TNI, Praka Farizal Rhomadhon, akibat serangan Israel saat menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, khususnya sang ibu, Supinah.
Supinah mengenang putranya sebagai sosok yang selalu menjaga komunikasi dengan keluarga, meski tengah bertugas jauh dari tanah air.
“Dia itu baik, apa-apa selalu bilang, walaupun sedang di Papua dulu, semuanya diceritakan ke saya dan ayahnya. Setiap saat itu WhatsApp,” ujarnya.
Tak hanya melalui pesan singkat, komunikasi juga rutin dilakukan lewat video call setiap hari. Supinah menyebut, perbedaan waktu tak menjadi penghalang bagi keluarganya untuk tetap terhubung.
“Setiap hari video call. Kalau di sini malam, di sana siang. Selalu video call dengan saya dan bapaknya, lalu disambungkan dengan istrinya di Aceh,” katanya, Selasa (31/3/2026)
Menurut Supinah, Farizal sebenarnya dijadwalkan akan mengakhiri masa tugasnya pada April 2026. Bahkan, keluarga sudah menerima jadwal kepulangannya ke Indonesia.
“Rencananya pulang bulan Mei, karena dibagi beberapa kelompok,” ungkapnya.
Namun, situasi keamanan di Lebanon yang memanas dalam beberapa waktu terakhir membuat Farizal dan rekan-rekannya harus sering berlindung di bunker.
“Setiap saat masuk bunker berjam-jam. Kalau aman baru keluar. Kalau ada sirene, harus masuk lagi. Itu terjadi terus,” tuturnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












