BANTUL, POPULI.ID – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menyoroti fenomena berkurangnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah dasar (SD) negeri di DIY, termasuk di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di DIY, tetapi juga dialami berbagai daerah di Indonesia.
Hal itu disampaikan Fajar Riza Ul Haq pada Jumat (24/7/2026). Ia menjelaskan, penurunan jumlah murid dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya perubahan demografi yang menyebabkan jumlah anak usia SD terus menurun.
“Memang jumlah usia anak di SD semakin menurun karena faktor demografi,” ujarnya.
Selain faktor demografi, Fajar menyebut adanya perubahan preferensi orang tua dalam memilih sekolah bagi anak-anak mereka. Saat ini, banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta yang dinilai memiliki kualitas pendidikan lebih baik, meski harus membayar biaya pendidikan.
Di sisi lain, sekolah berbasis keagamaan juga semakin diminati. Menurutnya, banyak orang tua meyakini pendidikan keagamaan dapat menjadi bekal untuk menghadapi persoalan kenakalan remaja.
“Ada tren orang tua memasukkan anak ke sekolah-sekolah keagamaan, termasuk pesantren. Mereka merasa itu menjadi salah satu cara menghadapi persoalan kenakalan remaja. Karena itu, jumlah siswa di pesantren berbasis boarding juga meningkat,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, Fajar menilai pemerintah daerah dapat mengambil langkah regrouping atau penggabungan sekolah.
Menurutnya, kebijakan tersebut akan membuat penyelenggaraan pendidikan menjadi lebih efektif dibanding mempertahankan sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit.
“Beberapa daerah sudah memiliki inisiatif melakukan merger sekolah atau regrouping. Saya kira itu lebih sehat, karena beban operasional sekolah dengan lima murid dan 50 murid pada dasarnya hampir sama,” jelasnya.
Ia menambahkan, regrouping juga dapat mendukung redistribusi guru sehingga pemerataan tenaga pendidik di berbagai sekolah menjadi lebih baik.
Dalam kesempatan yang sama, Fajar turut menanggapi viralnya video seorang anak yang memberikan uang kepada gurunya karena mengetahui gaji sang guru sangat kecil.
Ia mengatakan pemerintah melalui Presiden telah menginstruksikan percepatan pelaksanaan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) agar kesejahteraan guru meningkat.
“Tahun lalu ada lebih dari 800 ribu guru mengikuti PPG. Konsekuensinya, tidak akan ada lagi guru yang bergaji Rp200 ribu atau Rp300 ribu. Setelah mengikuti PPG, mereka akan menerima tunjangan profesi guru sebesar Rp2 juta per bulan, di luar kemungkinan tambahan dari yayasan,” ujarnya.
Fajar menduga, apabila masih ditemukan guru dengan gaji yang sangat rendah, kemungkinan yang bersangkutan belum mengikuti PPG atau belum menerima tunjangan profesi guru maupun tunjangan tambahan dari pemerintah daerah.
“Kami tentu prihatin dan bersimpati. Namun kami perlu mengecek kembali data dan kronologi kasusnya agar bisa diketahui penyebab sebenarnya,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



