SLEMAN, POPULI.ID – Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Sleman, Surana, bersama Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman menyerahkan bantuan alat pengolah kotoran hewan (kohe) menjadi pupuk organik kepada tiga kelompok ternak di wilayah Kapanewon Ngemplak, Sleman, pada Senin (21/9/2026). Tiga kelompok ternak yang mendapatkan alat tersebut berada di Desa Wedomartani, Umbulmartani, dan Sindumartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY.
Masing-masing kelompok ternak menerima dua jenis alat pengolah kohe, meliputi mesin pemecah atau pencacah dan penyaring kotoran hewan. Dengan demikian, total terdapat enam unit mesin pengolah pupuk organik yang diserahkan.
Surana menyampaikan bahwa bantuan alat tersebut bersumber dari program Pokok-pokok Pikiran (Pokir) DPRD Sleman melalui APBD Kabupaten Sleman dengan nilai sekitar Rp50 juta untuk setiap kelompok. “Bantuan itu sudah diajukan masyarakat sejak 2025 dan direalisasikan tahun ini (2026). Ada enam mesin yang diserahkan, yakni alat pemecah dan penyaringnya. Jadi tiga kelompok mendapatkan dua alat, nilainya kurang lebih Rp50 juga untuk satu kelompok,” ucap Surana, Senin (21/9/2026).
Politisi Fraksi Nasdem itu mengungkapkan bahwa bantuan tersebut bertujuan untuk mendorong efisiensi dan kemandirian petani lokal dalam penyediaan pupuk, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong petani dan peternak untuk beralih secara bertahap dari pupuk kimia ke pupuk organik.
“Ketergantungan pada pupuk urea harus kita kurangi. Pupuk organik ini jauh lebih sehat untuk tanah, membuat tanaman lebih hijau, dan biaya produksinya efisien jika diolah dengan baik. Ini juga sejalan dengan program ketahanan dan produksi pangan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat,” ujar Surana, Senin.
Surana menekankan pentingnya optimalisasi lahan pertanian yang terbiarkan atau belum tergarap maksimal di kawasan tersebut. Menurutnya, pemanfaatan pupuk organik menjadi pondasi penting dalam mendukung program kedaulatan dan produksi pangan nasional.
“Harapan saya lahan-lahan yang masih kosong atau belum tergarap bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan produksi pangan. Seperti program Pak Prabowo, produksi pangan harus ditingkatkan supaya warga masyarakat makmur. Produksi pangan tidak terlepas dari pupuk, tidak harus pupuk urea saja, tapi harus ada organik, utamanya urea sedikit saja,” tegasnya.
Terkait operasional dan tata kelola mesin, Surana menegaskan bahwa seluruh pengelolaannya diserahkan secara murni kepada manajemen masing-masing kelompok penerima. Meski demikian, ia meminta dinas terkait untuk terus memberikan pendampingan teknis dan edukasi berkala.
“Manajemennya nanti murni kami serahkan kepada kelompok. Tentu saya sangat berharap dari teman-teman Dinas Peternakan nanti bisa melakukan edukasi selanjutnya supaya nanti lebih efektif dan manfaatnya lebih banyak,” katanya.
Dia juga berpesan kepada kelompok ternak penerima agar menjaga dan merawat aset yang difasilitasi pemerintah. Dia berharap alat tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal dan memiliki usia pakai yang panjang. “Pesan saya kepada para kelompok agar dikelola dengan baik, dirumat (dirawat) dengan baik, supaya alat ini bisa bermanfaat, bertahan lama, dan bisa meningkatkan pendapatan dari hasil pertanian,” harap dia.
Pelatihan Teknis
Guna memastikan alat dapat beroperasi optimal, DP3 Kabupaten Sleman turut menyelenggarakan pelatihan pemanfaatan dan penggunaan alat dengan menghadirkan teknisi langsung dari pihak produsen.
Ketua Tim Kerja Bina Usaha Peternakan DP3 Sleman, Jarot, menerangkan bahwa kehadiran mesin pencacah itu memberikan perubahan signifikan terhadap kualitas kompos yang dihasilkan peternak. Dia menjelaskan, kotoran hewan yang diolah melalui proses fermentasi bakteri sebenarnya bisa langsung digunakan, namun bentuknya tidak homogen.
Dari sisi efisiensi produksi, mesin pencacah tersebut memiliki kapasitas pengolahan yang terbilang cukup tinggi. Sebab, alat pencacah dan penyaring itu memiliki kapasitas produksi 1 hingga 1,5 ton per jam jika dioperasikan secara maksimal. “Kotoran ternak diproses menjadi kompos melalui fermentasi. Dengan bantuan alat pencacah ini, pupuk yang dihasilkan menjadi lebih halus, homogen, dan memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini,” jelas Jarot.
Dia menyebut, Pengadaan alat pengolahan itu menjadi bentuk respons pemerintah daerah terhadap meningkatnya tren dan permintaan pasar akan pupuk organik yang berkualitas tinggi. Menurut Jarot, pemanfaatan pupuk organik sejatinya sudah lama dilakukan petani, namun tuntutan standar kualitas dari konsumen kini semakin meningkat.
“Semoga alat ini bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga penghasilan petani dan peternak tidak hanya berasal dari penjualan ternak, tetapi juga meningkat melalui pemanfaatan kotoran hewan. Selain itu, pupuk organik ini juga bermanfaat bagi kelompok tani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang dapat disubstitusi dengan pupuk organik,” tandasnya. (Dewi Rukmini)



![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



