SLEMAN, POPULI.ID – Kepala Pusat Penerbitan dan Bookshop Universitas Sanata Dharma, Dominikus Sukristiono, Pr. menyoroti tantangan budaya membaca di tengah perkembangan zaman. Romo Kris menyampaikan bahwa masyarakat saat ini telah memasuki apa yang disebut sebagai post-literate society, bahkan berada dalam situasi yang dapat disebut sebagai anti-reading era.
“Situasi tersebut menjadi pengingat akan semakin pentingnya upaya untuk menghidupkan kembali budaya membaca. Buku tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan, membangun daya pikir kritis, dan memelihara rasa ingin tahu,” katanya dalam kegiatan SDUPRESS Book Fair 2026 dengan mengusung tema Inquisitive 2026: Unlock Your Next Chapter.
Semangat tersebut kemudian tercermin dalam tema Inquisitive 2026: Unlock Your Next Chapter. Membaca tidak sekadar berarti menyelesaikan satu buku atau satu bab, tetapi membuka kemungkinan untuk menemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif baru. SDUPRESS Book Fair 2026 digelar Pusat Penerbit dan Bookshop Universitas Sanata Dharma (P2B). Kegiatan ini berlangsung di Ground Hall Kampus 3 Universitas Sanata Dharma, Paingan pada 28-30 September 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan pembaca dengan buku sekaligus menghidupkan kembali budaya membaca, bertanya, dan menemukan pengetahuan baru. Selain SDUPress, ada 14 penerbit anggota IKAPI dan APPTI yang mengikuti pameran buku ini.
Hadir dalam acara tersebut, Laurentia Sumarni yang mewakili Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan Wakil Rektor I sekaligus Pelaksana Harian Rektor Universitas Sanata Dharma, Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D. Prof. Sudi turut mengajak peserta untuk melihat kembali makna membaca. Ketika seseorang membaca sebuah buku, pemahaman yang diperoleh akan berkembang seiring dengan semakin banyak bagian buku yang dibaca. Membaca menjadi proses untuk memperoleh gambaran yang semakin utuh sekaligus membuka next chapter dalam perjalanan pengetahuan seseorang.
Bedah Buku
Hari pertama Bookfair ini diadakan pula bedah buku Safeguarding Culture: Konsep dan Implementasinya dalam Dunia Pendidikan. Sesi ini menghadirkan Albertus Harimurti, sebagai moderator dan Titik Kristiyani sebagai narasumber.
Buku Safeguarding Culture lahir dari pengalaman para penulis ketika terlibat dalam Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi di lingkungan kampus Universitas Sanata Dharma. Buku ini membahas berbagai bentuk kekerasan sekaligus pentingnya membangun budaya perlindungan yang tidak berhenti pada kebijakan atau wacana, tetapi diinternalisasi dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini menyoroti persoalan penting di dalam menjamin rasa aman di lingkungan pendidikan. Lebih dari sekadar istilah, safeguarding diarahkan untuk menjadi sebuah budaya perlindungan. Budaya tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang yang membuat setiap orang merasa aman untuk hidup, belajar, bekerja, dan berinteraksi di lingkungan pendidikan.(Wisnu Wardhana)


![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



