SLEMAN, POPULI.ID – Tingkat keberhasilan panen melon premium milik Kelompok Wanita Tani (KWT) Anyelir di Padukuhan Kromodangsan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman mencapai 97%. Padahal ini panen perdana melon jenis Sweet Lavender pada Selasa (6/10/2026).
Lurah Lumbungrejo, Muhammad Misbah Alhakim mengatakan, keberhasilan panen tersebut menjadi tonggak awal yang sangat positif bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya kaum perempuan di wilayahnya. “Berdasarkan laporan, tingkat keberhasilan panen perdana ini mencapai 97 persen. Ini merupakan capaian yang sangat luar biasa dan tentu makin membakar semangat ibu-ibu anggota KWT,” ucapnya, Selasa (6/10/2026).
Misbah mengungkapkan, melon premium yang baru saja dipanen sudah ditanam sejak tiga bulan lalu. Penanaman melon tersebut menggunakan metode greenhouse (rumah kaca) dengan sistem irigasi tetes.
Menurut Misbah, keberhasilan budidaya melon premium itu tak lepas dari skema bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjaya) serta fasilitasi sarana pendukung dari Anggota DPRD Sleman, Wahyudi Kurniawan. “Ini merupakan pengalaman pertama dan ilmu budidaya yang sangat berharga bagi warga. Bantuan greenhouse dan fasilitas pendukung tidak hanya diserahkan, tetapi juga didampingi secara intensif dari awal hingga hari panen,” ujarnya.
Melihat potensi ekonomi dan keberhasilan panen perdana tersebut, Misbah berharap model pertanian modern berteknologi greenhouse itu dapat direplikasi di lokasi-lokasi lain yang masih belum teroptimalkan di wilayah Lumbungrejo.
“Ke depan, harapan kami budidaya seperti ini tumbuh di beberapa titik lahan kosong lainnya. Lewat pengalaman ini, kami ingin mendorong dan mengembangkannya agar para anggota KWT Anyelir Kromodangsan bisa bertransformasi menjadi petani milenial yang produktif dan inovatif,” ucap dia.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Industri (FTII) Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjaya) sekaligus Ketua Hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) DPPM Dikti Saintek, Aris Wahyu Murdianto, menjelaskan bahwa program itu terwujud melalui kompetisi hibah tingkat nasional untuk meningkatkan level keberdayaan kelompok tani.
“Target kami adalah meningkatkan keberdayaan dan ekonomi sirkular masyarakat melalui KWT. Karena mayoritas anggotanya adalah ibu-ibu rumah tangga, metode greenhouse menjadi pilihan yang sangat efektif, efisien, dan fleksibel untuk dilakukan di sela-sela aktivitas rumah tangga,” kata Aris.
Aris menambahkan, sistem budidaya melon itu memanfaatkan teknologi irigasi tetes berbasis gravitasi. Sistem itu memungkinkan proses pengairan dan pemupukan menggunakan pupuk cair organik berjalan otomatis dari toren penyimpanan ke media tanam, sehingga menghemat tenaga tanpa perlu pengocoran manual.
Meski cuaca dan iklim saat ini sangat dinamis serta memicu kegagalan panen di beberapa tempat, budidaya melon di KWT Anyelir Kromodangsan dinilai sangat berhasil berkat ketekunan para anggotanya.
“Dari total 110 tanaman, sebanyak 103 pohon berhasil berbuah sempurna hingga panen. Dengan estimasi harga jual Rp30.000 per kilogram, hasil pendapatan kotor diperkirakan mencapai Rp3 juta. Dana ini nantinya dialokasikan untuk mengisi kas kelompok serta modal penanaman dan perluasan greenhouse berikutnya,” terangnya.
Program kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam pengentasan kemiskinan serta selaras dengan RPJM Kalurahan Lumbungrejo. (Dewi Rukmini)



![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



