SLEMAN, POPULI.ID – Warga Padukuhan Ngepos, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, bakal menyelenggarakan tradisi tahunan Merti Dusun ke-6 pada akhir bulan (Oktober) 2026 ini. Sejumlah rangkaian acara yang sarat dengan nuansa budaya dan religius dirancang untuk memperkuat kebersamaan warga sekaligus memohon keberkahan bagi wilayah setempat dalam gelaran Merti Dusun ke-6 itu.
Dukuh Ngepos, Imam Mukhlasin, mengatakan bahwa rangkaian acara peringatan Merti Dusun Ngepos sudah dimulai sejak beberapa hari lalu. Rangkaian acaranya dimulai dengan kegiatan semaan Al-Quran dan pengajian rutin di Masjid Al Waqof, Padukuhan Ngepos.
Rangkaian acara akan dilanjut dengan gelaran kenduri massal dan tirakatan mubeng dusun (keliling dusun) pada Jumat (30/10/2026). Kemudian, puncak acara Merti Dusun Ngepos bakal dimeriahkan gelaran pentas kesenian di pertigaan Pasar Tempel pada Sabtu (31/10/2026).
“Acara akan dimulai pukul 13.00 WIB sampai jam 11 malam (23.00 WIB). Total ada enam kelompok kesenian yang akan tampil, termasuk dua kelompok kesenian yang baru,” katanya.
Peserta dari enam kelompok kesenian yang akan tampil itu merupakan warga Padukuhan Ngepos sendiri. Dikatakan, mereka akan menampilkan kesenian religius semisal hadroh dan tarian budaya seperti gedruk serta ketoprak humor.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, gelaran Merti Dusun Ngepos tahun ini tidak ada kegiatan kirab gunungan. Namun, gantinya akan dilakukan prosesi Tirta Kamulyan Jati, yaitu ritual pengambilan air dari tujuh sumur tua di Dusun Ngepos.
Tujuh air tersebut akan didoakan melalui kegiatan Semaan Al-Quran dan Yasinan. Kemudian dibawa berkeliling dusun dalam kegiatan tirakatan mubeng dusun. Nantinya, tujuh air itu akan dituangkan di lima titik, di antaranya empat pojok Dusun Ngepos dan satu titik pusat atau tengah-tengah dusun.
“Dengan dituangkannya air itu di pojok-pojok dusun diharapkan wilayah kami menjadi mulia lahir dan batin, warganya ayem tentram, sehat lahir batin.
Kemudian dalam mencari rezeki diberi kemudahan dan rezeki yang barokah. Karena kebetulan dusun kami ada di wilayah pasar, dan hampir 80 persen warga Ngepos itu wiraswasta atau pedagang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Imam menuturkan bahwa Merti Dusun Ngepos sebenarnya berakar dari sejarah perayaan ulang tahun pemuda setempat yang diperingati setiap 28 Oktober. Seiring berjalannya waktu, warga setempat sepakat menginisiasi perayaan itu sebagai peringatan merti dusun yang digelar tiap akhir Oktober.
Tak hanya nguri-uri atau melestarikan budaya, gelaran tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi dusun setempat. Imam mengaku memiliki visi besar ke depan untuk memaksimalkan seluruh potensi Padukuhan Ngepos, agar dapat bertransformasi menjadi dusun wisata. “Saya berharap agenda yang kami selenggarakan bisa membawa Padukuhan Ngepos menjadi dusun wisata,” harap dia.
Menurut dia, saat ini Padukuhan Ngepos sudah memiliki modal yang cukup untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Di antaranya mulai dari eksistensi kelompok kesenian lokal yang terus dipupuk, pengelolaan sampah mandiri yang kini saldonya mampu membiayai kegiatan dusun, hingga kelompok wanita tani (KWT) yang aktif membudidayakan bawang merah sehingga menjadi komoditi incaran.
Selain itu, Padukuhan Ngepos juga diperkuat dengan keberadaan kelompok budidaya ikan dan potensi heritage atau cagar budaya berupa kompleks peninggalan Stasiun Tempel tempo dulu. Menariknya, kompleks Stasiun Tempel itu terdiri lengkap dari rumah dinas, kantor, stasiun, hingga jeding atau sumur tempat pengisian air kereta zaman dulu.
“Bangunannya masih utuh dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak sekitar empat tahun lalu. Ditambah, kami juga memiliki Pasar Tempel yang sudah terkenal di mana-mana,” tandasnya. (Dewi Rukmini)

![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



