YOGYAKARTA, POPULI.ID – Bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026 resmi dibuka sejak 10 Januari dan akan berlangsung hingga 6 Februari mendatang.
Namun hingga lebih dari sepekan dibuka, PSIM Yogyakarta belum juga mengumumkan kedatangan pemain anyar. Sikap tenang Laskar Mataram di tengah hiruk pikuk aktivitas transfer klub lain pun memunculkan tanda tanya di kalangan penggemar.
PSIM tercatat menjadi satu-satunya tim promosi yang belum melakukan penambahan kekuatan. Kondisi tersebut sempat memunculkan spekulasi soal keterbatasan finansial klub, terutama setelah pelatih kepala PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengungkapkan tidak adanya anggaran tambahan untuk belanja pemain di putaran kedua.
Pelatih asal Belanda itu menyebut belanja besar yang dilakukan klub pada awal musim membuat PSIM harus melakukan efisiensi di paruh kompetisi. Alih-alih mendatangkan pemain baru, manajemen justru melepas sejumlah nama.
Tiga pemain dipastikan meninggalkan tim, yakni Diandra Diaz dan Ikhsan Chan yang dipinjamkan ke FC Bekasi City hingga akhir musim, serta Rafael Rodrigues atau Rafinha yang dilepas ke PSIS Semarang. Dengan keluarnya tiga pemain tersebut, jumlah skuad PSIM kini tersisa 26 pemain.
Van Gastel tidak menampik bahwa kondisi finansial menjadi faktor utama minimnya pergerakan klub di bursa transfer paruh musim.
“Komunikasinya sudah sangat jelas dengan manajemen. Mereka mengatakan tidak ada anggaran lagi. Bagi saya itu tidak masalah karena memang begitulah cara kerjanya,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai skuad yang dimiliki saat ini masih cukup kompetitif, dengan catatan seluruh pemain dalam kondisi bugar dan siap tampil.
“Jika tim kami bisa berkumpul lengkap lagi, semua pemain fit dan siap, maka saya rasa kami akan baik-baik saja,” tambah pelatih asal Belanda itu.
Namun, Van Gastel juga mengakui situasi tim cukup menantang. Selain diterpa cedera, PSIM Yogyakarta kerap kehilangan pemain akibat akumulasi kartu dan sanksi disiplin.
“Termasuk di pertandingan terakhir melawan Madura United, pemain kami mendapat kartu merah lagi. Jadi skuad semakin menipis di setiap pertandingan,” jelasnya.
Dengan kondisi itu, Van Gastel memilih bersikap realistis dan menyerahkan sepenuhnya kepada manajemen terkait kemungkinan perubahan situasi di bursa transfer.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, memberikan klarifikasi. Ia membantah anggapan bahwa PSIM tidak memiliki anggaran transfer. Menurutnya, dana belanja pemain sebenarnya sudah disiapkan sejak awal musim.
“Budget itu sebenarnya sudah disiapkan dari awal. Dari sisi manajemen, kami membebaskan first team untuk memilih. Intinya budget-nya sudah ada sekian,” ujar Liana.
Liana menjelaskan, keputusan memaksimalkan belanja pemain di putaran pertama merupakan hasil evaluasi tim pelatih yang menilai bursa transfer paruh musim sulit menghadirkan pemain berkualitas.
“Mereka merasa putaran kedua itu susah mencari pemain yang benar-benar siap. Jadi waktu itu all out di putaran pertama, termasuk menambah Donny (Warmerdam),” ungkapnya.
Terkait kemungkinan tambahan pemain di paruh musim, Liana menegaskan anggaran sudah dimaksimalkan dan tim harus bertanggung jawab dengan komposisi skuad yang ada saat ini.
“Ya sudah dimaksimalkan. Jadi mereka harus bertanggung jawab dengan apa yang ada sekarang. Saya pribadi bersyukur dengan kondisi yang sekarang,” ucapnya.
Liana juga menekankan target PSIM di musim ini tidak berlebihan. Bertahan di kasta tertinggi dan finis di posisi 10 besar disebutnya sudah menjadi capaian yang sangat baik.
“Targetnya itu bertahan dulu. Kalau kami bisa di posisi 10 besar itu sudah Puji Tuhan. Ini sesuatu yang baru buat kami semua, manajemen juga baru. Kalau bisa ada di papan atas seperti sekarang, itu luar biasa,” ungkapnya.












