YOGYAKARTA, POPULI.ID – Tumpukan sampah di beberapa sudut Pasar Induk Buah dan Sayur Giwangan, Kota Yogyakarta, DIY, menjadi sorotan publik beberapa hari terakhir.
Para pedagang pasar rakyat itupun mengeluhkan bau tak sedap dari gunungan sampah yang membuat pusiang dan menganggu aktivitas berjualan.
Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Yogyakarta angkat suara terkait munculnya tumpukan sampah di Pasar Induk Giwangan.
Kepala Bidang Pasar Rakyat Disdag Kota Yogyakarta, Gunawan Nugroho Utomo, tak menampik tumpukan sampah di Pasar Induk Giwangan mulai bermunculan sejak awal Januari 2026.
Hal itu terjadi lantaran tempat pengelolaan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R) di Pasar Giwangan sudah overload atau kelebihan kapasitas. Ketika TPS ditutup, sampah semakin menumpuk hingga menutup akses masuk ke depo.
“Memang per 1 Januari 2026 kemarin TPS sudah ditutup. Kami tidak bisa membuang karena belum dapat alokasi pembuangan dari DLH. Tapi kami sudah berkoordinasi dengan teman-teman DLH juga,” ungkap Gunawan, Kamis (29/1/2026).
Pihaknya menyebut sebelumnya telah berupaya semaksimal mungkin mengurangi sampah yang ada di pasar-pasar. Satu cara dengan pengelolaan sampah di TPS 3R masing-masing pasar, termasuk di Pasar Giwangan. Namun, banyaknya sampah sisa sayur dan buah dari pedagang membuat TPS 3R Pasar Giwangan kelebihan muatan.
Dikatakan, tumpukan sampah itu didominasi buah afkir atau buah bad stock (BS) yang rusak selama pengiriman sehingga tidak layak dijual maupun tak laku. Gunawan mengakui penanganan buah afkir itulah yang kini masih menjadi kendala.
“Kalau kemarin-kemarin di Pasar Giwangan agak bisa tercover, buah BS bisa kami buang. Tapi sekarang begitu TPS ditutup, kami belum menemukan off taker untuk buah BS, jadi mulai menumpuk,” paparnya.
Oleh karena itu, Gunawan berharap para pedagang di Pasar Induk Giwangan bisa mengkondisikan atau memilih dan mengolah sendiri sampah-sampah yang berasal dari buah afkir. Sehingga, bisa mengurangi tumpukan sampah di pasar tersebut.
“Kami juga berharap teman-teman DLH bisa membantu setiap hari satu armada,” katanya.
Di sisi lain, pihaknya juga bakal berkoordinasi dengan paguyuban pedagang Pasar Giwangan agar bisa melakukan penangganan sampah secara mandiri. Adapun terkait retribusi, Gunawan menyebut selama ini Disdag Kota Yogyakarta tidak pernah memunggut retribusi sampah.
“Retribusi hanya untuk penggunaan kios, los, dan lapak. Kalau retribusi sampah, kami tidak memungut,” pungkasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)






![Penumpang memasuki kereta api dari stasiun Yogyakarta. [Dok. PT KAI]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/03/pt-KAI-120x86.png)





