JAWA BARAT, POPULI.ID – Kasus Suderajat, pedagang es kue atau es gabus asal Bogor yang sempat memicu empati luas di media sosial, kini berbalik arah setelah serangkaian kebohongannya terungkap di hadapan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Di balik sosoknya yang tampak malang, terungkap fakta-fakta yang berbeda dari pengakuannya selama ini.
Viral Karena Difitnah
Awalnya, Suderajat menjadi sorotan publik setelah ia menjadi korban fitnah dan mengaku diintimidasi oleh oknum aparat. Ia dituduh menjual es berbahan dasar spons atau gabus, sebuah tuduhan yang memicu gelombang dukungan dari warganet karena iba melihat nasibnya sebagai pedagang kecil. Menanggapi hal tersebut, KDM sempat memberikan bantuan berupa sepeda motor dan modal usaha kepada Suderajat.
Deretan Kebohongan yang Terungkap
Namun, saat ngobrol bersama KDM yang diunggah di kanal YouTube KDM, pernyataan Suderajat mulai menunjukkan ketidakkonsistenan. Hal yang paling menonjol adalah soal status tempat tinggalnya. Suderajat mengaku selama ini hidup serba kekurangan dan masih mengontrak rumah.
Kebenaran akhirnya terungkap saat KDM mempertemukan Suderajat dengan Ketua RW di desanya. Ketua RW tersebut menegaskan bahwa Suderajat sebenarnya memiliki rumah sendiri, bahkan telah menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
“Rumah sendiri, Pak. Tanahnya juga tanah sendiri,” ujar Ketua RW di hadapan KDM.
Selain soal rumah, Suderajat juga berbohong mengenai warisan. Ia mengaku hanya menerima warisan sebesar Rp 200 ribu. Padahal menurut Ketua RW, warisan tersebut berupa tanah yang kini sudah berdiri bangunan rumah.
Ketidakkonsistenan juga muncul saat ia ditanya soal biaya sekolah anaknya. Suderajat menyebutkan angka yang berubah-ubah, antara Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta, serta berbelit-belit saat ditanya nama sekolah sang anak.
Hal ini memicu kemarahan KDM yang merasa dikhianati oleh keterangan palsu tersebut.
“Babeh bilangnya ngontrak, bohong sih! Kenapa bohong terus?” ujar KDM dengan nada tinggi sambil memperbaiki posisi duduknya.
“Jangan ngarang. Kalau mau hidup maju harus jujur,” sambung KDM.
Indikasi Disabilitas dan Trauma
Merespons kegaduhan tersebut, Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, memberikan klarifikasi mengenai kondisi Suderajat. Berdasarkan hasil asesmen, pihak kecamatan mengungkapkan bahwa Suderajat dan istrinya terindikasi memiliki disabilitas mental, yang menyebabkan kemampuan verbal mereka terbatas dan komunikasi sering tidak nyambung.
Tenny menegaskan bahwa ketidakkonsistenan Suderajat bukan didasari niat untuk menipu.
“Hasil asesmen kami, terdapat indikasi disabilitas pada Pak Suderajat maupun istrinya. Kondisi komunikasi yang berubah-ubah itu kemungkinan besar karena keterbatasan psikologis, bukan sengaja berbohong,” jelas Tenny.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi ini diperparah oleh tekanan setelah Suderajat viral dan banyak didatangi orang asing
Fenomena Ekonomi Perhatian
Menanggapi fenomena ini, Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), AB. Widyanta, melihatnya sebagai bagian dari “Ekonomi Perhatian” (Attention Economy). Menurutnya, di era digital, penderitaan personal sering kali dikemas secara dramatis untuk menjadi komoditas yang memicu emosi publik.
Widyanta menjelaskan bahwa kisah yang mengharu biru membuat orang merasa iba dan terdorong untuk memberikan donasi secara masif. Namun, hal ini berisiko menjadi bentuk eksploitasi emosi publik.
“Penderitaan yang diperdalam terus menerus itu sebetulnya bagian dari mengeksploitasi simpati atau emosi publik. Setelah simpati muncul dan donasi mengalir, yang terjadi adalah penumpukan yang luar biasa,” tutur Widyanta.
Ia menambahkan bahwa dalam logika ekonomi perhatian, konten yang viral dan memicu emosi kuat menjadi lebih bernilai daripada konten yang substansial. Sehingga membentuk siklus tontonan dan simpati yang terkadang menjebak masyarakat dalam dinamika sosial yang semu.












