BANTUL, POPULI.ID – Tradisi Nyadran Makam Sewu 2026 di Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, kembali dilaksanakan oleh masyarakat dengan rangkaian kegiatan yang tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Meski demikian, penyelenggaraan tahun ini diakui berlangsung dengan fasilitas yang lebih terbatas.
Ketua Panitia Nyadran Makam Sewu 2026, Haryadi, menyampaikan bahwa dukungan fasilitas dari pemerintah tidak seperti biasanya karena kondisi keuangan, khususnya di tingkat kalurahan, mengalami penurunan signifikan.
“Fasilitasi memang agak berbeda, terus terangnya berkurang. Namun hal itu tidak mengurangi harapan kami bahwa Nyadran Makam Sewu tahun ini tetap bisa dilaksanakan semaksimal mungkin dengan niat dan itikad baik masyarakat untuk nguri-uri budaya,” ujarnya, Minggu (8/2/2026).
Puncak rangkaian Nyadran Makam Sewu 2026 dijadwalkan pada Senin Pahing, 9 Februari 2026. Kegiatan diawali sejak Sabtu malam dengan semaan Al-Qur’an oleh KH Anas hingga khatam pada Minggu sore setelah Asar.
Pada malam Senin digelar midodareni Makam Sewu yang diisi pengajian akbar oleh Kyai Zabidi Marzuqi dari Imogiri.
Selain itu, dzikir dan tahlil juga disampaikan oleh Mujiran atau Suratmin dari Pedukuhan Ngablak, serta dilanjutkan Senin pagi oleh KH Murtadho dari Kauman.
Memasuki puncak acara, arak jodang dilaksanakan Senin siang mulai pukul 13.00 WIB dengan rute dari Balai Kalurahan Wijirejo menuju Pesarean Makam Sewu.
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 800 peserta, dengan rata-rata satu bregodo beranggotakan 100 orang.
Arak jodang diikuti perwakilan padukuhan dari Wijirejo, Sendangsari, dan Guwosari, serta didukung kelompok bregodo pendukung dan unsur pemuda termasuk pencak silat NU.
Setelah seluruh bregodo selesai, acara dilanjutkan dengan prosesi lung tinampen atau pasrah ubarampe kenduri dari masyarakat kepada panitia Nyadran Makam Sewu dan pimpinan bregodo.
Selanjutnya digelar kenduri puncak acara yang ditargetkan dimulai sekitar pukul 14.00 WIB, disertai sambutan pemerintah setempat. Panitia juga mengundang Bupati dan Wakil Bupati Bantul serta perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Usai kenduri, masyarakat akan mengikuti sedekahan gunungan yang berisi hasil bumi dan makanan untuk dibagikan kepada warga yang hadir. Rangkaian ini menjadi bagian dari tradisi berbagi sekaligus wujud kepedulian sosial.
Haryadi menegaskan, tujuan utama pelaksanaan nyadran adalah sebagai bentuk birrul walidain atau bakti kepada orang tua dan leluhur yang dimakamkan di Pesarean Makam Sewu, khususnya tokoh leluhur masyarakat Wijirejo, Kanjeng Panembahan Bodho.
Tradisi ini juga dimaknai sebagai upaya menjaga adat dan kearifan lokal dengan latar belakang religi sekaligus budaya.
“Nyadran bukan hanya doa, tetapi juga sedekah dan kepedulian sosial kepada sesama. Di dalamnya ada pesan moral untuk menghormati leluhur,” jelasnya.
Seiring waktu, tradisi Nyadran Makam Sewu mengalami pengembangan. Jika dahulu hanya berfokus pada bersih makam dan doa, kini ditambah pengajian, kenduri, sedekah makanan mentah maupun matang, hingga arak jodang sebagai bagian pelestarian budaya. Meski begitu, panitia menegaskan tidak ada unsur praktik perdukunan dalam pelaksanaannya.
Pelibatan pemuda juga menjadi perhatian agar generasi muda memahami nilai dan pesan moral yang terkandung dalam tradisi nyadran.
Menurut Haryadi, tantangan di era modern adalah anggapan bahwa nyadran kurang memberi manfaat langsung sehingga perlu penjelasan agar masyarakat tetap mendukung pelestarian tradisi.
Selain aspek religi dan sosial, tradisi ini juga diharapkan menjadi potensi pengembangan wisata religi di wilayah setempat.
Antusiasme warga disebut meningkat dari tahun ke tahun, bahkan pada pelaksanaan tahun ini tercatat sekitar 150 pedagang kaki lima berjualan selama rangkaian Sabtu hingga puncak acara Senin.
“Harapannya, tradisi ini tetap lestari sebagai kearifan lokal sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Sub Koordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dinas Pariwisata Bantul, Markus Purnomo Adi, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Nyadran Makam Sewu yang telah berlangsung secara turun-temurun.
“Nyadran ini adalah upacara adat tradisi turun-temurun yang perlu dilestarikan. Selain untuk menghormati leluhur, juga menjadi budaya yang dapat menarik kunjungan wisata,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya turut berperan dalam mempromosikan kegiatan tersebut kepada masyarakat dan pelaku wisata.
“Kami menginformasikan kepada pelaku wisata sehingga bisa ditawarkan kepada pengunjung sebagai sarana mengenalkan adat dan tradisi,” ujarnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












