• Tentang Kami
Wednesday, February 11, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

PHK Meningkat Berpotensi Destruktif, Hempri: Pemerintah Jangan Abai

PHK bukan hanya perkara kehilangan pekerjaan, tetapi juga hilangnya aksesibilitas masyarakat kepada kebutuhan mendasar, seperti makanan, pendidikan, dan kesehatan.

byredaksi
February 9, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 3 mins read
A A
0
ilustrasi PHK

Ilustrasi PHK. [vecteezy/Titiwoot Weerawong]

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

SLEMAN, POPULI.ID – Berdasarkan data yang dirilis Kemenaker RI, sepanjang Januari -Desember 2025 terdapat 88.519 tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Diperkirakan, risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada tahun 2026 diperkirakan akan meluas seiring dengan tertahannya lamaran pekerjaan di beberapa sektor.

BERITA MENARIK LAINNYA

Kota Yogyakarta Tak Butuh Branding Baru, Hasto: Fokus Perkuat Tiga Pilar Utamanya

Pakar UMY Soroti Tekanan Ekonomi DIY: Upah Rendah, Biaya Hidup Tinggi

Padahal dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 mencatat sekitar 57,70 persen atau 85 juta pekerja dari total 147,91 pekerja berstatus informal.

Sementara dari sisi pemberi kerja, lebih dari 90 persen usaha adalah UMKM. Di tengah kondisi lapangan pekerjaan yang menyempit, PHK meluas, dan lamaran yang tertahan di beberapa sektor, masyarakat tidak hanya kehilangan sumber penghasilan, tetapi juga berisiko besar dalam menghadapi disintegrasi sosial.

Di tengah kondisi lapangan pekerjaan yang menyempit, PHK meluas, dan lamaran yang tertahan di beberapa sektor, masyarakat tidak hanya kehilangan sumber penghasilan, tetapi juga beresiko besar dalam menghadapi disintegrasi sosial.

Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada (PSdK UGM), Hempri Suyatna, menilai bahwa fenomena PHK yang terjadi di negara ini, adalah salah satu imbas besar dari keadaan perekonomian global yang turut berdampak ke Indonesia.

Namun, menurutnya, PHK menjadi persoalan yang jauh lebih destruktif secara sosial ketika negara abai dalam mengantisipasi dampak yang menyertainya.

“PHK bukan hanya perkara kehilangan pekerjaan, tetapi juga hilangnya aksesibilitas masyarakat kepada kebutuhan mendasar, seperti makanan, pendidikan, dan kesehatan. Apabila dibiarkan secara terus-menerus, maka akan timbul frustasi sosial dan pola-pola negatif di masyarakat,” ujar Hempri sebagaimana dilansir dari laman UGM, Senin (9/2/2026).

Ia menegaskan bahwa pembangunan sosial, yang dalam konteks ini berfungsi untuk mengatasi angka PHK di Indonesia, seharusnya bersifat inklusif dan berpihak kepada masyarakat, terutama mereka yang rentan.

Hempri mengkritisi bagaimana model pembangunan yang ada di Indonesia lebih berorientasi pada “pertumbuhan” ekonomi dan infrastruktur semata, tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya.

“Pembangunan jangan hanya menguntungkan kelompok elite. Ketika lahan produktif terus beralih fungsi menjadi properti dan pusat komersial, masyarakat kecil justru semakin termarjinalkan. Ini adalah masalah struktural yang harus dihadapi secara serius,” katanya.

Soal perlindungan sosial, Hempri melihat negara belum banyak hadir bagi mereka yang terdampak PHK, terlebih lagi bagi mereka yang bekerja di sektor informal.

Beberapa jaminan ketenagakerjaan dinilai belum efektif untuk didistribusikan dan masih beroperasi dalam logika formalitas kerja sehingga meminggirkan kelompok besar yang  termarjinalisasi dan tidak terlindungi.

“Petani, nelayan, dan pekerja informal berada di luar jangkauan perlindungan yang efektif. Ini menunjukkan bahwa kebijakan sosial kita masih eksklusif dan belum menjawab realitas struktur tenaga kerja Indonesia,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa PHK akan memberikan dampak yang menjalar, tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi kohesi sosial dan kesehatan mental masyarakat juga akan terserang.

Meningkatnya frustasi sosial, kriminalitas, dan kasus bunuh diri merupakan resiko nyata ketika negara gagal menyediakan peluang kerja dan perlindungan sosial yang memadai.

“Ini bukan persoalan individual, tetapi krisis sosial. Ketika peluang hidup semakin sempit, masyarakat terdorong pada tindakan-tindakan ekstrem,” katanya.

Hempri menambahkan bahwa realokasi anggaran merupakan langkah yang perlu ditempatkan dalam keberpihakan yang jelas. Dalam tanggapannya, ia mengingatkan bahwa realokasi tidak boleh bertumpu pada pemindahan pos anggaran saja, tetapi juga pengarahan akan kebijakan yang produktif dan berorientasi pada keadilan sosial.

“Pemerintah perlu meninjau ulang kebijakan atau anggaran yang kurang efektif untuk kemudian dialihkan pada sektor yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, terutama dalam perlindungan sosial dan penciptaan lapangan kerja,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia turut menekankan perlunya perubahan paradigma dalam melihat PHK.

Baginya, selama PHK hanya didefinisikan sebagai persoalan industrial, permasalahan internal individu, dan efisiensi ekonomi, negara akan selalu gagal membaca dampak sosial yang luas.

“PHK tidak boleh diperlakukan hanya sebagai persoalan industrial. Dampaknya menyentuh aspek psikologis, sosial, dan kemanusiaan. Karena itu, pembangunan harus dijalankan dengan paradigma inklusif dan keberpihakan nyata pada kelompok marginal,” pungkas Hempri.

Tags: destruktifdisintegrasi sosialekonomiHempri SuyatnaindonesiaPembangunanPHK

Related Posts

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Kota Yogyakarta Tak Butuh Branding Baru, Hasto: Fokus Perkuat Tiga Pilar Utamanya

February 9, 2026
Wisatawan melintas di kawasan Tugu Yogyakarta.

Pakar UMY Soroti Tekanan Ekonomi DIY: Upah Rendah, Biaya Hidup Tinggi

February 1, 2026
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan melakukan penanaman bibit kopi arabika secara simbolik di kawasan perbukitan menoreh, Rabu (21/1/2026)

Tanam 2000 Bibit Kopi Arabika, Bupati Kulon Progo Dorong Pertumbuhan Ekonomi Baru di Menoreh

January 22, 2026
Potret kawasan kumuh dan padat penduduk di wilayah bantaran Sungai Code, Kamis (22/1/2026). Pemkot Yogyakarta berencana melakukan penataan menyeluruh di kawasan tersebut agar lebih baik dan sehat

Penataan Kawasan Bantaran Sungai Code Berlanjut, Warga Terdampak Pembangunan Disubsidi Rp500 Ribu

January 22, 2026
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta, Hasri Nilam Baswari, ditemui di kantornya pada Selasa (20/1/2026).

Bakal Dikerjakan April 2026, Pembangunan Jembatan Kewek Adopsi Gaya Indische

January 21, 2026
DPUPKP Kota Yogyakarta melakukan pengujian tanah di Jembatan Kewek sebelum dilakukan revitalisasi, Selasa (20/1/2026).

Progres Rencana Pembangunan Ulang Jembatan Kewek: DPUPKP Uji Tanah Keras untuk Pondasi

January 20, 2026
Next Post
Presiden Prabowo Subianto

Ramai-ramai Dukung Prabowo Dua Periode, Pengamat: Masih Prematur

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.