YOGYAKARTA, POPULI.ID – Lahan pemakaman di Kota Yogyakarta kian sempit, mengakibatkan sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) sudah penuh dan berdesak-desakan. Metode makam tumpuk pun diambil untuk mengatasi keterbatasan lahan pemakaman.
Ayuri (30) adalah satu dari sekian warga Kota Yogyakarta yang makam orang terkasihnya ditumpuk. Warga Kampung Karangwaru itu mengaku mendiang kakek dan neneknya dimakamkan dalam satu liang di Makam Karangwaru, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, DIY.
“Ada makam keluarga saya yang ditumpuk. Yakni makam kakek dan nenek saya. Awalnya kakek saya meninggal lebih dulu, sekitar 10 tahun kemudian disusul nenek saya. Dijadikan satu makam karena pasangan,” jelas Ayuri kepada Populi.id, Kamis (12/2/2026).
Dia mengaku tak keberatan dengan metode makam tumpuk yang diterapkan di Kota Yogyakarta. Asalkan jenazah yang dijadikan satu liang masih mukhrim atau punya ikatan keluarga.
“Kalau saya sendiri tidak masalah karena dari keluarga memang ada yang ditumpuk. Tapi kalau bukan pasangan suami istri, mungkin saya agak keberatan makamnya ditumpuk,” ujarnya.
Meski begitu, Ayuri menilai terbatasnya lahan pemakaman di Kota Yogyakarta cukup membuatnya miris. Dalam benaknya ada rasa tak tega melihat tempat peristirahatan terakhir terlalu berhimpitan.
“Saya berharap pemerintah memperhatikan lahan pemakaman umum untuk warga. Supaya bisa teratur dan tidak berhimpit-himpitan hingga banyak yang tergusur,” harap dia.
Masalah krisis lahan pemakaman itu juga tak luput dari perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan bahwa saat ini sedang berproses menyiapkan lahan pemakaman umum baru untuk warga Kota Yogyakarta.
“Saat ini kami sedang penjajakan untuk pembelian lokasi tanah pemakaman baru di Bantul. Insya Allah nanti segera kami cukupi, sehingga masyarakat Jogja bisa terlayani dengan baik,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)











