YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kawasan Tugu Golong Giling atau Tugu Jogja, Kota Yogyakarta, DIY, tampak berbeda pada Sabtu (14/2/2026). Di tengah padatnya arus lalu lintas di sekitar Tugu Jogja, terlihat arak-arakan puluhan warga berpakaian kebaya adat Jawa.
Mereka memikul satu gunungan apem dan tenggok berisi nasi gurih diiringi bregada Cokrodiningratan. Gunungan apem tersebut diarak dari RW 07 Kampung Jogoyudan menuju Kantor Kelurahan Gowongan dalam agenda upacara adat ruwahan Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta, DIY.
Lurah Gowongan, Tika Adriati Afita, mengatakan, grebeg ruwahan digelar untuk menyambut bulan puasa Ramadan 2026. Dalam gelaran itu terdapat apem sebanyak 500 buah dan nasi gurih diarak serta dibagikan kepada masyarakat.
“Apem dan nasi gurih dibuat oleh warga Kampung Jogoyudan secara gotong royong,” ucap Tika kepada Populi.id.
Selain menyambut bulan suci Ramadan 2026, gelaran tersebut juga menjadi upaya warga Kelurahan Gowongan untuk nguri-uri atau melestarikan tradisi budaya leluhur.
“Kegiatan itu juga jadi momentum kami menghidupkan kembali kerja bakti, silahturahmi, dan ingat leluhur. Selain itu juga bagaimana kami mengintropeksi, menyucikan, dan mawas diri sebelum memasuki bulan Ramadan,” jelasnya.
Ketua Panitia Upacara Adat Ruwahan Kelurahan Gowongan, Suroto, menyampaikan kegiatan itu sudah empat kali digelar. Gelaran budaya itu terus dilestarikan karena mengandung filosofi dan ajaran kehidupan yang diwariskan dari leluhur orang Jawa.
“Apeman itu adalah tradisi orang tua di Yogyakarta. Apem atau afuun punya arti maaf, diharapkan bisa saling memberi dan meminta maaf. Lalu ketan itu keraket atau lekat sebagai simbol ikatan persaudaraan dan kekeluargaan. Sedangkan kolak dari kata kholaqo artinya Yang Maha Menguasai, sehingga diharapkan bisa selalu dekat dengan Sang Kholiq,” papar dia.
Sementara itu, Mantri Pamong Praja (MPP) Kemantren Jetis, Ekwanto, mengaku bersyukur tradisi ruwahan masih terus dilestarikan oleh warga Kota Yogyakarta, terutama warga Kelurahan Gowongan yang berada di kawasan sumbu filosofi Yogyakarta.
“Kegiatan seperti ini tak terpisahkan untuk mendukung eksistensi Sumbu Filosofi Yogyakarta. Sehingga harus terus diuri-uri masyarakat meskipun sekarang notabene sudah modern,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












