BANTUL, POPULI.ID – Tren kanker usus besar atau kanker kolorektal dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan, termasuk pada kelompok usia produktif.
Jika sebelumnya penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pasien usia lanjut, kini dokter mulai menjumpai kasus pada pasien yang bahkan belum mencapai usia 50 tahun.
Dokter Spesialis Bedah RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Fadli Robby Amsriza, membenarkan adanya tren peningkatan tersebut.
“Ini sejalan dengan berbagai penelitian terbaru yang menunjukkan peningkatan kasus pada kelompok usia muda mencapai sekitar 1–2 persen setiap tahun. Jadi, tren ini nyata dan perlu menjadi perhatian bersama,” ungkapnya dilansir dari laman UMY, Minggu (22/2/2026).
Menurut dr. Fadli, peningkatan kasus tidak semata-mata disebabkan faktor genetik. Meskipun faktor keturunan tetap berperan, lonjakan kasus saat ini lebih banyak dipicu oleh perubahan pola hidup masyarakat modern.
“Faktor genetik memang ada, tetapi tidak menyumbang peningkatan signifikan seperti yang kita lihat sekarang. Pola makan dan aktivitas harian sangat berpengaruh. Konsumsi alkohol secara rutin atau berlebihan, merokok, makanan yang dibakar, hingga makanan ultra-proses dapat memicu peradangan berulang di usus besar. Peradangan mikro yang berlangsung lama inilah yang berpotensi memicu kanker,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pola makan rendah serat dan tinggi gula turut berkontribusi terhadap peningkatan risiko. Kurangnya aktivitas fisik yang berujung pada obesitas juga menjadi faktor yang memperbesar peluang terjadinya kanker kolorektal.
Sayangnya, kanker usus besar sering kali tidak terdeteksi sejak dini, terutama pada kelompok usia muda. Satu di antara gejala paling umum adalah buang air besar (BAB) berdarah.
Namun, banyak orang menganggap kondisi tersebut hanya sebagai wasir atau ambeien sehingga enggan memeriksakan diri.
“Gejalanya sering tidak disadari karena letaknya di dalam. Generasi muda juga cenderung takut memeriksakan diri karena khawatir jika terdiagnosis kanker harus menjalani operasi. Padahal belum tentu demikian. Yang terpenting adalah deteksi dini, karena penanganan sangat bergantung pada stadium penyakitnya,” paparnya.
Selain BAB berdarah, gejala lain yang kerap diabaikan adalah munculnya benjolan di area anus serta penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab yang jelas. Ironisnya, sebagian besar pasien datang berobat ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut.
Menurut dr. Fadli, tingkat kesembuhan kanker kolorektal sebenarnya sangat tinggi apabila terdeteksi sejak dini. Pada stadium awal, peluang kesembuhan dapat mencapai 95 persen.
Namun, jika kanker telah menyebar, angka tersebut dapat turun drastis hingga di bawah 50 persen.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala awal seperti gatal di area anus atau BAB berdarah. Secara medis, skrining dianjurkan mulai usia 40 tahun melalui pemeriksaan endoskopi bawah atau kolonoskopi secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
“Oleh sebab itu, konsumsilah makanan yang alami dan minim proses. Tiga faktor utama pencegahan kanker kolorektal adalah pola makan sehat, asupan serat yang cukup, serta aktivitas fisik secara rutin,” tegas dr. Fadli.












