POPULI.ID – Kondisi dua tim sepak bola trah Mataram tengah dirundung awan mendung. PSIM Yogyakarta dan Persis Solo, sama-sama gagal mencatatkan satu pun kemenangan sejak memasuki putaran kedua BRI Super League 2025/2026.
Hingga pekan ke-22, baik PSIM maupun Persis masih berjuang untuk memutus tren negatif yang mengancam target mereka musim ini.
PSIM Yogyakarta: Masalah Struktural dan Keterbatasan Skuad
PSIM mencatatkan lima laga beruntun tanpa kemenangan di awal putaran kedua. Rinciannya dua kekalahan dari Persebaya Surabaya (0-3) dan Borneo FC (1-2), serta tiga hasil imbang melawan Persis Solo (0-0), Persik Kediri (2-2), dan Bali United (3-3). Meski masih tertahan di posisi ketujuh klasemen dengan 33 poin, posisi Laskar Mataram sangat riskan untuk terus merosot.
Pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, mengungkapkan beberapa indikasi dan penyebab keterpurukan ini. Van Gastel mengakui adanya kendala mendasar atau masalah struktural dalam tim yang harus segera diperbaiki.
Menurutnya, setiap laga memiliki kesulitan berbeda, seperti saat melawan Persebaya di mana pemain harus bermain di luar posisi aslinya (Rakhmatzoda dan Rio sebagai bek tengah), serta kebobolan di menit akhir saat melawan Borneo FC.
Berbeda dengan tim lain yang melakukan perombakan besar, PSIM hanya mendatangkan satu pemain baru, Jop van der Avert, karena keterbatasan anggaran. Manajemen dan pelatih kini lebih fokus pada target realistis, yaitu bertahan dengan nyaman di kasta tertinggi dan menghindari zona degradasi.
Analisis Lini Serang PSIM: Melempemnya Para Predator
Satu di antara faktor utama PSIM Yogyakarta sulit menang adalah tumpulnya barisan penyerang mereka di putaran kedua. Data statistik dari situs Transfermarkt menunjukkan penurunan efektivitas yang signifikan:
* Nermin Haljeta: Mencatatkan 22 laga dengan koleksi 4 gol dan 5 assist. Namun gol terakhirnya tercipta di pekan ke-11.
* Deri Corfe: Hanya mampu menyumbangkan 1 gol dari 18 penampilan.
* Anton Fase: Baru mencetak 2 gol dari 9 laga dan saat ini harus menepi karena cedera fraktur ibu jari kaki.
* Ketiadaan Predator: Tidak ada nama pemain PSIM di jajaran pencetak gol terbanyak liga. Serangan PSIM justru lebih banyak bergantung pada shadow attacker seperti Fahreza Sudin, Ezequiel ‘Pulga’ Vidal, atau Ze Valente.
Keputusan Van Gastel melepas Rafinha, top skor Liga 2 musim lalu, ke PSIS Semarang juga disorot karena ia merupakan striker murni. Sementara striker yang ada saat ini dianggap kurang garang di kotak penalti lawan.
Persis Solo: Ganti Pelatih Bukan Jaminan Solusi
Kondisi serupa dialami Persis Solo yang kini terjerembab sebagai juru kunci klasemen (peringkat 18) dengan hanya 13 poin. Meskipun telah mengganti pelatih ke Milomir Seslija, Laskar Sambernyawa tetap belum meraih kemenangan dalam lima laga putaran kedua. Mereka menderita 2 kalah dan 3 imbang.
Milomir berdalih bahwa kegagalan ini adalah konsekuensi dari pembentukan tim baru dan pembangunan chemistry yang baru berjalan empat pekan. Namun, manajemen Persis Solo tidak memiliki banyak kesabaran dan telah memberikan ultimatum tegas kepada Milo untuk meraih 6 poin dalam dua laga ke depan melawan Persik Kediri dan Persijap Jepara. Jika target ini gagal, posisi Milo berada di ujung tanduk.
Van Gastel Ikut Diultimatum?
Berbeda dengan kondisi Milomir Seslija yang sudah menerima ultimatum pemecatan, posisi Jean-Paul van Gastel saat ini relatif lebih aman, meskipun tekanan dari suporter mulai muncul. Hal ini disebabkan oleh:
1. Posisi Klasemen: PSIM masih berada di peringkat ketujuh, jauh lebih baik dibandingkan Persis Solo yang berada di dasar klasemen.
2. Apresiasi Manajemen: Van Gastel merasa didukung oleh manajemen meski anggaran terbatas. Ia masih optimistis bisa memperbaiki masalah struktural tim.
3. Realita Target: Target PSIM yang hanya ingin bertahan di posisi aman klasemen Super League membuat manajemen cenderung lebih realistis melihat performa tim di tengah persaingan bursa transfer yang masif dari tim rival.
Namun, jika PSIM terus gagal meraih kemenangan di laga-laga selanjutnya, bukan tidak mungkin tekanan untuk mengultimatum Van Gastel akan semakin menguat guna menyelamatkan tim dari ancaman papan bawah.











