YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kota Yogyakarta memiliki berbagai jenis kudapan tradisional yang sering menjadi incaran masyarakat untuk berbuka puasa Ramadan. Satu di antara kudapan tradisional yang dianggap khas selama bulan puasa yakni jajanan pasar kipo, makanan khas Kotagede.
Berbeda dengan kudapan tradisional lainnya, kipo memiliki bentuk kecil, berwarna hijau seperti ulat keket. Kudapan itu biasanya disajikan dalam satu bungkus berisi lima buah kipo. Meskipun masuk deretan jajanan pasar, namun konon kipo merupakan kudapan favorit para raja Mataram Islam.
Adapun salah satu warga yang masih melestarikan kudapan tradisional khas Kotagede itu adalah Istri Rahayu (60), pemilik Kipo Bu Djito.
Istri Rahayu merupakan penerus generasi ketiga pembuat kipo di Kotagede.
“Saya ini sudah generasi ketiga Kipo Bu Djito, mulai saya pegang pada 1990,” ucap Istri kepada Populi.id, Sabtu (28/2/2026).
Istri bercerita, kue kipo konon sudah ada semejak masa Kerajaan Mataram. Lalu berjalannya waktu, kipo kembali muncul, satu di antaranya dipopulerkan oleh Mangun Irono.
Istri Rahayu menyebut usaha kue kipo pertama kali dirintis oleh neneknya Mangun Irono pada 1946 atau ketika Indonesia memasuki masa revolusi. Kemudian dilanjutkan oleh sang ibu, Djito Soeharjo, yang namanya diabadikan sebagai merek kipo buatannya.
“Kebetulan anak perempuan Ibu (Djito) kan cuma saya. Kalau tidak diteruskan kok sayang. Karena Kipo selain saya bisa meneruskan warisan Ibu dan turut melestarikan kue tradisional asal Kotagede, ternyata juga bisa untuk menambah income (pemasukan) keluarga,” ujarnya.
Istri menjelaskan, kulit kue kipo terbuat dari tepung ketan yang dicampur pewarna alami daun suji atau katuk. Kudapan itu berisi campuran parutan kelapa muda dan gula Jawa atau enten-enten sehingga memiliki rasa manis legit dalam sekali suap.
“Pembuatannya saya masih manual dengan proses pemanggangan secara tradisional menggunakan cobek gerabah, sehingga harus telaten. Biasanya saya buat mulai dini hari pukul 01.00 WIB sampai subuh, kalau pesanan diambil habis subuh,” papar dia.
Dia mengungkapkan pada hari biasa sering memproduksi kipo sebanyak 300 bungkus. Ketika bulan Ramadan, dia hanya membuat 80 bungkus untuk dijual sendiri.
Kendati demikian, ketika ada pesanan dan menjelang Idul Fitri 2026 dia mulai kebanjiran orderan kipo hingga ratusan bungkus per hari.
“Alhamdulillah pesanan untuk acara Syawalan sudah masuk, ada yang pesan 100 bungkus dan 250 bungkus. Untuk per bungkus saya jual Rp3.200, tapi menyesuaikan harga bahan biasanya,” kata dia.
Istri mengaku merasa bangga bisa menjadi bagian dari masyarakat Kota Yogyakarta yang melestarikan makanan tradisional daerahnya. Dia berharap, usaha Kipo Bu Djito itu bisa terus lestari dan diteruskan oleh anak-anaknya. (populi.id/Dewi Rukmini)


![Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. [populi.id/Hadid Pangestu]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/03/20260301_121035-120x86.jpg)









