GUNUNGKIDUL, POPULI.ID – Sejurus dengan semaraknya libur lebaran, kawasan wisata di Gunungkidul mulai riuh didatangi para pelancong.
Sayangnya keriuhan tersebut nyatanya dirasakan begitu sepi oleh sejumlah pedagang oleh-oleh khas Gunungkidul yakni berupa camilan walang atau belalang goreng.
Satu di antaranya dirasakan Badarmiyati (52). Sosok yang selama hampir satu dekade menggantungkan hidupnya dari berjualan walang goreng di pinggir jalan tersebut, saat libur lebaran kali ini tak sempat berkunjung ke sanak saudara.
Usai sholat ied, ia hanya mendatangi rumah tetangga terdekat, setelah itu langsung meninggalkan rumah untuk berjualan.
Di bawah terik matahari Kamis (26/3/2026), Badarmiyati duduk setia di lapaknya yang terletak di kawasan Jalan Jogja-Wonosari. Toples-toples berisi walang goreng berjajar rapi, menawarkan camilan khas yang kerap diburu wisatawan.
Namun tahun ini, ia mengaku penjualannya menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tidak seperti tahun lalu, tahun ini nggak terlalu baik,” ujarnya lirih kepada Populi.id.
Menurutnya, ramainya wisatawan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah pembeli. Banyak pengunjung datang menggunakan kendaraan pribadi tanpa berhenti, sementara rombongan bus yang biasanya membawa pembeli dalam jumlah besar belum terlihat.
“Wisatawan memang ramai, tapi banyak yang lewat saja. Bus belum ada, anak-anak pondok juga nggak beli,” katanya.
Persaingan juga semakin terasa. Kini, jumlah penjual walang goreng di sepanjang jalur tersebut kian menjamur. Hampir di setiap titik terdapat lapak serupa, membuat pembeli tersebar dan tidak terpusat.
“Yang jualan sekarang tambah banyak sekali. Di mana-mana ada,” ucapnya, mencoba tetap legawa.
“Ya saya maklum, banyak orang cari rejeki,” imbuhnya.
Meski kondisi tak sebaik dulu, Badarmiyati memilih bertahan dengan prinsipnya. Ia tetap menjual satu wadah walang goreng seharga Rp25 ribu, tanpa menaikkan harga meski biaya bahan baku dan minyak goreng ikut naik.
“Kalau yang lain ambil dari saya bisa dijual lagi lebih mahal, tapi saya nggak tega. Yang penting laku sedikit-sedikit,” tuturnya.
Baginya, berjualan bukan sekadar mencari keuntungan besar, melainkan cara bertahan hidup. Ia mengolah sendiri walang yang dibelinya dari pengepul di wilayah Playen, lalu memasaknya dengan bumbu sederhana, bawang dan racikan pedas manis yang menjadi ciri khasnya.
“Rasanya itu mirip udang, banyak yang penasaran,” katanya sambil tersenyum.
Dalam sehari, ia biasanya hanya menjual satu hingga beberapa toples kepada tiap pembeli.
Jarang ada yang membeli dalam jumlah besar. Berbeda dengan masa lalu, ketika akhir pekan bisa menghasilkan lebih dari 50 toples terjual, kini angka itu sulit tercapai. Bahkan terkadang ia mengaku sehari hanya laku sampai 4 toples dalam sehari.
“Sekarang belum tentu sampai 50. Tapi ya sudah, namanya jualan di pinggir jalan, mengadu nasib,” ungkapnya.
Di tengah persaingan yang kian ketat dan perubahan pola wisatawan, lapak-lapak sederhana seperti milik Badarmiyati tetap bertahan. Mereka bukan sekadar penjual camilan, tetapi bagian dari denyut ekonomi kecil di jalur wisata yang terus bergerak.
Meski penjualan menurun, harapan itu masih ada tersimpan di setiap toples walang goreng yang menunggu pembeli berhenti, sekadar mencicipi, lalu membawa pulang rasa khas dari Gunungkidul.
Di sisi lain, keberadaan oleh-oleh walang goreng masih memiliki tempat tersendiri di hati pembeli. Widyo, seorang pekerja kantor yang ditemui di lokasi, mengaku sengaja membeli camilan tersebut sebagai oleh-oleh untuk rekannya di Jakarta.
“Walang ini kan khas Gunungkidul, di Jogja jarang ada selain di jalan sini. Teman-teman di Jakarta suka,” katanya.
Ia menilai harga Rp25 ribu per wadah masih tergolong wajar dan tidak memberatkan pembeli. Bahkan, ia berharap para penjual tetap mempertahankan harga tersebut. “Menurut saya jangan dinaikkan. Sudah pas, worth it,” ujarnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












