YOGYAKARTA, POPULI.ID — Peristiwa duel maut yang terjadi di Jalan Ki Mangun Sarkoro, tepatnya di depan SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, Pakualaman pada Rabu (25/3/2026) dini hari kembali menyoroti maraknya kekerasan di kalangan pelajar.
Dalam kejadian tersebut, dua remaja berinisial RA (17) dan AP (18) mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam. Polisi mengungkap bahwa perkelahian tersebut bukan aksi spontan, melainkan telah direncanakan sebagai bagian dari konflik internal geng pelajar bernama Vascal.
RA yang diketahui ingin keluar dari geng diwajibkan mengikuti duel fisik atau yang dikenal sebagai “fix-fixan”. Namun dalam pelaksanaannya, ia justru menjadi korban pengeroyokan. Sementara AP turut mengalami luka bacok di beberapa bagian tubuh.
Menanggapi fenomena ini, Koordinator Kajian Ilmu Pendidikan FIP UNY, Ariefa Efianingrum, mengungkapkan keprihatinannya atas kembali munculnya kekerasan pelajar di Yogyakarta. Ia menilai kejadian tersebut sebagai gunung es yang sewaktu-waktu dapat kembali muncul jika tidak ditangani secara komprehensif.
“Fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari keberadaan geng remaja yang seringkali berafiliasi dengan geng sekolah. Aksi gladiator atau fix-fixan merupakan bagian dari repertoar dalam keanggotaan geng,” ujarnya kepada Populi.id, Jumat (27/3/2026).
Ariefa menjelaskan, dalam struktur geng pelajar terdapat aturan tidak tertulis yang mengikat anggotanya, mulai dari proses rekrutmen, konflik dengan geng lain, hingga mekanisme keluar dari kelompok. Aktivitas tersebut bersifat tertutup dan kerap tidak diketahui oleh orang tua maupun pihak sekolah.
Di era digital, lanjutnya, praktik kekerasan ini justru semakin berkembang. Media sosial menjadi ruang baru bagi remaja untuk berinteraksi sekaligus menampilkan aksi kekerasan sebagai bentuk eksistensi kelompok.
Dari perspektif sosiologi, Ariefa menilai keterlibatan remaja dalam geng merupakan bentuk penyimpangan sosial yang dipengaruhi berbagai faktor. Masa transisi remaja yang penuh tekanan, baik dari faktor internal maupun eksternal, membuat mereka mencari dukungan sosial melalui kelompok sebaya.
Ia juga menyinggung konsep modal sosial dan simbolik, di mana solidaritas kelompok dibangun melalui jejaring pertemanan, sementara keberanian dan aksi kekerasan menjadi alat untuk membangun reputasi geng agar disegani.
Selain itu, Ariefa menggunakan pendekatan ekologi perkembangan untuk menjelaskan fenomena tersebut. Menurutnya, perilaku remaja dipengaruhi oleh berbagai lapisan lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, hingga kebijakan sosial dan budaya masyarakat.
“Ketika relasi dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan tidak harmonis, serta kontrol sosial masyarakat melemah, maka potensi penyimpangan seperti ini semakin besar,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran perkembangan teknologi dan akses terhadap konten kekerasan di media digital yang dapat memicu imitasi di kalangan remaja.
Untuk mencegah kejadian serupa, Ariefa menekankan pentingnya kolaborasi multipihak. Keluarga perlu menjadi ruang aman bagi anak, sementara sekolah harus menciptakan lingkungan yang kondusif dan mampu mendeteksi masalah siswa sejak dini.
Di sisi lain, pemerintah dan aparat keamanan diharapkan meningkatkan pengawasan di ruang publik, terutama pada malam hingga dini hari, serta memanfaatkan teknologi seperti CCTV dan kanal pelaporan digital.
“Pembatasan akses terhadap konten kekerasan juga penting. Dengan kolaborasi yang sinergis, kesadaran akan bahaya kekerasan geng dapat dibangun bersama,” kata Ariefa.
Ariefa berharap upaya bersama tersebut dapat mencegah berulangnya kekerasan pelajar dan menjaga Yogyakarta sebagai kota yang aman dan nyaman bagi semua kalangan.






