POPULI.ID – Kematian tragis dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa dr. Icha (27), yang mengakhiri hidupnya pada Jumat (26/6/2026) memicu sorotan terhadap perlindungan tenaga medis di Indonesia. Satu-satunya ahli toksinologi di Indonesia yang menjadi konsultan dr. Icha saat kejadian, Dr. dr. Tri Maharani, mengungkapkan adanya tekanan hebat dan intimidasi oleh oknum anggota DPRD di balik depresi berat yang dialami dokter muda tersebut.
Peristiwa bermula pada 13 Juni 2026 di IGD RSU Leona, Timor Tengah Utara (TTU), saat dr. Icha menangani pasien gigitan ular yang merupakan kerabat anggota DPRD TTU. Di tengah situasi medis yang krusial, dr. Icha menghubungi Tri Maharani berkali-kali dalam kondisi ketakutan luar biasa.
“Dokter Maha, tolonglah karena aku ini lagi dimarah-marahi dan dibentak-bentak,” ungkap Tri Maharani dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, dikutip Kamis (2/7/2026).
Tri menjelaskan bahwa intimidasi muncul karena pihak keluarga pasien, yang didampingi tiga anggota DPRD TTU, memaksa dr. Icha memberikan Serum Anti Bisa Ular (SABU). Padahal, berdasarkan hasil observasi, pasien hanya mengalami fase gejala lokal yang tidak membutuhkan SABU. Tri menegaskan bahwa pemberian SABU tanpa indikasi sistemik justru dapat mengancam nyawa pasien karena risiko syok anafilaktik.
“Laboratorium pasien normal, fisik normal. Jadi memang tidak boleh diberi anti bisa ular, kalau diberi justru bahaya banget bisa menimbulkan syok anafilaktik dan bisa pasiennya meninggal, bukan karena bisa ularnya tapi pemberian obatnya,” jelas Tri Maharani.
Meskipun dr. Icha telah berusaha menjelaskan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), ia tetap menerima perlakuan kasar. Menurut keterangan dari keluarga dan Tri, oknum anggota DPRD tersebut membentak-bentak, menanyakan nama lengkap dr. Icha dengan nada mengancam, bahkan menyatakan bisa membekukan praktik dokter tersebut.
“Dia cerita, ‘Aku dibentak-bentak, bahkan aku ditanyain nama lengkap. Takut, Dok’,” ujar Tri Maharani.
Walau berada di bawah tekanan hingga mencucurkan air mata, dr. Icha tetap teguh menjalankan SOP demi keselamatan pasien. Ironisnya, pasien tersebut dinyatakan sembuh dan pulang pada 15 Juni, namun kondisi mental dr. Icha justru memburuk secara drastis.
Ia didiagnosis mengalami depresi berat dan sempat menjalani perawatan medis sebelum akhirnya ditemukan tak bernyawa di kediaman orang tuanya di Kupang.
Menanggapi tragedi ini, Tri Maharani menilai kasus dr. Icha hanyalah fenomena gunung es dari perundungan dan intimidasi yang sering dialami tenaga kesehatan di Indonesia. Ia mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan aturan turunan dari UU Kesehatan yang secara spesifik mengatur sanksi bagi pelaku intimidasi nakes.
“Harus ada sebuah peraturan perundang-undangan yang jelas tentang perlindungan nakes. Saya enggak mau lagi ada kasus dokter Icha lain,” tegas Tri Maharani.
Ia menambahkan bahwa profesi dokter adalah panggilan hidup yang seharusnya dijalankan dengan rasa aman tanpa intervensi pihak luar yang tidak memahami ilmu medis.
Saat ini, kepolisian dan Kementerian Kesehatan telah membuka investigasi mendalam untuk menelusuri benang merah antara tindakan intimidasi yang dilakukan oknum DPRD tersebut dengan keputusan dr. Icha untuk mengakhiri hidupnya.







![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



