YOGYAKARTA, POPULI.ID – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan peluang besar bagi mahasiswa untuk terlibat dalam peningkatan ekspor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia.
Hal itu ia sampaikan saat mengisi kuliah umum di Auditorium FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (23/5/2025).
Dalam kuliah umum, Budi Santoso memperkenalkan sistem Business Matching atau ‘bisnis meja’, yang menjadi ujung tombak perluasan pasar UMKM ke mancanegara.
“Kami punya aset perdagangan, yaitu Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di 33 negara. Mereka menjadi ujung tombak promosi produk UMKM ke dunia,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem business matching yang diterapkan Kementerian Perdagangan memungkinkan UMKM mempresentasikan produknya langsung kepada perwakilan ITPC di luar negeri.
Proses itu diawali dengan seleksi UMKM oleh institusi lokal, termasuk kampus seperti UGM.
“UGM bisa ikut terlibat dengan menyeleksi UMKM dampingan yang siap ekspor. Setelah dikurasi, kami jadwalkan business matching dengan perwakilan kami di negara tujuan,” ujarnya.
Dalam skema tersebut, setelah tahap presentasi (ujing), perwakilan ITPC akan mencarikan pembeli (buyer) yang potensial.
Jika menemukan mitra, produk UMKM akan difasilitasi untuk pertemuan lanjutan hingga terjadi transaksi.
“Sejak Januari hingga April 2025, sudah ada 246 sesi business matching yang kami fasilitasi. Nilai transaksi sementara mencapai Rp50 miliar,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti potensi luar biasa dari sektor UMKM, yang menurut data Kementerian Perdagangan mencapai 57,1 juta unit usaha.
Sebanyak 36,1 juta sudah teridentifikasi aktif melakukan perdagangan.
Sisanya, sekitar 21 juta, dinilai memiliki potensi ekspor besar jika mendapat pembinaan.
“90 persen dari mereka berpotensi besar masuk pasar ekspor. Tantangannya hanya kesiapan kurasi dan akses pasar. Di sinilah peran mahasiswa dibutuhkan, bukan hanya sebagai pelaku, tapi juga pendamping,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ia mengajak mahasiswa untuk ikut dalam rantai nilai ekspor, meskipun belum memiliki usaha sendiri.
Peran mereka dapat berupa riset pasar, promosi digital, hingga menjadi mentor bisnis.
“Adik-adik mahasiswa jangan berpikir harus produksi barang sendiri. Bisa jadi pembina, periset, atau pendamping UMKM. Dunia ekspor itu luas perannya,” imbuhnya.
Dengan pendekatan pragmatis, Ia menegaskan bahwa gerakan ekspor tidak harus selalu berawal dari industri besar.
Menurutnya, peluang justru besar di sektor mikro, asalkan ada dukungan, pembinaan, dan kerja sama yang sinergis antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha.