BANTUL, POPULI.ID – Manggis, salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, membutuhkan standar kualitas tinggi agar bisa menembus pasar global.
Namun hingga kini, proses pemilahannya masih minim dukungan teknologi otomatisasi. Akibatnya, ketidakteraturan dalam pemilahan sering menurunkan kualitas ekspor.
Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menciptakan alat pemilah buah otomatis berbasis lengan pneumatik yang bekerja cepat, akurat, dan terkomputerisasi.
Tim ini terdiri dari Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D. (Prodi Teknik Informatika), Ir. Tony Khristanto Hariadi, M.T., IPM (Prodi Profesi Insinyur), Ir. Indira Prabasari, M.P., Ph.D. (Prodi Agroteknologi), Ir. Nafi Ananda Utama, M.S. (Prodi Agroteknologi), serta Hasan Zidni (alumni Prodi Teknik Elektro).
“Di pasar internasional, buah manggis harus memenuhi kriteria ketat, baik ukuran maupun tingkat kematangan. Hal itu mendorong kami menghadirkan solusi berbasis teknologi agar proses pemilahan lebih efisien dan akurat,” jelas Ir. Slamet Riyadi dikutip dari laman UMY, Senin (25/8/2025).
Alat ini bekerja dengan sistem conveyor belt yang mengantarkan manggis ke sebuah chamber.
Di dalamnya terdapat dua kamera yang memotret buah dari sisi atas dan samping untuk mengukur diameter serta mendeteksi tingkat kematangan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
“Setelah proses pengukuran di chamber, buah akan otomatis disortir menggunakan lengan pneumatik yang kami patenkan. Lengan ini mendorong buah sesuai kategorinya, besar, sedang, atau kecil,” tambah Slamet yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor UMY Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan.
Ir. Tony Khristanto Hariadi menambahkan, sistem ini bersifat fleksibel karena kriteria pemilahan dapat diprogram ulang melalui komputer.
Dengan begitu, teknologi ini dapat digunakan tidak hanya untuk manggis, tetapi juga jeruk, apel, atau komoditas ekspor lainnya.
“Chamber bisa diatur sesuai kebutuhan. Prinsip kerjanya sama, tinggal menyesuaikan kriteria buah yang akan dipilah,” jelasnya.
Dalam uji coba skala laboratorium, alat ini menunjukkan hasil menjanjikan dengan akurasi lebih dari 90 persen, khususnya pada pengukuran diameter buah.
Deteksi kematangan dilakukan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM), sementara ukuran diameter dihitung dengan teknologi pengolahan citra digital.
“Akurasinya cukup bagus, terutama untuk diameter sudah di atas 90 persen,” terang Tony.
Ke depan, tim berharap dapat melakukan uji coba lapangan untuk melihat performa alat secara lebih komprehensif, sekaligus membuka peluang produksi massal agar dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri buah dan sektor ekspor.