YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kondisi Jembatan Kewek di kawasan Kleringan, Danurejan, Kota Yogyakarta, dinyatakan berada dalam status kritis. Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta pun bersiap mengambil langkah pengamanan, termasuk melarang kendaraan berat seperti bus dan truk melintas di jembatan yang melintang di atas Sungai Code tersebut.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan pihaknya telah merencanakan perbaikan jangka panjang. Proses penyusunan Detail Engineering Design (DED) untuk perbaikan Jembatan Kewek sudah rampung. Tahap awal perbaikan akan dimulai pada 2026 dengan fokus memperkuat struktur bawah jembatan agar kerusakan tidak semakin parah.
“DED-nya sudah selesai. Tahun depan kami kuatkan bawahnya dulu supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Talud dan tanggul bawahnya akan kami kuatkan sambil bersih-bersih, karena di situ kan juga kotor,” kata Hasto, dilansir Senin (24/11/2025).
Ia menambahkan bahwa alat berat sudah dikerahkan ke lokasi untuk memulai pekerjaan awal. Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga berupaya mengajukan dukungan anggaran dari Pemerintah Daerah DIY maupun pemerintah pusat untuk melanjutkan pembangunan jembatan secara menyeluruh. Berdasarkan estimasi awal, kebutuhan anggaran perbaikan diperkirakan mencapai Rp12 miliar.
“Tahun depan kami juga sambil memohon anggaran dengan pemerintah provinsi maupun pusat supaya kami diberikan anggaran untuk membangun jembatan. Tapi DED-nya sudah. Saya perkirakan mungkin sekitar Rp12 miliar. Tidak terlalu banyak sebetulnya,” ujar Hasto.
Terkait rencana pembongkaran total jembatan, Hasto menegaskan bahwa kajian lebih lanjut masih diperlukan, terutama terkait kemungkinan unsur heritage pada struktur jembatan tersebut. Jika terdapat unsur cagar budaya, maka pembongkaran tidak dapat dilakukan sepenuhnya.
“Kalau ada yang sifatnya heritage kan tidak boleh dibongkar semua. Jadi akan saya pelajari,” tuturnya.
Hasto menyebut kondisi kritis Jembatan Kewek dipicu oleh faktor usia konstruksi yang sudah sangat tua.
“Jembatan Kewek itu usianya sudah lama sekali. Kekuatan strukturnya sekarang tinggal sekitar 10 sampai 20 persen, sehingga berisiko membahayakan,” ujarnya.
Ia menegaskan kondisi tersebut menjadi perhatian penting pemerintah, mengingat jembatan tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan Jalan Mangkubumi dengan kawasan Malioboro dan setiap hari dilalui kendaraan dalam jumlah besar.
Dengan pertimbangan itu, Pemkot Yogyakarta akan menerapkan pembatasan kendaraan besar, termasuk bus pariwisata, agar tidak melintasi Jembatan Kewek.
“Ke depan, bus tidak boleh masuk Malioboro lewat Jembatan Kewek karena jaraknya sangat dekat dan resikonya tinggi. Kalau bus atau truk tetap melintas, nanti rawan,” kata Hasto.
Sebelumnya Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menilai konstruksi jembatan kewek yang berusia lebih dari seabad itu sudah tidak lagi layak diperkuat dengan perbaikan minor, sehingga opsi pembangunan ulang menjadi kebutuhan mendesak.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, menjelaskan hasil asesmen teknis menunjukkan daya tahan struktur Jembatan Kewek telah menurun drastis. Kerusakan yang terjadi bukan lagi bersifat ringan, melainkan sudah menyentuh batas kritis.
“Usianya sudah lebih dari 100 tahun. Secara teknis kondisinya kritis, sehingga tidak memungkinkan kalau hanya direhab. Sebenarnya sudah tidak renovasi lagi, tapi dibangun ulang,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Seiring dengan kondisi tersebut, Pemkot Yogyakarta menyiapkan langkah pembatasan kendaraan besar, terutama bus dan truk, yang selama ini melintas di jalur penghubung antara Jalan Mangkubumi dan kawasan Malioboro tersebut. Langkah itu dinilai penting untuk mencegah beban berlebih yang bisa mempercepat kerusakan struktur.
Umi menyebut upaya yang selama ini dilakukan baru bersifat darurat, salah satunya pemasangan garis biku-biku sebagai tanda larangan parkir di atas jembatan. Tindakan ini dianggap perlu agar tidak ada kendaraan yang berhenti lama dan menambah beban statis pada struktur yang sudah melemah.
“Kalau kendaraan biasa masih aman. Tapi beban mati dari kendaraan berat yang berhenti itu sangat mengkhawatirkan,” jelasnya.
Saat ini, DPUPKP sedang menyelesaikan penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai tahap awal persiapan pembangunan. Namun, keputusan mengenai jadwal pelaksanaan dan sumber anggaran masih dibahas lebih lanjut.
“Kami sudah menyusun DED, tetapi untuk pelaksanaannya masih berproses. Kami sedang menentukan anggaran mana yang bisa digunakan dan tahun berapa bisa direalisasikan,” kata Umi.




![Pasar Kranggan. [populi.id/Gregorius Bramantyo]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/1767693177149-120x86.jpg)







