BANTUL, POPULI.ID – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan tetap berada di kisaran 5 persen, namun mulai menunjukkan gejala perlambatan. Peringatan tersebut sejalan dengan kajian Bright Institute yang menilai perekonomian nasional berisiko kehilangan daya dorong di tengah tekanan global dan keterbatasan ruang kebijakan domestik.
“Berdasarkan tren 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,1–5,4 persen. Angka ini relatif stabil, tetapi lebih rendah dibandingkan ekspektasi akseleratif yang sebelumnya ditopang oleh pemulihan pascapandemi dan ekspansi belanja negara,” ujar Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono dilansir dari laman UMY, Rabu (31/12/2025).
Menurut Susilo, faktor eksternal masih menjadi pemicu utama potensi perlambatan ekonomi pada 2026. Perlambatan ekonomi negara-negara maju, terutama di Eropa dan Tiongkok, diperkirakan akan menekan permintaan global dan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tekanan global terhadap Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan domestik. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi lebih dari 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, investasi produktif tumbuh relatif moderat, dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya berada di kisaran 4–5 persen.
“Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tumbuh di bawah 3 persen per tahun, sementara kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB stagnan di kisaran 18–19 persen. Tanpa reformasi struktural yang kuat, perlambatan siklikal ini berpotensi menahan pertumbuhan jangka menengah,” tegas Susilo.
Ia menambahkan, inflasi pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 2,5–3,5 persen, masih dalam target Bank Indonesia. Suku bunga acuan atau BI Rate juga diproyeksikan turun secara terbatas ke kisaran 4,25–4,75 persen. Sementara itu, defisit APBN diperkirakan tetap terkendali di sekitar 1,8–2,2 persen terhadap PDB.
“Pertanyaan kuncinya adalah apakah kombinasi kebijakan fiskal dan moneter ini benar-benar mampu mendorong kredit produktif dan investasi bernilai tambah tinggi. Jika perlambatan ekonomi berlanjut, sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti konstruksi dan properti akan terdampak lebih dulu, diikuti pekerja informal dan UMKM skala kecil,” jelasnya.












