• Tentang Kami
Friday, January 9, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Banyak Anak Papua Putus Sekolah, Ekonom UMY: Negara Lemah Bangun SDM

tingginya angka putus sekolah tidak dapat dilepaskan dari kemiskinan antargenerasi. Anak-anak dari keluarga miskin kerap terpaksa menghentikan pendidikan untuk membantu perekonomian rumah tangga

byredaksi
January 2, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi sekolah

Ilustrasi sekolah

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

BANTUL, POPULI.ID – Tingginya angka anak putus sekolah di Papua yang diperkirakan mencapai sekitar 700 ribu orang menjadi alarm serius bagi pembangunan sumber daya manusia (SDM) di wilayah timur Indonesia.

Persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan keterbatasan akses pendidikan, tetapi juga mencerminkan masalah struktural dalam penyediaan layanan dasar negara di daerah tertinggal yang masih dibayangi kemiskinan tinggi dan keterbatasan infrastruktur.

BERITA MENARIK LAINNYA

Pakar UMY: Venezuela Berisiko Kehilangan Legitimasi Usai Maduro Ditangkap

Pakar Politik UMY: Pilkada Dipilih DPRD Berisiko Melemahkan Demokrasi Lokal

Ekonom pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Romi Bhakti Hartarto, menilai besarnya angka putus sekolah di Papua menunjukkan lemahnya investasi negara dalam pembangunan modal manusia.

Padahal, pendidikan merupakan fondasi utama untuk memutus rantai kemiskinan dan ketimpangan dalam jangka panjang.

“Pendidikan sejatinya adalah investasi jangka panjang yang memberikan return berupa peningkatan produktivitas tenaga kerja, inovasi, dan kemampuan teknologi. Ketika akses pendidikan dasar saja tidak terpenuhi, potensi generasi muda untuk berkontribusi secara optimal dalam perekonomian nasional ikut tereduksi,” ujar Romi dilansir dari laman UMY, Jumat (2/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa Papua memiliki kerentanan berlapis. Tingkat kemiskinan di wilayah tersebut masih berada di kisaran 27 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Selain itu, struktur ekonomi Papua masih didominasi sektor primer seperti pertambangan dan pertanian yang relatif terbatas dalam menyerap tenaga kerja terdidik.

“Ketergantungan pada sektor primer membuat dampak putus sekolah menjadi semakin berat. Tanpa peningkatan kualitas SDM, masyarakat Papua akan terus terjebak di sektor informal berproduktivitas rendah. Kondisi ini memperlebar ketimpangan regional dan membuat Papua semakin tertinggal dibandingkan wilayah lain,” jelasnya.

Ketimpangan pendidikan di Papua juga terlihat dari berbagai indikator. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan rasio guru dan murid di Papua masih berada di bawah standar nasional.

Sementara itu, dokumen perencanaan Bappenas mencatat hanya sekitar 15 persen sekolah di Papua yang memiliki fasilitas dasar yang memadai.

Adapun data BPS menunjukkan angka partisipasi sekolah usia 16–18 tahun di Papua Tengah baru mencapai sekitar 47 persen, jauh di bawah rata-rata nasional.

Menurut Romi, tingginya angka putus sekolah tidak dapat dilepaskan dari kemiskinan antargenerasi. Anak-anak dari keluarga miskin kerap terpaksa menghentikan pendidikan untuk membantu perekonomian rumah tangga, sehingga sejak usia dini masuk ke pasar kerja informal dengan keterampilan terbatas.

“Putus sekolah bukan hanya akibat kemiskinan, tetapi juga penyebab kemiskinan itu sendiri. Anak-anak yang tidak menyelesaikan pendidikan cenderung masuk ke pasar kerja informal dengan upah rendah dan pekerjaan tidak stabil. Ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan struktural yang sulit diputus tanpa intervensi kebijakan yang serius,” tegasnya.

Ia menambahkan, persoalan pendidikan di Papua juga berkaitan erat dengan faktor non-akademik seperti keamanan, akses transportasi, dan kondisi kesehatan.

Tingginya prevalensi stunting di Papua yang masih berada di kisaran 35 persen turut memengaruhi kemampuan belajar anak dan meningkatkan risiko putus sekolah.

“Jika persoalan putus sekolah ini tidak ditangani dari akarnya, Papua akan semakin tertinggal, bukan hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga ekonomi dan kesejahteraan sosial. Ini menjadi pekerjaan besar negara untuk memastikan pembangunan benar-benar inklusif dan menjangkau wilayah paling tertinggal,” pungkas Romi.

Tags: EkonomPapuaPembangunanputus sekolahRomi Bhakti HartartoUMY

Related Posts

Ilustrasi Venezuela

Pakar UMY: Venezuela Berisiko Kehilangan Legitimasi Usai Maduro Ditangkap

January 7, 2026
Ilustrasi pilkada

Pakar Politik UMY: Pilkada Dipilih DPRD Berisiko Melemahkan Demokrasi Lokal

January 3, 2026
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia

Dipicu Tekanan Global, Ekonomi Indonesia Diperkirakan Alami Perlambatan pada 2026

December 31, 2025
Ilustrasi diabetes MODY

Mengenal Jenis Diabetes MODY yang Muncul di Usia Muda, Apa Itu?

December 19, 2025
Alat berat dikerahkan untuk percepatan perbaikan Jalan Nasional Padang-Bukittinggi, Senin (15/12). (Bidang Komunikasi Kebencanaan / Muhammad Andhika Rivaldi)

Muhammadiyah Desak Status Bencana Nasional untuk Wilayah Sumatra

December 19, 2025
Area Malioboro dilakukan uji coba sebagai kawasan pedestrian

Pakar Kebijakan Pariwisata Sebut Upaya Uji Coba Pedestrian di Malioboro Urung Komprehensif

December 12, 2025
Next Post
Ilustrasi ikon pariwisata Yogyakarta

Peneliti UGM Ungkap Musabab Kunjungan Wisata ke Jogja Saat Libur Nataru Membludak

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.