SLEMAN, POPULI.ID – Sejak usia sekolah dasar, Kamil Ramadhan telah terbiasa hidup jauh dari keluarga. Remaja asal Magelang itu tumbuh dengan pengalaman hidup yang keras, bahkan pernah merasakan menjadi pengemis di masa kecilnya.
Latar belakang tersebut membentuk cara pandangnya tentang kehidupan dan menumbuhkan keinginan kuat untuk memberi manfaat bagi orang lain, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Belakangan, siswa kelas 12 SMA Masa Depan, Kalasan Sleman, tersebut mendirikan komunitas of Hope, Inclusion, and Nutrition Equality (SHINE) Yogyakarta.
Ia merintis komunitas SHINE Yogyakarta berpijak dari kegelisahan melihat anak-anak cerebral palsy (CP) yang ditolak sekolah dan tidak mendapatkan pendampingan yang layak.
“Saya ingin diri saya dan orang lain bisa memberi kontribusi lebih dan peduli dengan lingkungan sekitar,” ujarnya saat ditemui di Masjid Kampus (Maskam) Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (31/12/2025).
SHINE Community bergerak dengan pendekatan sederhana namun konsisten. Sebanyak 30 relawan dari kalangan pelajar SMA dibagi ke dalam beberapa tim dan disebar ke berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Setiap pekan, para relawan mendatangi rumah anak-anak CP untuk memberikan stimulasi pendidikan, mulai dari literasi, numerasi, hingga keterampilan sosial dasar, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Disebutnya perlu ada empati untuk bisa menyentuh penyandang CP. Terlebih pekerjaan sosial tidak banyak diminati oleh generasi seusianya.
Ia mengajak teman-teman lintas angkatan untuk memahami kondisi para penyandang CP hingga bergabung menjadi volunteer dengan terjun secara langsung di lapangan.
“Mereka sebelumnya belum mengerti empati apa itu apa, inklusi itu apa. Karena diajak menjadi volunteer, mereka mau dan mereka terbiasa berempati. Dengan terbiasa, empati mereka bisa tumbuh dan Insya Allah akan mereka memiliki jangkauan yang luas,” katanya.
Sebelum ke lapangan, ia dan rekan-rekanya dimodali dengan berbagai skill untuk memberikan tindakan kepada anak CP.
“Kami berkumpul dengan para psikolog dari sekolah kami untuk bisa mengetahui keluhan anaknya seperti apa, serta mengasuh dan mendidiknya,” katanya.
Ia menyampaikan hampir 90 persen anak-anak yang mereka ampu berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi.
“Dulu mungkin kehidupannya lumayan, berasal kelas menengah ke bawah, setelah ibunya stres melonjak. Karena anak anak yang kami pegang itu cerebral palsy bari diketahui 2 sampai 3 tahun,” katanya.
“Misal kasusnya, ibunya latar belakang pendidikan rendah, terus kondisinya down karena karena ketiga anaknya cerebral palsy 2, 1 lagi autis,” ujarnya.
Pihaknya tak jarang menemukan kondisi anak cerebral palsy yang tinggal dengan kondisi tidak layak. Hal itu sering ditemukan terutama di kondisi yang padat penduduk.
“Seperti anak Ibu Fathanah, anaknya beliau itu yang saya pegang itu tinggal di dekat jembatan Malioboro, jalan ke rumahnya turun ke bawah, rumahnya sangat kecil ukuranya hanya 3×4, anaknya dibuat tempat khusus mirip seperti kandang” katanya
Bagi sebagian orang tua, kehadiran SHINE menjadi titik balik. Banyak dari mereka sebelumnya telah kehilangan harapan karena kondisi anak dan tekanan ekonomi.
Pendampingan yang dilakukan secara rutin perlahan mengubah persepsi tersebut. Anak-anak mulai berani bersosialisasi, sementara orang tua kembali percaya bahwa anak mereka masih bisa berkembang.
Kamil mengakui perjuangan ini tidak ringan. Dana kegiatan diperoleh dari fundraising, proposal, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak.
Setiap akhir pekan, biaya transportasi dan kebutuhan edukasi bisa mencapai jutaan rupiah. Namun semua itu terbayar saat melihat dampak nyata di lapangan.
“Melihat senyum mereka setelah kami berusaha semaksimal mungkin itu yang membuat kami bertahan,” katanya.
Di bawah bimbingan Diana Setiawati, pendiri SMA Masa Depan, para relawan juga dibekali pelatihan empati dan pendampingan anak disabilitas.
Tujuannya bukan sekadar membantu, tetapi menumbuhkan kepekaan sosial di kalangan anak muda. Kamil percaya empati harus dilatih melalui pengalaman langsung.
Ke depan, ia bermimpi SHINE dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan melibatkan lebih banyak generasi muda.
“Setiap minggu kami hampir konsisten mengeluarkan biaya R1,5 juta – Rp2 juta. Kalau kami estimasi seluruh project dalam setahun bisa mencapai Rp 360 Juta,” katanya.
Dari langkah-langkah kecil yang konsisten, Kamil dan SHINE Community terus menyalakan harapan bagi keluarga anak cerebral palsy membuktikan bahwa kepedulian bisa tumbuh dari siapa saja, bahkan dari seorang pelajar SMA.
Dirinya menyebut jika SHINE Community terinspirasi dari komunitas lingkungan Pandawa Group yang dimotori anak muda.
“Jika Pandawa Group bergerak di bidang lingkungan, kami bergerak di lingkup sosial,” katanya.
Stigma dan Keterbatasan Fasilitas
Pendiri SMA Masa Depan, Diana Setiawati, menyoroti masih terbatasnya akses pendidikan bagi penyandang cerebral palsy di Indonesia.
Menurutnya, anak-anak dengan kondisi tersebut masih menghadapi stigma serta keterbatasan fasilitas di lingkungan pendidikan formal.
Diana menjelaskan bahwa cerebral palsy memiliki tingkat disabilitas yang sangat beragam. “Ada yang masih bisa berjalan, ada juga yang tidak mampu berdiri atau bergerak sama sekali. Kondisi ini tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.
Ia membandingkan dengan kondisi di luar negeri, di mana penyandang cerebral palsy difasilitasi dengan sistem mobilitas dan pendampingan yang memadai. Sementara itu, di Indonesia, fasilitas yang tersedia umumnya masih terbatas pada kursi roda generik.
Meski demikian, Diana menegaskan bahwa keterbatasan alat bukanlah persoalan utama selama sekolah tidak memberikan stigma dan mampu menyediakan pendidikan yang maksimal.
Menurut Diana, banyak sekolah reguler yang belum siap menerima siswa penyandang cerebral palsy. Penolakan kerap terjadi karena sekolah merasa tidak mampu menyediakan pendamping khusus.
Padahal, tidak semua anak dengan cerebral palsy memiliki disabilitas intelektual. “Sebagian hanya mengalami hambatan motorik. Dengan fasilitas yang tepat, mereka bisa berkembang, mandiri, dan berprestasi,” katanya.
Ia juga menyoroti masih banyaknya orang tua yang takut menyekolahkan anaknya ke sekolah inklusif karena khawatir ditolak.
Di sisi lain, Sekolah Luar Biasa (SLB) pun belum sepenuhnya menjadi solusi. Banyak SLB yang menampung siswa dengan tingkat disabilitas berat, sehingga fokus pendidikan lebih kepada perawatan dibandingkan pengembangan kemandirian.
“Kita harus memikirkan, anak-anak dengan disabilitas berat ini sekolah di mana, dan bagaimana masa depan mereka,” tutur Diana.
Diana menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Ia mendorong adanya kebijakan pendidikan inklusif yang lebih kuat, peningkatan fasilitas sekolah, serta penyediaan pendamping profesional agar penyandang disabilitas mendapatkan hak pendidikan yang setara.
“Anak-anak penyandang disabilitas punya potensi. Tugas negara adalah memastikan potensi itu tidak terhambat oleh sistem yang belum siap,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












