YOGYAKARTA, POPULI.ID – Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY menyebut arus kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tergolong tinggi. Keberadaan jalan tol disebut turut memperlancar mobilitas wisatawan keluar masuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketua GIPI DIY, Bobby Ardiyanto, mengatakan tingginya arus kunjungan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kekuatan nilai produk pariwisata DIY. Menurutnya, masih diperlukan daya tarik yang lebih kuat agar wisatawan terdorong untuk tinggal lebih lama dan menyebar ke lima kabupaten/kota.
Ia menyebut, sebagian besar wisatawan masih memilih menginap di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Kondisi ini berpengaruh pada tingkat hunian hotel yang belum mencapai kapasitas maksimal.
“Okupansi hotel masih berada di kisaran 70 hingga 80 persen, masih belum penuh,” ujarnya, Senin (5/1/2026).
Bobby menilai salah satu penyebabnya adalah keberadaan akomodasi ilegal seperti vila dan homestay yang tidak tercatat dalam sistem perizinan, sehingga tidak terdeteksi secara resmi.
Meski demikian, ia mengakui secara volume kunjungan, traffic wisatawan pada Nataru tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Secara traffic memang lebih ramai dibanding tahun lalu, tapi secara ekonomi kami masih menunggu data resmi,” katanya.
Ia menilai lonjakan kunjungan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Seperti masa libur yang relatif panjang, kondisi ekonomi yang mulai membaik, kemudahan akses tol, serta hadirnya destinasi wisata baru yang cukup diminati. Selain itu, biaya berwisata di Yogyakarta dinilai masih relatif terjangkau.
Bobby menyebut belanja wisatawan untuk destinasi wisata, kuliner, makanan dan minuman, hingga sektor UMKM sudah sesuai ekspektasi. Namun, kontribusi dari sektor akomodasi dan transportasi lokal dinilai belum optimal.
Untuk memaksimalkan potensi pariwisata, ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas produk dan layanan agar memiliki daya tarik yang kuat dan berkelanjutan.
“Pariwisata DIY harus mampu menawarkan pengalaman berbasis experience dan mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama di Jogja,” ucapnya.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, jumlah kunjungan wisatawan selama periode Nataru justru mengalami penurunan dibandingkan target awal. Dari proyeksi 7 juta wisatawan dari total 9 juta pergerakan nasional, realisasi di lapangan tercatat jauh lebih rendah.
Selama masa puncak liburan, yakni 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, jumlah kunjungan wisatawan ke DIY berdasarkan retribusi sementara mencapai 1.035.000 orang.
Kepala Dispar DIY, Imam Pratanadi, menyebut capaian itu menjadi perhatian karena adanya selisih signifikan antara target dan realisasi.
“Capaian ini tentu menjadi sorotan karena perbedaan yang cukup besar antara ekspektasi dan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Meski secara total belum memenuhi target, sejumlah destinasi unggulan tetap ramai dikunjungi. Kawasan pesisir selatan DIY masih menjadi magnet utama wisatawan.
Data rekapitulasi menunjukkan wilayah Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul mendominasi kunjungan. Pantai Baron dan Watu Lumbung tercatat sebagai destinasi terpadat dengan 178.274 wisatawan. Disusul kawasan Pantai Parangtritis dan Pantai Depok dengan 106.270 pengunjung.
Sementara itu, destinasi buatan seperti Gembira Loka Zoo juga tetap diminati dengan jumlah kunjungan mencapai 97.729 orang.
Menanggapi kondisi tersebut, Imam menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi dan kajian lebih mendalam sebagai bahan perbaikan ke depan.
“Hasil ini akan menjadi evaluasi bagi para pemangku kebijakan pariwisata di DIY dalam merumuskan strategi liburan berikutnya,” tuturnya.

![Pasar Kranggan. [populi.id/Gregorius Bramantyo]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/1767693177149-120x86.jpg)










