YOGYAKARTA, POPULI.ID – Di ruangan rumahnya yang seukuran 3×5 meter, tampak sejumlah rak kayu berisi tumpukan buku.
Menelusuri gang di kawasan Cokrokusuman, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Sutopo (73) menyulap tempat tinggalnya serupa perpustakaan.
Hari itu, pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan TNI Angkatan Darat (AD) tampak mengepak sejumlah buku yang dipindahkan ke becak miliknya.
Tak hanya sekadar untuk menarik penumpang, becak milik Sutopo juga berfungsi sebagai perpustakaan keliling.
Sebelum pensiun dan menarik becak, Sutopo pernah berdinas di Koramil Jetis.
Kariernya dimulai sejak 1977 sebagai tenaga honorer hingga akhirnya pensiun pada 2003. Setahun kemudian, ia memilih jalan hidup yang mungkin tak terpikirkan banyak orang seusianya: menarik becak.
“Pensiun 2003, 2004 saya mbecak sampai sekarang,” katanya lirih, Minggu (4/1/2025).
Dari Seni Rupa ke Ruang Rahasia Kodim
Jauh sebelum bersentuhan dengan dunia militer, Sutopo adalah mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) jurusan reklame dan propaganda pada 1969–1971.
Namun keterbatasan biaya memaksanya berhenti di tengah jalan. Ia lalu membuka usaha sendiri membuat spanduk dan papan nama.
Keahliannya menggambar mengantarnya ke Koramil Jetis. Saat itu ia ditugaskan sebagai tenaga pembuat gambar dan peta.
Sutopo pun dipanggil, awalnya hanya sebagai honorer. Hampir sepuluh tahun ia mengabdi tanpa status tetap, hingga akhirnya diangkat menjadi PNS.
Di Koramil Jetis, Sutopo mengelola ruang data dan ruang rahasia. Ia membuat peta personel, spanduk kegiatan, hingga materi ceramah komandan. Semua dikerjakan manual, tanpa komputer, tanpa mesin cetak.
“Plastik, cat, tangan. Semua saya kerjakan sendiri,” kenangnya.
Pensiun, Becak, dan Pilihan Hidup Sederhana
Meski memiliki rumah di Bumijo, Sutopo memilih tinggal di rumah mertuanya. Istrinya telah meninggal tiga tahun lalu. Ia menghindari konflik warisan.
“Kalau ada persengketaan, sudah up to you,” ujarnya singkat.
Becak menjadi penopang hidupnya kini. Sejak pagi ia mangkal di Jalan Tentara Pelajar, depan Bank BPD, melayani emak-emak ke pasar dan Malioboro.
![Kisah Sutopo, pensiunan PNS TNI AD yang kini jadi pegiat literasi. [populi.id/Hadid Pangestu]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/Desain-tanpa-judul-1-200x300.png)
“Orang Jawa bilang, ojo ngoyo,” katanya. Ia sadar usia, ditopang uang pensiun dan dukungan anak-anaknya.
Becak Literasi: Buku di Tengah Jalanan
Yang membuat Sutopo berbeda dari pengayuh becak lainnya, adalah rak buku yang terpasang di kendaraannya itu. Kecintaannya pada membaca tumbuh sejak SD. Ia pernah menjadi anggota Jefferson Library, Perpustakaan Amerika di Yogyakarta.
Saat mulai menarik becak pada 2004, ia hanya membawa sebanyak 10 buku. Kini jumlahnya puluhan, yang merupakan hasil sumbangan dari berbagai pihak.
“Kalau cuma saya bawa sendiri, egois. Maka saya buat rak di becak,” ujarnya.
Buku-buku itu gratis. Siapa pun boleh membaca atau meminjam: pedagang pasar, sesama tukang becak, mahasiswa, hingga ibu-ibu. Ada buku agama, masakan, sastra, hingga majalah lama.
Ia melihat langsung bagaimana bacaan mendekatkan buku pada orang-orang yang tak sempat menginjak perpustakaan megah.
“Pedagang kaki lima itu mana mungkin ninggal kerja ke perpustakaan,” katanya.
Meski kadang buku tak kembali terutama dari mahasiswa, Sutopo tak pernah kapok. Ada juga kisah haru, dimana seorang ibu mengembalikan buku dengan menyelipkan uang Rp100 ribu, bahkan pernah Rp1 juta sebagai tanda terima kasih.
Melawan Arus Gawai
Di tengah banjir gawai, Sutopo resah. Ia melihat anak-anak dan remaja lebih banyak menunduk menatap layar. “HP itu ada yang baik, ada yang jelek. Kalau belum dewasa, bahaya,” ujarnya.
Becaknya ia jadikan perlawanan sunyi. Buku-buku itu menjadi alternatif bacaan di ruang publik, di sela-sela aktivitas harian masyarakat.
Becak Listrik dan Semangat yang Menyala
Kini Sutopo menggunakan becak listrik, bantuan dari berbagai pihak, termasuk dana keistimewaan dan komunitas. Awalnya ia kesulitan memahami sistem listrik, sempat mengalami konsleting. Namun dengan belajar ke bengkel UGM, ia kini paham perawatan dan pengisian daya.
“Kalau lampu hijau mati sendiri, itu tandanya penuh,” katanya sambil tersenyum lega.
Meski usia tidak muda, fisiknya tetap dijaga. Setiap pagi ia berjalan di trotoar, push-up, jogging, bahkan berjemur memandang matahari pagi. Semua dilakukan disiplin.
Mengayuh Makna di Usia Senja
Sutopo telah mengayuh becak ke berbagai penjuru Yogyakarta, bahkan hingga Prambanan, Godean, dan Kretek. Ia menyimpan banyak kisah tentang penumpang, solidaritas, dan kejujuran di jalanan.
Di usia 73 tahun, ia tak mengejar harta. Ia mengayuh makna. Dari meja data Kodim hingga becak penuh buku, hidup Sutopo adalah cerita tentang pengabdian yang tak pernah benar-benar pensiun.
“Selama masih bisa memberi manfaat, saya jalan terus,” katanya. (populi.id/Hadid Pangestu)

![Pasar Kranggan. [populi.id/Gregorius Bramantyo]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/1767693177149-120x86.jpg)










