• Tentang Kami
Selasa, September 1, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Kisah Sutopo, Pensiunan PNS TNI AD yang Kini Mengayuh Becak Literasi

Sutopo yang merupakan pensiunan PNS Koramil Jetis menyulap becak yang kini jadi penopang hidupnya menjadi perpustakaan keliling

byredaksi
Januari 5, 2026
in headline, Kota Yogyakarta
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Kisah Sutopo, pensiunan PNS TNI AD yang kini jadi pegiat literasi

Kisah Sutopo, pensiunan PNS TNI AD yang kini jadi pegiat literasi. [populi.id/Hadid Pangestu]

0
SHARES
29
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Di ruangan rumahnya yang seukuran 3×5 meter, tampak sejumlah rak kayu berisi tumpukan buku.

Menelusuri gang di kawasan Cokrokusuman, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Sutopo (73) menyulap tempat tinggalnya serupa perpustakaan.

BERITA MENARIK LAINNYA

Gubernur DIY Sri Sultan HB X Lantik Sembilan Pejabat Eselon II di Lingkungan Pemda DIY

Pakuwon Mall Bantah Pemasangan Pagar Terkait Isu Antisipasi Kerusuhan

Hari itu, pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan TNI Angkatan Darat (AD) tampak mengepak sejumlah buku yang dipindahkan ke becak miliknya.

Tak hanya sekadar untuk menarik penumpang, becak milik Sutopo juga berfungsi sebagai perpustakaan keliling.

Sebelum pensiun dan menarik becak, Sutopo pernah berdinas di Koramil Jetis.

Kariernya dimulai sejak 1977 sebagai tenaga honorer hingga akhirnya pensiun pada 2003. Setahun kemudian, ia memilih jalan hidup yang mungkin tak terpikirkan banyak orang seusianya: menarik becak.

“Pensiun 2003, 2004 saya mbecak sampai sekarang,” katanya lirih, Minggu (4/1/2025).

Dari Seni Rupa ke Ruang Rahasia Kodim

Jauh sebelum bersentuhan dengan dunia militer, Sutopo adalah mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) jurusan reklame dan propaganda pada 1969–1971.

Namun keterbatasan biaya memaksanya berhenti di tengah jalan. Ia lalu membuka usaha sendiri membuat spanduk dan papan nama.

Keahliannya menggambar mengantarnya ke Koramil Jetis. Saat itu ia ditugaskan sebagai tenaga pembuat gambar dan peta.

Sutopo pun dipanggil, awalnya hanya sebagai honorer. Hampir sepuluh tahun ia mengabdi tanpa status tetap, hingga akhirnya diangkat menjadi PNS.

Di Koramil Jetis, Sutopo mengelola ruang data dan ruang rahasia. Ia membuat peta personel, spanduk kegiatan, hingga materi ceramah komandan. Semua dikerjakan manual, tanpa komputer, tanpa mesin cetak.

“Plastik, cat, tangan. Semua saya kerjakan sendiri,” kenangnya.

Pensiun, Becak, dan Pilihan Hidup Sederhana

Meski memiliki rumah di Bumijo, Sutopo memilih tinggal di rumah mertuanya. Istrinya telah meninggal tiga tahun lalu. Ia menghindari konflik warisan.

“Kalau ada persengketaan, sudah up to you,” ujarnya singkat.

Becak menjadi penopang hidupnya kini. Sejak pagi ia mangkal di Jalan Tentara Pelajar, depan Bank BPD, melayani emak-emak ke pasar dan Malioboro.

Kisah Sutopo, pensiunan PNS TNI AD yang kini jadi pegiat literasi. [populi.id/Hadid Pangestu]
Kisah Sutopo, pensiunan PNS TNI AD yang kini jadi pegiat literasi. [populi.id/Hadid Pangestu]
Menjelang siang, ia berpindah ke kawasan Sospol UGM Terban, mengantar langganan tetap, termasuk penjual bubur ayam. Rutinitasnya tersebut diakhiri setelah tengah hari.

“Orang Jawa bilang, ojo ngoyo,” katanya. Ia sadar usia, ditopang uang pensiun dan dukungan anak-anaknya.

Becak Literasi: Buku di Tengah Jalanan

Yang membuat Sutopo berbeda dari pengayuh becak lainnya, adalah rak buku yang terpasang di kendaraannya itu. Kecintaannya pada membaca tumbuh sejak SD. Ia pernah menjadi anggota Jefferson Library, Perpustakaan Amerika di Yogyakarta.

Saat mulai menarik becak pada 2004, ia hanya membawa sebanyak 10 buku. Kini jumlahnya puluhan, yang merupakan hasil sumbangan dari berbagai pihak.

“Kalau cuma saya bawa sendiri, egois. Maka saya buat rak di becak,” ujarnya.

Buku-buku itu gratis. Siapa pun boleh membaca atau meminjam: pedagang pasar, sesama tukang becak, mahasiswa, hingga ibu-ibu. Ada buku agama, masakan, sastra, hingga majalah lama.

Ia melihat langsung bagaimana bacaan mendekatkan buku pada orang-orang yang tak sempat menginjak perpustakaan megah.

“Pedagang kaki lima itu mana mungkin ninggal kerja ke perpustakaan,” katanya.

Meski kadang buku tak kembali terutama dari mahasiswa, Sutopo tak pernah kapok. Ada juga kisah haru, dimana seorang ibu mengembalikan buku dengan menyelipkan uang Rp100 ribu, bahkan pernah Rp1 juta sebagai tanda terima kasih.

Melawan Arus Gawai

Di tengah banjir gawai, Sutopo resah. Ia melihat anak-anak dan remaja lebih banyak menunduk menatap layar. “HP itu ada yang baik, ada yang jelek. Kalau belum dewasa, bahaya,” ujarnya.

Becaknya ia jadikan perlawanan sunyi. Buku-buku itu menjadi alternatif bacaan di ruang publik, di sela-sela aktivitas harian masyarakat.

Becak Listrik dan Semangat yang Menyala

Kini Sutopo menggunakan becak listrik, bantuan dari berbagai pihak, termasuk dana keistimewaan dan komunitas. Awalnya ia kesulitan memahami sistem listrik, sempat mengalami konsleting. Namun dengan belajar ke bengkel UGM, ia kini paham perawatan dan pengisian daya.

“Kalau lampu hijau mati sendiri, itu tandanya penuh,” katanya sambil tersenyum lega.

Meski usia tidak muda, fisiknya tetap dijaga. Setiap pagi ia berjalan di trotoar, push-up, jogging, bahkan berjemur memandang matahari pagi. Semua dilakukan disiplin.

Mengayuh Makna di Usia Senja

Sutopo telah mengayuh becak ke berbagai penjuru Yogyakarta, bahkan hingga Prambanan, Godean, dan Kretek. Ia menyimpan banyak kisah tentang penumpang, solidaritas, dan kejujuran di jalanan.

Di usia 73 tahun, ia tak mengejar harta. Ia mengayuh makna. Dari meja data Kodim hingga becak penuh buku, hidup Sutopo adalah cerita tentang pengabdian yang tak pernah benar-benar pensiun.

“Selama masih bisa memberi manfaat, saya jalan terus,” katanya. (populi.id/Hadid Pangestu)

Tags: Koramil Jetispegiat literasipensiunanperpustakaan kelilingSutopoTNI ADYogyakarta

Related Posts

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, melantik sembilan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Bangsal Kepatihan, kompleks Kantor Gubernur DIY, pada Rabu (5/8/2026).

Gubernur DIY Sri Sultan HB X Lantik Sembilan Pejabat Eselon II di Lingkungan Pemda DIY

Agustus 5, 2026
Sejumlah titik sekitar Pakuwon Mall dilakukan pemasangan pagar, Senin (3/7/2026).

Pakuwon Mall Bantah Pemasangan Pagar Terkait Isu Antisipasi Kerusuhan

Agustus 5, 2026
Pengolahan sampah perolisis memanfaatkan minyak jelantah di Bank Sampah Berlian, Tompeyan, Kota Yogyakarta, Minggu (26/7/2026).

Bank Sampah Berlian Kembangkan Inovasi Ubah Sampah Residu dan Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar

Juli 27, 2026
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo.

Proyek PSEL DIY Masih Matangkan Persiapan, Pembangunan Ditargetkan Dimulai Akhir 2026

Juli 27, 2026
Wamen UMKM, Helvi Moraza, saat menghadiri perjanjian kerja sama Kementerian UMKM dan Aprindo untuk menghapus biaya listing fee produk usaha mikro masuk ke ritel modern, di Teras Malioboro 1 Kota Yogyakarta, Jumat (17/7/2026) malam.

Dobrak Akses Pasar, Kementerian UMKM Bebaskan Listing Fee Ritel Modern untuk Usaha Mikro

Juli 19, 2026
Sejumlah penumpang mengantre di gate tiket setelah menggunakan layanan KAI Bandara YIA PSO, belum lama ini.

Tren Meningkat, KAI Bandara YIA PSO Layani 865.187 Penumpang Selama Januari-Juni 2026

Juli 19, 2026
Next Post
Direktur RSJ Grhasia, dr Akhmad Akhadi, saat memberikan keterangan kepada awak media, Senin (5/1/2026).

Puluhan Mahasiswa UNISA Keracunan Pangan saat Kegiatan Studi di RSJ Grhasia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

Februari 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

Juni 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

Juni 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

Juni 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

Mei 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.