BANTUL, POPULI.ID – Gempa bumi yang mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, dan dirasakan hingga Kabupaten Bantul serta wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa (27/1/2026), dipicu oleh aktivitas patahan aktif di kawasan selatan Pulau Jawa.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa utama di Pacitan tercatat berkekuatan magnitudo 5,7, sementara gempa dangkal yang berpusat di wilayah Bantul berkekuatan magnitudo 4,5.
Direktur Pusat Penelitian Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, menjelaskan bahwa berdasarkan lokasi episentrum, gempa berkaitan dengan aktivitas sesar.
“Kalau dari sisi lokasinya, episentrumnya menunjukkan bahwa gempa dipicu oleh patahan karena memang berada di zona Sesar Opak. Sesar ini tidak hanya lokal, tapi regional, dari Bantul sampai ke Klaten,” kata Eko.
Ia menjelaskan, gempa yang tergolong dangkal akan menimbulkan guncangan yang lebih kuat di permukaan.
“Gempa dangkal itu akan terasa kuat karena energinya sampai ke permukaan. Gelombang gempa masih bisa terasa, dan sebaran dampaknya ke masing-masing tempat akan berbeda tergantung litologi dan struktur tanah. Akan ada efek getaran atau amplifikasi,” jelasnya.
Menurut Eko, gempa juga berpotensi memicu bencana turunan, seperti longsor dan likuifaksi, terutama di wilayah dengan kondisi tanah tertentu.
“Kalau bicara gempa, sekarang bisa dicek potensi turunannya. Generasi pertama dari daya getaran bisa memicu longsoran, dan juga bisa memicu amplifikasi,” ujarnya.
Khusus untuk wilayah Bantul, Eko mengingatkan adanya kecenderungan likuifaksi, terutama di daerah dengan muka air tanah dangkal.
“Kami ketahui di Bantul ada kecenderungan likuifaksi ketika air dangkal dan ada getaran yang cukup. Pemetaan kerawanan likuifaksi tinggi, sedang, dan rendah sepertinya juga belum ada kegiatan lanjutan secara menyeluruh,” katanya.
Sementara itu, pengamat pariwisata Universitas Sanata Dharma, Ike Janita Dewi, menilai rangkaian gempa yang terjadi di Pacitan dan Bantul belum berdampak signifikan terhadap aktivitas pariwisata di Bantul dan Gunungkidul.
“Secara umum, bencana alam seperti gempa dan gunung meletus, serta bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem, merupakan ancaman terhadap pariwisata. Orang akan cenderung menunda bahkan membatalkan perjalanan,” ujar Ike.
Meski demikian, ia menilai gempa yang terjadi pada Selasa (27/1/2026) belum secara langsung memengaruhi kunjungan wisata.
“Gempa yang terjadi kemarin saya kira belum akan berdampak pada perjalanan wisata ke Bantul maupun Gunungkidul. Akan tetapi, ini menjadi wake-up call bagi pemerintah dan industri untuk membangun sistem informasi kebencanaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, banyak destinasi wisata berada di wilayah rawan bencana, sehingga pengelola perlu dibekali kesiapsiagaan.
“Merespon gempa kemarin, semua pengelola daya tarik wisata harus diberi informasi dan diarahkan untuk selalu siap siaga dalam mitigasi dampak bencana,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












