JAKARTA, POPULI.ID – Dunia sepak bola Indonesia diguncang oleh kabar sanksi masif yang dijatuhkan Komisi Disiplin FIFA kepada Sumardji.
Sosok yang dikenal sebagai tokoh sentral dalam manajemen Timnas Indonesia ini harus menerima kenyataan pahit berupa larangan mendampingi skuad Garuda dalam 20 pertandingan resmi serta denda finansial mencapai Rp 324 juta.
Keputusan ini menjadi salah satu sanksi terberat yang pernah diterima oleh ofisial Timnas Indonesia.
Perwira Polisi di Jantung Sepak Bola Nasional
Di balik perannya yang penuh tensi di pinggir lapangan, Sumardji adalah seorang anggota polisi aktif yang telah lama berkecimpung di sepak bola tanah air.
Karier manajerialnya di dunia si kulit bundar menanjak signifikan sejak tahun 2016 saat ia dipercaya mengelola Bhayangkara FC, klub yang berada di bawah naungan Polri.
Kiprahnya di level nasional sangat luas, di mana ia memegang posisi kunci sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN).
Sebagai manajer, ia telah mengawal Timnas dari berbagai kelompok umur dan sukses mempersembahkan gelar juara Piala AFF U-22 2019 serta medali emas SEA Games 2023 di Kamboja.
Meskipun memiliki latar belakang kedisiplinan sebagai seorang anggota Polri, gairah dan sikap reaktif Sumardji di pinggir lapangan justru sering kali berujung pada sanksi-sanksi yang cukup mencolok dalam sejarah karier manajerialnya.
Insiden Jeddah: Puncak Ketegangan dengan Wasit
Hukuman terberat yang diterima Sumardji berakar dari insiden dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Irak di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, pada 11 Oktober 2025.
Dalam laporan FIFA, Sumardji dinilai melakukan tindakan agresif terhadap pengadil lapangan asal Tiongkok, Ma Ning.
Ia dilaporkan mendorong sang wasit hingga terjatuh di tengah tensi tinggi pertandingan yang berakhir dengan kekalahan tipis Indonesia 0-1 tersebut.
Sidang Komite Disiplin FIFA pada November 2025 akhirnya memutuskan bahwa tindakan tersebut melanggar kode disiplin terkait kekerasan di lapangan.
Filosofi ‘Orang Tua’ dan Pelindung Pemain
Menanggapi hukuman tersebut, Sumardji mengaku sangat terkejut namun memilih untuk tidak membantah kesalahannya.
Ia berdalih bahwa tindakannya bersifat spontan demi membentengi para pemain dari potensi kartu merah yang bisa merugikan tim.
Sumardji memposisikan dirinya sebagai sosok “orang tua” yang memiliki kewajiban moral untuk mengayomi dan melindungi “anak-anak asuhnya” di saat genting.
Meskipun harus menjauh dari bangku cadangan, ia menegaskan akan tetap memberikan kontribusi dan dukungan bagi perjuangan tim dari luar area teknis.
Pola Berulang: Dari Bahrain hingga Kamboja
Insiden di Arab Saudi bukanlah pertama kalinya Sumardji terlibat dalam drama kartu merah. Pada Oktober 2024 saat melawan Bahrain, ia diusir wasit Ahmed Al Kaf karena melakukan protes keras.
Sumardji sengaja mengambil sikap tersebut agar pemain atau pelatih tidak menjadi sasaran kartu merah.
Pada Mei 2023 dalam final SEA Games di Kamboja, Sumardji justru menjadi korban pengeroyokan oleh ofisial Thailand saat mencoba melerai keributan. Meski mengalami luka fisik, ia menolak diobati demi terus mendampingi tim hingga meraih kemenangan dramatis 5-2.
Era Baru dan Pengunduran Diri
Seiring dengan berakhirnya SEA Games 2025, Sumardji memutuskan untuk mundur dari jabatan manajer Timnas Indonesia pada 16 Desember 2025. Langkah ini diambil agar ia bisa lebih fokus menjalankan tugas utamanya sebagai Ketua BTN.
Meski kini dibayangi sanksi 20 pertandingan, dedikasi pria yang pernah mendampingi Bhayangkara FC juara liga ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah transformasi sepak bola nasional.












