YOGYAKARTA, POPULI.ID – Dunia seni tradisi Yogyakarta berduka dengan kabar berpulangnya salah satu seniman ketoprak legendaris, Sumisih Yuningsih, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Yu Beruk. Tokoh yang identik dengan peran dagelan ini tutup usia pada Sabtu (14/2/2026) sekitar pukul 08.00 WIB di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Kepergian Yu Beruk menjadi kehilangan besar bagi masyarakat pecinta seni tradisional Jawa, khususnya ketoprak dan lawak Mataram. Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka yang juga merupakan pusat aktivitas keseniannya, Sanggar Busana Nawangsih di Mantrijeron, Yogyakarta. Kemudian dimakamkan pada sore hari di Makam Dongkelan.
Profil dan Awal Mula Kiprah di Dunia Seni
Perempuan kelahiran Bantul, 5 Januari 1950 ini tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kental dengan kesenian tradisional. Yu Beruk mengikuti jejak ayahnya yang juga merupakan seorang pemain ketoprak. Sejak usia belia, ia sudah akrab dengan panggung pertunjukan. Ia tercatat mulai bermain ketoprak pada usia 14 tahun dan mulai belajar melawak sejak umur 16 tahun.
Awalnya, Yu Beruk sempat merasa jenuh bermain ketoprak yang terpaku pada pakem, sehingga ia mulai melatih kemampuan melawaknya agar bisa lebih fleksibel dalam mengikuti watak tokoh yang diperankan. Dedikasinya yang tanpa surut dari masa remaja hingga usia senja mengantarkannya menjadi salah satu maestro ketoprak di Yogyakarta.
Jejak Karier di RRI dan TVRI Yogyakarta
Perjalanan karier Yu Beruk semakin matang ketika ia bergabung dengan RRI Yogyakarta sekitar tahun 1983, di mana ia juga berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di radio tersebut, ia mengasuh berbagai program seni seperti ketoprak perdesaan, dagelan Mataram, hingga uyon-uyon.
Namanya semakin melambung luas di layar kaca melalui program “Obrolan Angkringan” di TVRI Yogyakarta. Dalam program tersebut, ia sering memerankan karakter antagonis dengan sentuhan komedi yang tajam, spontan, dan penuh kritik sosial. Penampilannya yang natural sering kali dianggap sebagai representasi suara wong cilik.
Konsistensi dan Pengakuan Nasional
Selain di media penyiaran, Yu Beruk aktif mengisi panggung ketoprak, pentas wayang kulit (khususnya sesi limbukan), hingga pertunjukan berskala nasional seperti Indonesia Kita yang dipimpin oleh Butet Kartaredjasa dan Agus Noor.
Atas dedikasi panjangnya, Yu Beruk menerima berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:
- Anugerah Kebudayaan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada tahun 2019.
- Penghargaan Dedikasi Seni Tradisi dan Bentara Budaya dari Lembaga Kebudayaan Kompas Gramedia Bentara Budaya pada tahun 2023.
Prinsip Hidup: Menjadi Seniman yang Berbudaya
Hingga akhir hayatnya, Yu Beruk memegang teguh prinsip bahwa menjadi seniman tidak hanya soal bakat, tetapi juga harus “berbudaya”. Ia menekankan bahwa seorang pelawak harus peka terhadap situasi sekitar, rendah hati (semeleh), dan mau bekerja sama dengan lawan main.
Salah satu pesan mendalam yang pernah ia sampaikan adalah agar generasi penerus tidak “sembrono” dalam bekerja dan benar-benar menggeluti budaya sendiri dengan sungguh-sungguh.
Kini, meskipun panggung ketoprak telah kehilangan salah satu bintang terbesarnya, jejak karya dan semangat Yu Beruk akan tetap menjadi inspirasi bagi pelestarian seni tradisi Jawa.







