POPULI.ID – Pengubahan nama berbagai titik lokasi pada platform navigasi digital seperti Google Maps kini menjadi sarana baru bagi publik di Indonesia untuk melontarkan kritik satir.
Fenomena vandalisme digital ini biasanya muncul sebagai respons spontan masyarakat terhadap kebijakan kontroversial maupun situasi politik yang sedang memanas.
Dengan memanfaatkan fitur crowdsource yang menghimpun data langsung dari pengguna, warganet menyulap peta digital menjadi papan aspirasi sekaligus sindiran tajam.
Yang terbaru dan sedang hangat diperbincangkan adalah perubahan nama pada titik lokasi rumah pribadi mantan Presiden Joko Widodo di Kota Solo, Jawa Tengah. Pada Februari 2026, lokasi tersebut mendadak berubah menjadi “Tembok Ratapan Solo”.
Keriuhan ini dipicu oleh sebuah tren di media sosial, di mana sejumlah anak muda mendatangi rumah tersebut, lalu melakukan aksi simbolis menempelkan tangan ke pagar kayu sambil menundukkan kepala.
Aksi yang menyerupai ritual doa ini diduga menjadi alasan di balik penamaan “Tembok Ratapan”. Pihak Google segera bertindak dengan menghapus label tersebut dari sistem pencarian mereka setelah viral.
Jauh sebelum rumah Jokowi jadi sasaran vandalisme digital, nyatanya sejumlah tempat lain di Indonesia juga sempat jadi korban aksi serupa. Berikut daftarnya
1. Pegunungan Muria, Kudus: “Perusak Alam”
Pada pertengahan Januari 2026, lini masa media sosial diramaikan dengan kemunculan label “Perusak Alam Gunung Muria” di sejumlah titik di lereng Pegunungan Muria, Kudus.
Penamaan ini muncul di tengah bencana banjir besar yang merendam setidaknya 25 desa di enam kecamatan di Kudus akibat curah hujan tinggi.
Label satir ini secara eksplisit disematkan pada area yang terdeteksi merupakan lokasi penambangan pasir dan penggundulan hutan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah menilai bahwa banjir tersebut bukan sekadar bencana alam, melainkan akumulasi krisis ekologis akibat alih fungsi lahan dan aktivitas ekstraktif yang masif di kawasan hulu.
Bupati Kudus saat itu, Samani Intakoris, merespons dengan menutup sejumlah tambang ilegal yang tidak berizin.
2. Desa Sukolilo, Pati: “Kampung Maling”
Salah satu kasus vandalisme digital yang cukup menggemparkan terjadi di Desa Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada Juni 2024. Nama wilayah ini di Google Maps mendadak berubah menjadi “Kampung Maling” atau “Kampung Bandit”.
Aksi ini merupakan bentuk “hukuman sosial” dari warganet menyusul peristiwa tragis pengeroyokan yang menewaskan seorang bos rental mobil asal Jakarta bernama Burhanis (52) pada 6 Juni 20204.
Burhanis dan tiga rekannya dikeroyok massa di Desa Sumbersoko, Kecamatan Sukolilo, saat hendak mengambil kembali mobil rental miliknya yang terdeteksi di lokasi tersebut menggunakan GPS. Warga setempat salah mengira mereka sebagai pencuri, yang kemudian berujung pada aksi main hakim sendiri.
3. Gedung Mahkamah Konstitusi: “Mahkamah Keluarga”
Salah satu aksi vandalisme digital paling ikonik terjadi pada Oktober 2023, ketika gedung Mahkamah Konstitusi (MK) di Jalan Medan Merdeka Barat diubah namanya menjadi “Mahkamah Keluarga”.
Penandaan ini bahkan sempat muncul di beberapa titik spesifik, termasuk di pepohonan sekitar area gedung.
Sindiran keras ini muncul menyusul Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang kontroversial terkait syarat usia capres-cawapres.
Putusan tersebut dianggap publik memberikan karpet merah bagi putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, untuk maju sebagai cawapres di usia 36 tahun karena sedang menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Keterlibatan Anwar Usman, Ketua MK saat itu yang juga paman Gibran, dalam memutus perkara tersebut semakin memperkuat narasi “Mahkamah Keluarga” di mata publik.
4. Gedung DPR RI: “Istana Tikus”
Kritik terhadap lembaga legislatif juga merambah ke Google Maps. Pada 2 Juli 2023, titik lokasi Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta, berubah nama menjadi “Istana Tikus”.
Tidak hanya satu titik, berbagai sebutan kasar dan sindiran mengenai buruknya kinerja anggota dewan juga tersemat di area sekitar bangunan tersebut.
Aksi ini merupakan bentuk olok-olok warganet terhadap para wakil rakyat. Meskipun sempat bertahan dan dilihat oleh banyak pengguna, label-label satir tersebut kembali dibersihkan oleh Google dua hari kemudian untuk mengembalikan informasi ke nama aslinya.
5. Rumah Prabowo di Kertanegara: “Istana Presiden Republik Kertanegara”
Jejak satir digital ini sudah terekam sejak Pilpres 2019. Pada Mei 2019, kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, berubah identitasnya menjadi “Istana Presiden Republik Kertanegara” atau “Istana Pleciden Kertanegara”.
Menariknya, perubahan ini tidak hanya terjadi di Google Maps, tetapi juga merembet ke aplikasi lain seperti Waze dan Gojek.
Fenomena ini muncul setelah Prabowo melakukan klaim kemenangan sepihak dalam Pilpres 2019. Di depan rumah tersebut, Prabowo sempat mendeklarasikan kemenangannya sebanyak tiga kali berdasarkan perhitungan real count internal sebesar 62 persen, sebelum KPU merilis hasil resmi.
Di lokasi ini pula sempat viral video para purnawirawan yang memberikan salam hormat “Siap Presiden!” kepada Prabowo, yang kemudian banyak dijadikan bahan candaan oleh warganet.












