YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pasar Sore Ramadan Kauman di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, sudah eksis sejak 1996. Berbeda dengan pasar Ramadan lain yang berada di jalan utama, Pasar Sore Ramadan Kauman digelar di gang sempit selebar 1,5-2 meter di Kampung Kauman.
Pada sore hari setiap bulan Ramadan, gang di tengah Kota Yogyakarta itu berubah menjadi lautan manusia. Para pengunjung tampak semangat berburu hidangan tradisional hingga modern di Pasar Sore Ramadan Kauman.
Bahkan tak sedikit warga yang rela berdesak-desakan untuk membeli hidangan favorit, seperti yang dilakukan Nadia (37). Warga Kota Yogyakarta itu mengaku selalu datang ke Pasar Sore Kampung Ramadan setiap memasuki bulan suci Ramadan.
“Karena suka makanan yang dijual banyak masakan tradisional. Kalau tempat lain kan lebih banyak menjual makanan atau kuliner kekinian yang disukai Gen Z. Jadi kalau di sini makanannya lebih cocok ke lidah saya,” ucap dia kepada Populi.id, Selasa (24/2/2026).
Dari ratusan macam kuliner yang dijajakan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Nadia menyebut favoritnya adalah penganan Kicak. Lantaran, makanan khas Kauman itu hanya bisa ditemui ketika bulan Ramadan.
“Soalnya itu (Kicak) hanya ada saat Ramadan. Jadi kalau hari-hari lain tidak ada, cuma bisa ditemui di sini. Saya suka rasanya manis legit,” ujarnya.
Seorang pedagang sekaligus warga, Gina (68), membenarkan bahwa Kicak adalah makanan khas Kauman yang hanya bisa ditemui ketika bulan Ramadan.
Makanan dengan rasa manis itu dibuat dari bahan ketan yang dimasak bersama kelapa muda, gula pasir, daun pandan hingga kering. Kemudian potongan buah nangka ditambahkan di atasnya saat disajikan.
“Itu makanan khas Kauman, sudah ada sejak saya belum lahir. Saya kurang tahu asal mulanya, soalnya cuman dikasih tahu simbah-simbah bahwa makanan khas Kauman itu kicak. Memang kicak hanya ada saat Ramadan, tradisinya dulu dimakan saat buka puasa. Karena dulu belum banyak yang berbuka pakai kurma,” jelasnya.
Gina menuturkan butuh waktu 1,5 jam untuk memasak kicak. Dia harus memastikan kicak dimasak sampai tanak agar bisa tahan lama.
“Kalau masaknya benar, kicak bisa tahan sampai habis salat tarawih. Kalau saya setiap hari masak 30 buah kicak, soalnya banyak warga yang bikin. Saya jual Rp4.000,” katanya.
Selain kicak, makanan tradisional khas Kauman yang hanya ada saat Ramadan adalah songgo buwono dan jadah manten. Gina menyebut, makanan songgo buwono terbuat dari roti sus yang diisi daging ayam, telur, selada mirip burger. Sedangkan jadah manten terbuat dari ketan berisi daging ayam seperti lemper yang dibalut dadar telur, lalu dijapit menggunakan iratan bambu.
“Katanya itu makanan raja-raja dulu terus dilestarikan masyarakat,” tuturnya.





![Penumpang memasuki kereta api dari stasiun Yogyakarta. [Dok. PT KAI]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/03/pt-KAI-120x86.png)






