YOGYAKARTA, POPULI.ID – Matahari masih tinggi ketika sebuah gang di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, ramai dikunjungi warga. Gang selebar 1,5-2 meter dekat kawasan Nol Kilometer Malioboro itu mendadak jadi lautan manusia pada sore hari setiap bulan suci Ramadan.
Tak terkecuali pada Selasa (24/2/2026). Puluhan meja tertata berbagai jenis makanan dan minuman mengundang selera berjajar rapi di sepanjang jalan gang Pasar Sore Ramadan Kauman. Para pedagang terlihat sibuk melayani pembeli meskipun matahari masih bersinar terang.
Semakin sore, gang kecil di tengah Kota Yogyakarta itu semakin padat didatangi pengunjung. Mereka rela berdesak-desakan memburu kudapan tradisional hingga modern yang dijajakan di Pasar Sore Ramadan Kauman.
Pasar Sore Ramadan Kauman adalah salah satu pasar tiban yang eksis diserbu warga Yogyakarta ketika memasuki bulan suci Ramadan. Pasar Ramadan yang berada di kampung lahirnya organisasi Muhammadiyah itu rupanya sudah berusia 30 tahun.
Ketua RW 10 Kampung Kauman, Muhammad Chawari, mengungkapkan Pasar Sore Ramadan Kauman mulai dikelola RW pada 1 Ramadan 1416 Hijriyah atau 22 Januari 1996. Sebelum dikelola, Pasar Sore Ramadan itu memang dikenal dengan nama pasar tiban lantaran ada sejumlah pedagang dadakan yang berjualan saat ramadan.
“Waktu itu kami masih pengurus RW baru. Saya sekretaris RW dan Pak Iban (Almarhum) sebagai Ketuanya. Kami sore-sore duduk di sana (lokasi pasar tiban) melihat ada Ibu-ibu memasang tenda sendiri. Lalu kami bantu. Setelah itu kami berdiskusi bagaimana kalau Ibu-ibu itu kami koordinir,” ceritanya kepada Populi.id, Selasa (24/2/2026).
Dia mengaku kala itu belum berpikiran bahwa Pasar Sore Ramadan Kauman akan sebesar sekarang. Sebab, awal mengelola Pasar Sore Ramadan Kauman dikatakan hanya ada lima sampai 10 pedagang. Adapun di luar bulan Ramadan, di tempat itu memang sudah ada tiga orang pedagang sayur dan lauk pauk.
“Alhamdulillah sekarang berkembang dan kalau dilihat ada 60 stan pedagang,” ujarnya.
“Kalau dulu lapaknya masih pakai tenda biru dan tiang bambu. Setelah kami kelola terus, akhirnya bisa membikin tenda dan diberi atap seng (galvalum). Untuk sengnya bantuan dari masjid,” tambahnya.
Chawari melanjutkan, puluhan pedagang di Pasar Sore Ramadan Kauman separuhnya berasal dari warga setempat. Sedangkan, sebagian lainnya merupakan warga luar kampung semisal dari Ngampilan, Pakuncen, Sleman, Imogiri, Bantul, dan Jalan Wates.
“Antusias pedagang sangat tinggi, terbukti saat pandemi Covid-19 kami sempat dua tahun libur. Nah itu banyak yang tanya kapan digelar lagi,” katanya.
Menurutnya, Pasar Sore Ramadan Kauman cukup spesial karena beberapa pedagang menjual makanan khas Kauman yang hanya ada saat Ramadan. Di antaranya kicak dan sangga buwana.
“Awalnya memang visi misi kami untuk melestarikan makanan khas Kauman. Ada sekitar 15-20 jenis makanan khas Kauman semisal kicak, sangga buwana, jadah manten, semar mendem, dan nyahlukar. Rata-rata makanan itu hanya ada saat puasa Ramadan, atau pesan dulu,” ujarnya. (populi.id/Dewi Rukmini)




![Penumpang memasuki kereta api dari stasiun Yogyakarta. [Dok. PT KAI]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/03/pt-KAI-120x86.png)







