• Tentang Kami
Saturday, February 28, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Arie Sujito: Indonesia Tengah Hadapi Krisis Berlapis

Arie mengingatkan bahwa liberalisme politik kerap dijadikan satu-satunya panglima tanpa perimbangan lebih jauh. Oleh karena itu, akademisi dan aktivis publik hendaknya tetap bersikap kritis

byredaksi
February 27, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sosiolog UGM, Arie Sujito

Sosiolog UGM, Arie Sujito. [Dok UGM]

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

BERITA MENARIK LAINNYA

6 Catatan Soal Perjanjian Dagang Baru RI-AS: Produk Amerika Bakal Banjiri Pasar Lokal?

Dosen UGM Soroti Tata Kelola dan Komunikasi Kebijakan BPJS Kesehatan Soal Penonaktifan PBI JKN

SLEMAN, POPULI.ID – Indonesia saat ini disinyalir sedang menghadapi krisis berlapis seperti ekonomi, politik, dan demokrasi yang ditandai dengan guncangan kebebasan sipil dan menyempitnya ruang kedaulatan.

Bahkan marginalisasi terasa dalam relasi ekonomi-politik global merupakan akibat dari hegemoni dan dominasi rezim yang menciptakan ketergantungan struktural. Di satu sisi, kedaulatan bangsa menyusut akibat kebijakan yang keliru, sementara di sisi lain kritik masyarakat sipil justru kerap dicurigai sebagai kepentingan asing.

“Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh karena sesungguhnya kita akan bisa menilai dan mendiagnosa tengah berada di level krisis itu,” kata Sosiolog UGM Arie Sujito dalam Orasi Epistemologi bertajuk “Kebebasan Epistemik sebagai Pilar Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” sebagaimana dikutip dari laman UGM, Jumat (27/2/2026).

Arie juga menyoroti kemerosotan ruang publik yang kian dipenuhi pergunjingan dangkal dan wacana tidak bermutu, sementara persoalan fundamental seperti kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM, dan ketimpangan sosial justru terpinggirkan.

Ia menilai kondisi ini sebagai diskursus yang “makin kumuh” dan perlu diinterupsi melalui peran kampus sebagai elemen penting masyarakat sipil.

Lebih lanjut, ia menyerukan perlunya “radical break” atau dekonstruksi radikal terhadap epistemologi gerakan pasca-reformasi. Refleksi ini, menurutnya, bukan untuk meromantisasi masa lalu reformasi 1998, melainkan untuk membaca capaian dan kemerosotan demokrasi yang terjadi selama lebih dari dua dekade.

“Ada kenyataan paradoks gerakan masyarakat sipil dan sisi semakin militan melawan tren otokrasi, tetapi di sisi lain perilaku kekuasaan semakin tebal terhadap kritik publik,” sebutnya.

Arie mengingatkan bahwa liberalisme politik kerap dijadikan satu-satunya panglima tanpa perimbangan lebih jauh. Oleh karena itu, akademisi dan aktivis publik hendaknya tetap bersikap kritis, baik terhadap propaganda imperial global maupun terhadap oligarki nasional yang berpotensi memecah belah persatuan rakyat. Ia menekankan pentingnya melipatgandakan gerakan emansipasi politik rakyat.

Disamping itu, Arie juga menyoroti bahaya ketergantungan internasional yang kian menguat dan mendikte kebijakan nasional.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi teguran keras agar bangsa ini kembali membicarakan secara serius kebebasan, demokrasi, otonomi, dan kedaulatan dalam praktik nyata, bukan sekadar retorika mimbar.

Di akhir orasinya, Arie menegaskan bahwa kebebasan epistemik lahir dari pengetahuan sejarah, membaca sistem kapitalisme dan imperialisme yang terus bermutasi.

Ia menyebutkan sebagaimana cita-cita era Soekarno yang merdeka bukan hanya fisik, tetapi juga pengetahuan. Ia berharap perjuangan bisa mencapai demokrasi substansial yang ditandai oleh kebebasan menyampaikan sesuatu.

“Cara kita menghargai sejarah dan menilai hari ini secara kritis agar generasi yang akan datang tidak menyalahkan karena kegagalan dan tidak tanggung jawabnya generasi hari ini,” katanya penuh harap.

Bagi Arie, kebebasan berpendapat di era sekarang ini bukan sekadar kebebasan akademik formal, melainkan ruang bagi lahirnya subjek yang kreatif, cerdas, dan mandiri.

Pengetahuan bukan hanya akumulasi teori, tetapi hasil tempaan pergulatan hidup yang mengandung nilai dan makna. Dengan kemampuan survival, bangsa akan bisa berdikari membebaskan diri dari paksaan, eksploitasi, dan bentuk penjajahan baru.

Mewakili suara anak muda, Panji Dafa Amrtajaya dari Forum 2045 menyampaikan kemerdekaan epistemik bukan sekadar dikotomi antara pengetahuan Barat dan lokal, melainkan pengakuan terhadap pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup, relasi ekologis, dan praktik komunal.

“Seperti pengalaman petani membaca cuaca, nelayan melihat mata angin, atau komunitas adat menjaga hutan tidak dihitung selain sekadar data,” tuturnya.

Ketua Dewan Guru Besar UGM Baiquni, mengingatkan pentingnya membangun kembali akar budaya keilmuan dan kearifan lokal sebagai pondasi mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Karena jelas dengan digital world akan mengubah banyak pola sistem dan juga kultur yang ada di bangsa kita,” imbuhnya.

Sedangkan Dekan Fakultas Filsafat UGM Rr. Siti Murtiningsih, menambahkan bahwa kemunduran demokrasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari melemahnya kapasitas kritis universitas.

Ia menyoroti kolonialitas baru dalam pendidikan tinggi melalui neoliberalisme kampus, platformisasi pendidikan, serta ekspansi AI yang berpotensi menciptakan ketergantungan epistemik.

Hal tersebut juga disinggung Sekretaris Dewan Guru Besar UGM, Wahyudi Kumorotomo, yang mengingatkan bahwa teknologi digital berpotensi menjadi pengendali wacana.

Manusia dapat dijajah bukan lagi secara fisik, melainkan melalui algoritma dan distribusi informasi.

“Teknologi digital kalau tidak betul-betul kita jadikan sebagai sarana untuk pengetahuan itu bisa menjadi alat mendikte wacana atau pengendali diskursus,” ungkapnya.

Tags: antikritikArie SujitoBaiqunidemokrasiindonesiakrisis berlapisUGMWahyudi Kumorotomo

Related Posts

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menandatangani perjanjian dagang di Washington DC, Kamis, pada 19 Februari 2026.

6 Catatan Soal Perjanjian Dagang Baru RI-AS: Produk Amerika Bakal Banjiri Pasar Lokal?

February 21, 2026
BPJS Kesehatan. (Dok. BPJS Kesehatan)

Dosen UGM Soroti Tata Kelola dan Komunikasi Kebijakan BPJS Kesehatan Soal Penonaktifan PBI JKN

February 19, 2026
Ilustrasi kesehatan mental

Kasus Bunuh Diri Anak Melonjak, Prof Koentjoro: Dampak Perubahan Sosial Akibat Media Sosial

February 16, 2026
Ilustrasi ojol atau ojek online

Jutaan Ojol Hidup Sulit, Akademisi UGM Desak Regulasi yang Jelas Soal Upah hingga Jamsos

February 13, 2026
Mahfud MD menyoroti soal anjloknya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia.

Soroti Indeks Korupsi Indonesia Anjlok, Mahfud MD: Kalau Hukum Dimain-mainkan Negara Terancam

February 11, 2026
Ilustrasi disabilitas

Mayoritas Kampus di Indonesia Urung Ramah Disabilitas

February 10, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.