• Tentang Kami
Thursday, July 16, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Arie Sujito: Indonesia Tengah Hadapi Krisis Berlapis

Arie mengingatkan bahwa liberalisme politik kerap dijadikan satu-satunya panglima tanpa perimbangan lebih jauh. Oleh karena itu, akademisi dan aktivis publik hendaknya tetap bersikap kritis

byredaksi
February 27, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sosiolog UGM, Arie Sujito

Sosiolog UGM, Arie Sujito. [Dok UGM]

0
SHARES
17
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

BERITA MENARIK LAINNYA

Kerusakan Lingkungan di Indonesia Kian Parah, Arqom: Akibat Manusia Serakah

Refleksi Peristiwa Kudatuli dalam Seni dan Demokrasi yang Hari Ini Diretas

SLEMAN, POPULI.ID – Indonesia saat ini disinyalir sedang menghadapi krisis berlapis seperti ekonomi, politik, dan demokrasi yang ditandai dengan guncangan kebebasan sipil dan menyempitnya ruang kedaulatan.

Bahkan marginalisasi terasa dalam relasi ekonomi-politik global merupakan akibat dari hegemoni dan dominasi rezim yang menciptakan ketergantungan struktural. Di satu sisi, kedaulatan bangsa menyusut akibat kebijakan yang keliru, sementara di sisi lain kritik masyarakat sipil justru kerap dicurigai sebagai kepentingan asing.

“Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh karena sesungguhnya kita akan bisa menilai dan mendiagnosa tengah berada di level krisis itu,” kata Sosiolog UGM Arie Sujito dalam Orasi Epistemologi bertajuk “Kebebasan Epistemik sebagai Pilar Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” sebagaimana dikutip dari laman UGM, Jumat (27/2/2026).

Arie juga menyoroti kemerosotan ruang publik yang kian dipenuhi pergunjingan dangkal dan wacana tidak bermutu, sementara persoalan fundamental seperti kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM, dan ketimpangan sosial justru terpinggirkan.

Ia menilai kondisi ini sebagai diskursus yang “makin kumuh” dan perlu diinterupsi melalui peran kampus sebagai elemen penting masyarakat sipil.

Lebih lanjut, ia menyerukan perlunya “radical break” atau dekonstruksi radikal terhadap epistemologi gerakan pasca-reformasi. Refleksi ini, menurutnya, bukan untuk meromantisasi masa lalu reformasi 1998, melainkan untuk membaca capaian dan kemerosotan demokrasi yang terjadi selama lebih dari dua dekade.

“Ada kenyataan paradoks gerakan masyarakat sipil dan sisi semakin militan melawan tren otokrasi, tetapi di sisi lain perilaku kekuasaan semakin tebal terhadap kritik publik,” sebutnya.

Arie mengingatkan bahwa liberalisme politik kerap dijadikan satu-satunya panglima tanpa perimbangan lebih jauh. Oleh karena itu, akademisi dan aktivis publik hendaknya tetap bersikap kritis, baik terhadap propaganda imperial global maupun terhadap oligarki nasional yang berpotensi memecah belah persatuan rakyat. Ia menekankan pentingnya melipatgandakan gerakan emansipasi politik rakyat.

Disamping itu, Arie juga menyoroti bahaya ketergantungan internasional yang kian menguat dan mendikte kebijakan nasional.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi teguran keras agar bangsa ini kembali membicarakan secara serius kebebasan, demokrasi, otonomi, dan kedaulatan dalam praktik nyata, bukan sekadar retorika mimbar.

Di akhir orasinya, Arie menegaskan bahwa kebebasan epistemik lahir dari pengetahuan sejarah, membaca sistem kapitalisme dan imperialisme yang terus bermutasi.

Ia menyebutkan sebagaimana cita-cita era Soekarno yang merdeka bukan hanya fisik, tetapi juga pengetahuan. Ia berharap perjuangan bisa mencapai demokrasi substansial yang ditandai oleh kebebasan menyampaikan sesuatu.

“Cara kita menghargai sejarah dan menilai hari ini secara kritis agar generasi yang akan datang tidak menyalahkan karena kegagalan dan tidak tanggung jawabnya generasi hari ini,” katanya penuh harap.

Bagi Arie, kebebasan berpendapat di era sekarang ini bukan sekadar kebebasan akademik formal, melainkan ruang bagi lahirnya subjek yang kreatif, cerdas, dan mandiri.

Pengetahuan bukan hanya akumulasi teori, tetapi hasil tempaan pergulatan hidup yang mengandung nilai dan makna. Dengan kemampuan survival, bangsa akan bisa berdikari membebaskan diri dari paksaan, eksploitasi, dan bentuk penjajahan baru.

Mewakili suara anak muda, Panji Dafa Amrtajaya dari Forum 2045 menyampaikan kemerdekaan epistemik bukan sekadar dikotomi antara pengetahuan Barat dan lokal, melainkan pengakuan terhadap pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup, relasi ekologis, dan praktik komunal.

“Seperti pengalaman petani membaca cuaca, nelayan melihat mata angin, atau komunitas adat menjaga hutan tidak dihitung selain sekadar data,” tuturnya.

Ketua Dewan Guru Besar UGM Baiquni, mengingatkan pentingnya membangun kembali akar budaya keilmuan dan kearifan lokal sebagai pondasi mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Karena jelas dengan digital world akan mengubah banyak pola sistem dan juga kultur yang ada di bangsa kita,” imbuhnya.

Sedangkan Dekan Fakultas Filsafat UGM Rr. Siti Murtiningsih, menambahkan bahwa kemunduran demokrasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari melemahnya kapasitas kritis universitas.

Ia menyoroti kolonialitas baru dalam pendidikan tinggi melalui neoliberalisme kampus, platformisasi pendidikan, serta ekspansi AI yang berpotensi menciptakan ketergantungan epistemik.

Hal tersebut juga disinggung Sekretaris Dewan Guru Besar UGM, Wahyudi Kumorotomo, yang mengingatkan bahwa teknologi digital berpotensi menjadi pengendali wacana.

Manusia dapat dijajah bukan lagi secara fisik, melainkan melalui algoritma dan distribusi informasi.

“Teknologi digital kalau tidak betul-betul kita jadikan sebagai sarana untuk pengetahuan itu bisa menjadi alat mendikte wacana atau pengendali diskursus,” ungkapnya.

Tags: antikritikArie SujitoBaiqunidemokrasiindonesiakrisis berlapisUGMWahyudi Kumorotomo

Related Posts

Ilustrasi kerusakan lingkungan

Kerusakan Lingkungan di Indonesia Kian Parah, Arqom: Akibat Manusia Serakah

July 12, 2026
Seniman Arahmaiani menunjukkan karya kritiknya terhadap demokrasi di era Orde Baru dalam forum diskusi Refleksi Peristiwa Kudatuli bertajuk Seni dan Demokrasi bersama filsuf ST Sunardi (baju putih) serta sejarawan Hilmar Farid (pojok kanan) di Temulawak, Sleman, Kamis (9/7/2026)

Refleksi Peristiwa Kudatuli dalam Seni dan Demokrasi yang Hari Ini Diretas

July 9, 2026
Ilustrasi melakukan banyak pekerjaan, kerja sampingan

Mencuat Tren Polyworking, Siasat Bertahan Hidup Zaman Now

July 8, 2026
Sejumlah tokoh yang hadir dalam forum Nusantara Young Leaders dikepung oleh ribuan mahasiswa di gerbang kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (15/6/2026).

Ribuan Mahasiswa Hadang Sejumlah Menteri di Forum Nusantara Young Leaders UGM

June 16, 2026
Tim Gagana Brimob Polda DIY melakukam identifikasi di lokasi kebakaran berulang di Padukuhan Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, DIY, Sabtu (30/4/2026). (Instagram/@merapi_uncover)

UGM Telusuri Dugaan Retakan Tanah Pemicu Munculnya Api Misterius di Rumah Warga Seyegan

June 9, 2026
Ilustrasi pendidikan tinggi.

Kritik Penutupan Prodi yang Dianggap Tak Relevan dengan Industri, Ekonom UGM: Kebijakan Rabun Jauh

June 6, 2026
Next Post
Kapolresta Sleman Kombes Pol Edy Setianto Erning Wibowo (tengah) saat memberikan keterangan kepada awak media terkait proses disposal mortir di Cangkringan, Sleman, Senin (11/8/2025).

Eks Kapolresta Sleman Disanksi Demosi Buntut Kasus Hogi Minaya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

February 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

May 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.